
Nathan memandang Sukma yang tengah tertawa bersama Fifi. Duan wanita itu tengah menonton salah satu acara lawakan di stasiun TV. Menertawakan kekocakan yang ditampilkan para pemainnya, juga kalimat-kalimat mengocok perut yang mereka lontarkan.
Tak terasa, pencarian mereka akan sumber kesakitan Sukma dulu kini telah berakhir. Tinggal menunggu sidang saja. Meski begitu, mereka sudah merasa tenang. Sebab, Hans Arganta jelas akan kalah telak karena bukti kuat yang mereka pegang. Oknum Polisi yang bekerja sama dengan Hans Arganta dalam memfitnah Riana tentang kasus narkoba itu juga ikut terseret. Dari penyelidikan yang mereka lakukan setelah kejujuran Seno tempo hari, ternyata oknum polisi tersebut salah satu anak dari teman Hans Arganta. Dia juga mengincar Ayas, itu sebabnya dia mengikuti permintaan Hans untuk mengambil hati. Sayangnya, karir yang ia bangun tersebut sebentar lagi akan hancur sebab terseret ikut terseret ke dalam kasus.
Tiada terkira rasa syukur dan bahagia yang dirasakan oleh Nathan dan Hisyam. Fifi belum mengetahui kabar tersebut, atau mungkin sudah mengetahuinya lewat TV atau lewat ponselnya. Nathan dan Hisyam baru pulang dari kantor Hisyam. Menyusun rencana selanjutnya di sana. Melakukan pertemuan dengan pengacara, juga merundingkan bagaimana Siska dan Seno ke depannya.
Dua anak itu sebenarnya patut dihukum. Namun, Hisyam sadar kalau masa depan mereka masih panjang. Meski begitu, Hisyam akan mencari cara agar keduanya bisa jera dan bisa mengambil pelajaran dari perbuatan buruk mereka itu.
Siska dan Seno kini sedang dalam perlindungan Hisyam. Dia menyembunyikan dua anak itu, namun tentu saja menghubungi keluarganya terlebih dahulu agar mereka tak curiga. Sebenarnya, kasus hilangnya Siska itu memang disengaja. Berita mereka rekayasa seolah Siska memang tak diketahui keberadaannya oleh keluarganya. Begitu pula dengan Seno. Namun, ternyata Hisyam diam-diam mengabarkan pada keluarganya kalau dua anak itu baik-baik saja. Hisyam menjanjikan keselamatan mereka, karena bisa lebih bahaya jika mereka dibiarkan di luar. Hans bisa kapan saja melayangkan ancaman lagi pada keduanya seperti sebelum ini.
Selesai menonton, Hans mengajak Fifi ke kamar. Pria itu ingin membicarakan hal penting pada Fifi. Sementara Nathan dan Sukma, mereka tengah berada di dapur karena Nathan yang mengeluh lapar dan minta dimasakkan nasi goreng pada Sukma.
"Abang mau pakai bumbu raciknya aja atau mau ditambahin rempah lagi?" tanya Sukma.
Nathan yang tengah menyendok nasi dari rice cooker ke piring, menoleh. "Tambahin rempah-rempahnya lagi. Request yang agak pedas ya, Dek!"
Sukma mengangguk. Gadis itu mulai mengambil rempah apa saja yang ia butuhkan. Mulai dari bawang merah, cabai, bawang putih, dan tak lupa sepotong jahe yang berukuran sangat kecil. Itulah kenapa Nathan sangat suka memakan nasi goreng buatan Sukma. Entah bagaimana bisa, nasi goreng ala gadis itu terasa berbeda rasanya. Pas, dan enak.
"Kita bikin nasi goreng udang aja ya, Bang!"
"Iya. Udangnya udah bersih, belum?" tanya Nathan sembari mendekat ke arah Sukma yang tengah mengiris bawang.
__ADS_1
Sukma menggeleng. "Belum."
Nathan pergi ke arah kulkas. Membukanya, dan mengambil beberapa buah udang. Pria itu membawanya ke arah wastafel untuk dibersihkan. Sementara, Sukma kini tengah mengulek rempah-rempah tersebut menggunakan ulekan yang terbuat dari batu.
"Kenapa nggak pakai blender atau coper aja?" tanya Nathan bingung. Padahal, zaman sekarang buat apa-apa sudah mudah. Teknologi sudah sangat maju, bahkan untuk menghaluskan rempah pun tak perlu capek-capek menggunakan tenaga. Cukup modal listrik aja, biar mesin yang bekerja.
"Kalau diulek kaya gini, aroma rempahnya lebih terasa. Kalau pakai bendera atau coper, menurut aku rasanya sedikit berbeda. Tapi ini menurut lidahku ya, Bang! Nggak tau kalau orang lain." Sambil mengulek, Sukma memberikan penjelasan.
"Oh, gitu." Nathan mengangguk mengerti. Setelah membersihkan udang tersebut, Sukma memintanya untuk memotong-motong udang tersebut dengan ukuran yang tidak terlalu sedang dan tidak terlalu kecil. Sementara dia tengah mengiris tipis bawang merah, dan juga sepotong kecil bawang putih. Setelah semuanya selesai, kini Sukmalah yang mengeksekusi.
Nathan memperhatikan Sukma yang terlihat sangat lihai. Awalnya, gadis itu memanaskan minyak terlebih dahulu. Setelah panas, dia menjatuhkan bawang putih dan bawang merah yang sudah diiris tadi. Menggorengnya hingga berwarna sedikit kecokelatan. Kemudian dia memasukkan rempah yang sudah diulek tadi. Menambahkan bumbu racik, saos dan kecap. Setelah tercampur rata, kini Sukma memasukkan udang yang sudah dipotong-potong oleh Nathan tadi ke dalam wajan. Tak lupa, Sukma menambahkan sedikit air agar udangnya matang dengan baik.
Beberapa menit setelah udangnya sudah matang, kini giliran nasi yang dituang ke dalam wajan tersebut. "Sini, biar Abang aja yang ngaduk. Kamu duduk aja, udah capek, kan?"
Sukma tersenyum membalasnya. "Itu resep yang diajarin Ayah." Nathan terdiam sejenak. Pasti Sukma tiba-tiba teringat pada ayahnya itu.
"Aduknya yang lama, ya, Bang! Biar nasinya matang dengan baik."
Nathan menoleh. "Maksudnya? Kan nasinya memang udah masak."
"Iya. Tapi kan udah kena rempah-rempah. Kalau diaduk lama, rempahnya akan meresap ke nasi. Terus mengering. Kalau nggak terlalu lama, nanti tekstur nasi gorengnya agak lengket."
__ADS_1
Nathan membulatkan mulutnya tanda mengerti. "Oh, ya, Dek. Ngomong-ngomong, kita ziarah ke makam Ayah kamu yuk, kapan-kapan!"
Sukma terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Iya. Udah lama juga aku nggak berkunjung.
"Kayanya itu udah masak, deh, Bang!" Sukma berjalan mendekati Nathan. Mengambil spatula yang dipegang pria itu, dan menyendok sedikit nasi goreng ke tangannya untuk ia cicipi rasanya.
Nathan yang melihat itu langsung mencegah, meski kalah cepat. "Awas, panas!" ujar Nathan khawatir.
"Hati-hati, Dek! Itu panas, loh!" tegur Nathan kemudian. Sukma menatap pria itu dengan cengiran.
"Eh, rasanya udah pas, Bang. Nasinya udah matang juga."
Nathan kemudian mematikan kompor. Sementara Sukma beralih mengambil piring untuk mereka makan.
"Sini, biar Abang yang nata di piring." Sukma menurut, membiarkan Nathan memindahkan nasi goreng tersebut ke dalam piring. Dua anak manusia itu kemudian duduk saling berhadapan di meja makan.
"Enak banget, Dek!" Nathan tak pernah bosan memuji masakan buatan Sukma. Meski tak ada hiasan apapun di nasi goreng tersebut layaknya di Restoran bintang lima, tapi Nathan berani menjamin masakan Sukma melebihi enaknya masakan yang pernah ia rasakan sebelumnya. Termasuk masakan mamanya masih kalah dikit dengan masakan Sukma.
Selesai makan, Nathan mencegah Sukma yang akan mencuci piring. "Biar aja. Ini udah malam, nanti masuk angin kalau kebanyakan main air."
Sukma menggeleng pelan. "Cuma dikit ini, Bang!"
__ADS_1
Nathan tetap menggeleng. "Besok pasti Bibi bersihin, kok." Sukma mendengus. Meski begitu, dia tetap menurut.