
Gara-gara kejadian semalam, pagi ini mata Nathan malah semakin sering curi-curi pandang ke arah Sukma. Gadis itu kembali seperti biasa, lebih suka menatap ke bawah dibandingkan memperlihatkan wajah dan kecantikannya.
"Nathan, selesai ini kamu mau ke mana? Ikut Papa ke tempat main buku tangkis aja, yuk!" ajak Hisyam. Ini hari libur, dan Hisyam di hari libur seperti ini kadang menyempatkan diri untuk berolahraga, seperti bersepeda, bulu tangkis, atau terkadang main golf bersama beberapa kenalannya.
"Nggak. Nathan mau main sama Daniel-Neo. Udah janjian soalnya." Seperti biasa, Nathan tidak tertarik ikut dengan sang Papa. Karena dia terlalu malas masuk di lingkaran bapak-bapak yang candaanya terasa garing di telinga. Sudahlah, Nathan memang durhaka.
"Kalian itu, main mulu tiap libur. Nggak bisa apa, diam aja di rumah?" omel Fifi. Nathan dan Hisyam sontak saling pandang dan melemparkan senyuman kecil.
"Kan kita mainnya Sabtu, Ma, Minggu diam di rumah," ujar Hisyam membela diri.
"Udahlah, terserah kalian aja. Buruan makan, terus segera pergi dari sini."
Hisyam terkekeh pelan, sementara Nathan meringis. Hisyam yakin istrinya pasti akan datang bulan kalau sudah sensi begini. Jangan tanya dari mana dia tahu. Dia sudah hidup bersama Fifi puluhan tahun, jadi jangan heran dia tahu kebiasaan Fifi saat menjelang datang bulan.
"Udah. Papa nggak jadi pergi," ujar Hisyam menenangkan.
__ADS_1
"Kamu?" Mata Fifi tertuju pada Nathan.
Nathan menghembuskan napas pasrah. "Iya, Nathan juga nggak jadi pergi."
"Bagus. Ini baru suami sama anak yang berbakti," puji Fifi dengan wajah sumringah.
"Tapi Ma, bosan tahu hanya diam aja di rumah," keluh Nathan.
"Siapa bilang kita bakal diam aja?" ucapan Fifi sontak membuat Nathan dan Hisyam menatapnya penuh tanya.
"Hari ini kita piknik."
"Iya. Di belakang rumah aja, terus bawa makanan yang banyak. Tadi, Mama sempat minta tolong ke bibi untuk dimasakin banyak."
Di belakang rumah mereka memang terdapat taman dan juga danau di sana. Tempat tersebut terasa bersih dan juga teduh. Hanya saja, sudah sangat lama mereka tidak menghabiskan waktu di sana. Kalau tidak salah, terkahir kali itu saat Nathan masih kelas 1 SMP. Namun, meski begitu tempat tersebut tetap bersih, karena setiap tiga hari sekali akan dibersihkan oleh tukang kebun keluarga Hisyam.
__ADS_1
"Sukma sepertinya butuh udara yang segar. Di rumah ini sumpek, nggak ke mana-mana. Siapa tahu aja di sana bisa membantu Sukma rileks."
Ah, kini Nathan dan Hisyam mengerti maksud Fifi mengadakan piknik mendadak ini. Baiklah, tidak ada yang bisa membantah titah Ratu.
"Oke. Papa setuju dengan Mama. Sukma memang sesekali harus dibawa menghirup udara segar. Menyatu dengan alam itu bisa membuat orang untuk rileksasi."
Dan kini, di sinilah mereka berada. Duduk di atas tembikar yang dialas di bawah sebuah pohon rindang. Di hadapan mereka terdapat danau yang airnya berwarna jernih dan bercampur kehijauan.
"Sayang, coba angkat kepalamu. Lihat, pemandangan di sini bagus, loh." Nathan yang mendengar ucapan Mamanya sontak menatap ke arah Sukma yang tengah duduk di samping wanita itu.
Sukma yang mengenakan dress selutut berwarna kuning, dan topi berwarna putih, membuat kulit wanita itu yang seputih susu terlihat semakin bercahaya. Astaga, ini sudah ke berapa kalinya Nathan memuji Sukma?
"Ayo, di sini nggak ada siapa-siapa selain kita. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Rileks ya, sayang. Sedikit demi sedikit, ayo, angkat kepalanya." Nathan memperhatikan bagaimana sang Mama membujuk Sukma. Perlahan, gadis itu mulai mengangkat kepalanya. Dan...lagi-lagi Nathan terpana. Wajah itu meski masih terlihat pucat, namun kecantikan gadis itu tetap membuat Nathan menelan saliva. Ah, bibir itu kini telah berwarna pink, tak sepucat seperti semalam. Nathan yakin, Mamanya tadi mungkin sedikit mendandani Sukma.
"Sukma mau nyanyi?" tanya Fifi. Sukma menatap polos ke arah wanita itu, dan menggeleng pelan sebagai respon.
__ADS_1
Fifi mengangguk dan tersenyum, semoga usahanya ini semakin membuat kemajuan di diri Sukma. Dia tak sabar, menantikan di mana Sukma telah menjadi Sukma yang baru. Bukan lagi Sukma yang suka menunduk menyembunyikan wajahnya, namun menjadi gadis percaya diri yang menampakkan wajah bahagia.
Sementara Nathan, pria itu masih asik menatap sang adik angkat. Tanpa menyadari kalau sedari tadi Hisyam tengah memperhatikannya dengan senyuman kecil. Merasa lucu dengan sang anak yang terlihat tak bisa menyembunyikan wajah terpukau akan kecantikan Sukma. Sembari menggeleng pelan, Hisyam kembali fokus memperhatikan Fifi yang sedang bercengkrama dengan Sukma.