Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Terlambat Menyadari


__ADS_3

Nathan dan Laras saling berpandangan lama. Laras tersadar saat sang mama menyentuh lengannya. "Teman kamu?" tanya Dewi.


Laras mengangguk kaku. Sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Nathan. Beberapa bulan ini Nathan jarang terlihat. Laras beberapa kali mengunjungi kelas Nathan, namun pria itu sudah tidak di sana ketika kelas selesai. Dia begitu cepat melesat pulang, tidak seperti biasanya masih memperlambat gerakan bersama Neo dan Daniel. Pernah juga dia menelfon Nathan beberapa kali. Namun, pria itu tak menggubris panggilannya.


Kini, di hadapan Laras berdiri Nathan. Namun, gadis yang menabraknya tadi membuat Laras salah fokus. Nathan datang mendekati gadis itu dan menanyakan keadaannya. Itu berarti, gadis itu bersama Nathan? Apa itu pacar barunya?


"Kamu nggak apa-apa?" Nathan mengalihkan tatapan pada Sukma. Pria itu kembali bertanya penuh kekhawatiran, dan itu tak lepas dari pandangan Laras.


"Nggak kok, Bang. Tadi aku nggak sengaja nabrak Mbak ini." Sukma berujar menenangkan. Kemudian dia menatap Laras. "Sekali lagi maaf ya, Mbak."


Laras tak menjawab. Dia masih fokus pada Nathan. Sampai Dewi kembali menyenggol lengannya. Dewi memberi isyarat pada Laras lewat mata, saat gadis itu menatapnya.


"Eh, iya. Nggak apa-apa, kok!"


"Oh ya, Mbak kenal Bang Nathan, ya? Wah!"


Laras kembali mengangguk dengan senyum dipaksakan. "Kenalin, Mbak. Aku-"


"Permisi!" Seorang pelayan menginterupsi percakapan mereka. Keempat orang tersebut baru sadar, kalau posisi mereka menghalangi jalan orang lain.


Nathan menarik Sukma mendekat padanya. "Ayo, ke tempat duduk kita. Kasian, orang lewat kehalang sama kita." Nathan menarik tangan Sukma. Dia mengangguk sejenak ke arah Dewi. Sementara Sukma mengembuskan napas kasar. "Padahal aku mau kenalan sama teman Abang tadi, tau!" ujar gadis itu penuh kekesalan saat mereka sampai di meja tempat mereka tadi.


"Dia bukan teman Abang," jawab Nathan datar.


Sukma menatap Nathan dengan alis terangkat sebelah. Menggoda pria itu. "Terus? Jangan-jangan, cewek yang Abang suka, ya?" tebak Sukma asal-asalan.


"Bukan juga!" balas Nathan lagi. "Udah, ah! Mending makan."


Sukma mengangguk saja. Makanan mereka memang sudah sampai. Jadi, alasan itu yang dipakai Nathan agar Sukma tidak banyak bertanya.

__ADS_1


Sementara Laras di tempat duduknya, berkali-kali mencuri pandang ke arah Nathan dan Sukma. Jarak tempat duduk mereka memang tidak begitu jauh.


"Itu benaran teman kamu, Sayang?" tanya Dewi.


"Eh. I-iya, Ma. Itu teman Laras," jawab Laras terbata.


"Itu pacarnya?" tanya Dewi lagi. Laras mengangkat bahunya. Gadis itu kemudian tertunduk lemas. "Ayas nggak tahu."


Dewi memperhatikan sang anak yang tiba-tiba terlihat murung. Apa jangan-jangan, pria itu disukai oleh Ayas?


Gadis yang bersama temannya Ayas itu, Dewi entah kenapa merasa tidak asing. Tapi Dewi sedikit bingung, apa mereka pernah bertemu?


***


Nathan mengendarai mobil dalam diam, membuat Sukma sedikit heran. Nathan bertingkah aneh sejak di restoran tadi. Dia melarang Sukma melihat ke arah wanita yang tidak sengaja ia tabrak itu, entah apa alasannya.


Sesampainya di rumah, Nathan menyuruh Sukma untuk masuk ke kamar. sementara pria itu duduk di sofa ruang keluarga sembari menyalakan TV. Sukma juga tidak menemukan keberadaan Fifi, membuat gadis itu semakin curiga. Namun, ia memilih menurut saja.


Fifi pulang setengah jam setelah Nathan dan Sukma sampai. Wanita itu mendapati sang anak yang tengah bersandar di sofa.


"Adik kamu mana, Bang?" tanya Fifi.


"Di kamar."


"Kalian udah makan?"


Nathan mengangguk. "Tadi makan di luar." Hisyam menyusul di belakang Fifi.


"Loh! Adik kamu mana?" tanya pria paruh baya itu.

__ADS_1


Nathan kembali menjawab, "di kamar. Lagi mandi, mungkin."


Nathan meluruskan duduknya. "Ma, Pa, tadi Nathan bawa Sukma ke restoran. Terus, kita ketemu istrinya Pak Hans Arganta."


Fifi dan Hisyam sontak terkejut mendengar ucapan Nathan. "Ternyata anaknya Pak Hans salah satu teman kampus Nathan!"


"Astaga! Dunia sesempit ini, ternyata!" gumam Fifi. "Terus? Dia lihat Sukma nggak?"


"Lihat. Tapi pasti nggak ngenalin." Mereka bukan tidak ingin mempertemukan Sukma dengan Dewi. Akan tetapi, gadis itu sendiri yang tidak mau bertemu dengan ibu kandungnya.


"Tapi dia beberapa kali lirik-lirik ke tempat duduk kami. Aku yakin, pasti dia sedang berusaha mengenali Sukma."


Fifi dan Hisyam hanya mampu menghela napas pelan. Walau bagaimana pun, mereka tak bisa memaksa Sukma jika memang gadis itu tidak mau berdamai dengan ibunya. Fifi sudah pernah membujuk, Namun, Sukma tetap tidak mau melakukannya. Luka yang diberikan Dewi terlalu besar, menimbulkan trauma. Sukma tidak ingin kembali merasakan itu.


"Mobil yang selalu ngawasin rumah kita itu, Papa baru tahu dari Sapto, ternyata itu orang suruhan Dewi untuk memata-matai Sukma."


Fifi dan Nathan terkejut. Semenjak sidang selesai, memang mereka beberapa kali mendapati mobil yang sama terparkir di dekat kediaman mereka. Mobil itu akan berada di sana lumayan lama. Kemudian beberapa minggu lalu, berganti mobil lagi. Mereka berpikir itu orang yang sama.


"Mungkin dia penasaran bagaimana anaknya." Fifi berujar sendu.


"Aku seorang Ibu. Aku paham bagaimana perasaan ibunya Sukma. Tapi, mengingat kesalahan yang dia lakukan juga, siapa pun pasti akan geram. Menyesali sudah terlambat, nyatanya sekarang anaknya malah benci sama dia."


"Sukma anak yang baik. Papa yakin, suatu saat hatinya akan tergerak memaafkan kesalahan ibunya." Hisyam menghibur.


Di sisi lain, Dewi tengah menghapus make up yang ia kenakan. Di rumah, wanita itu memang memilih tidak menggunakan riasan apa pun. Menatap wajahnya dalam cermin, tiba-tiba Dewi terdiam. Ia menyadari sesuatu. Gadis di restoran tadi, kenapa ada kemiripan dengannya? Apa karena itu, dia merasa tidak asing dengan gadis tersebut?


Dewi tidak melanjutkan kegiatannya. Dia menuju kamar Ayas dengan terburu-buru. Ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Matanya berkaca-kaca, berharap kalau yang ada di pikirannya adalah kebenaran. Namun, belum sempat mengetuk pintu kamar Ayas, suara isakan dari dalam kamar tersebut membuat Dewi menghentikan langkah. Ayas, tengah menangis.


Dewi memutuskan untuk berdiam diri di luar kamar. menempelkan telinganya ke.lintu, berusaha mendengarkan semua keluh kesah Ayas tanpa gadis itu sadari. Akan tetapi, tidak ada kalimat apapun yang terdengar. Hanya sekedar isakan saja yang gadis itu keluarkan dari bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2