
"Yakin, Nat, nggak mau nyusul?" Neo berujar menggoda Nathan saat ponsel pria itu berdenting, pesan dari Aluna yang mengirimkan alamat rumah sakit yang ditempati Laras.
Nathan mendengus pelan. "Kalau kamu mau, kamu aja gih, sana!"
"Ah, benar tuh Nat. Ingat kan, dulu Neo pernah muji kalau Laras itu cantik. Tau aja dia diam-diam pengen dekatin Laras, cuma nggak enak ke kamu," ujar Daniel menimpali. Neo memukulkan bantal sofa ke kepala Daniel.
"Sejak kapan aku muji dia? Orang dari dulu mukanya udah kelihatan buram di mataku." Daniel berujar kesal. Sementara Nathan hanya menatap malas dua sahabatnya itu, yang tiap waktu pasti ada saja hal-hal yang mereka ributkan.
Nathan beranjak dari sofa, menaiki anak tangga menuju kamar Sukma. Dia harus mulai menjalankan permintaan Dokter Sandra, meskipun sebenarnya dia keberatan mendekatkan adiknya pada dua sahabatnya itu.
"Sukma lagi ngapain, Ma?" tanya Nathan saat melihat Fifi yang beru saja keluar dari kamar Sukma.
"Oh, dia cuma lagi baca aja," jawab Fifi. "Kenapa?"
"Ada Daniel sama Neo di bawah. Seperti yang disarankan Tante Sandra, aku bakal sering ngajak mereka ke sini, biar Sukma mulai terbiasa sama kehadiran orang lain di sekitarnya," jelas Nathan.
__ADS_1
Fifi mengangguk mengerti. "Ya udah, kamu temuin dia, gih! Ajak dia dengan lembut."
Nathan mendengus mendengar kalimat terakhir sang Mama. Memangnya sejak kapan dia berlaku kasar ke Sukma?
Sukma yang mendengar pintu kamarnya dibuka dari luar, menghentikan bacaannya. Dia berpikir Fifi yang datang, alisnya bertaut saat melihat keberadaan Nathan di dekat pintu kamarnya tersebut.
"Abang?!" gumamnya pelan.
Nathan berjalan mendekat, sementara Sukma sudah meletakkan buku yang sedang ia baca ke atas meja.
Sukma terdiam, berpikir karena baru kali ini Nathan berbicara panjang lebar padanya. Dengan pelan, gadis itu turun dari atas ranjang.
Nathan sontak melotot saat melihat Sukma yang hanya memakai gaun rumahan yang panjangnya hanya selutut berwarna kuning cerah. Dengan rambut tergerai dan kulitnya yang putih, Sukma seolah menjelma menjadi malaikat di matanya.
Nathan menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri. Astaga, apa yang tengah dia pikirkan? Malaikat? Tapi...wajah itu memang terlihat polos dan bersinar. Tak salah Nathan menganggapnya seperti malaikat, bukan?
__ADS_1
Sukma terlalu bersinar, dan Nathan tak akan ikhlas jika Neo dan Daniel melihatnya seperti itu. Bisa-bisa dua temannya itu akan mendekati adiknya. Seperti yang dia katakan sebelum ini, dia tak sudi punya adik ipar macam dua orang berotak miring itu.
"Ganti dulu bajunya, baru turun. Abang tunggu di depan!" ujarnya memerintah. "Pakai yang melewati lutut kamu." Setelah itu, dia melangkah keluar dari sana.
Sukma yang kebingungan mencerna ucapan sang abang menatap penampilannya sendiri. Dia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal akibat ucapan Nathan. Perasaan pakaiannya tidak ada yang salah. Lagian, meskipun di atas lutut, ini tidak terlalu pendek.
"CEPAT!" Nathan terdengar berteriak dari luar. Sukma segera menuju lemari pakaian, mencari pakaian yang ia rasa cocok untuk dikenakan.
Akhirnya, Sukma memilih setelan berlengan pendek, dengan celana yang panjangnya di bawah lutut--seperti yang dititahkan Nathan tadi.
_____________________________
Jangan lupa dukungannya, ya.
Like, komen, dan kalau kalian berkenan share cerita ini ke orang-orang terdekat kalian biar pembacanya makin ramai🙏
__ADS_1