Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Bicara


__ADS_3

"Mama mau ke mana?" tanya Laras saat bertemu dengan mamanya di teras rumah.


"Eh? Mama ada janji sama teman. Iya, sama teman." Laras menatap curiga. Dia yakin, ada yang tengah disembunyikan oleh mamanya.


Laras memilih mengangguk. Dia membiarkan Dewi menuju mobil dan menjalankan mobil tersebut keluar dari kediaman mereka. Setelah itu, Laras juga buru-buru memasuki mobilnya. Dia bermaksud mengikuti mobil sang mama dari belakang.


Laras menautkan alisnya. Dia tidak pernah tahu kalau sebelum ini Dewi pernah ke sini. Circle pertemanan mamanya itu rata-rata ia kenal semua. Rumah mereka juga setahu Laras tidak ada di jalan ini.


Mobil Dewi terlihat menepi di dekat jalan yang di sampingnya terdapat pohon yang lumayan rindang. Laras mengambil jarak aman dari mobil sang mama.


"Mama mau ngapain berhenti di sini? Dia juga nggak keluar dari mobilnya." Laras bergumam heran.


Tidak berapa lama, Laras melihat mobil yang terasa tidak asing baginya melewati mobilnya. Mobil itu berbelok memasuki gerbang tinggi rumah yang ada di depan sana.


"Itu...mobilnya Nathan, kan? Apa aku salah?" Laras memajukan wajah semakin mendekati kaca depan untuk memastikan. Lalu matanya melotot saat melihat dua motor yang melewati mobilnya juga. "Iya, itu Nathan! Itu, kan, Neo dan Daniel. Jadi, itu benaran rumah Nathan?"


"Kalau ini rumah Nathan. Terus, Mama ngapain ke sini?" Laras mengetuk-ngetukkan satu jari telunjuknya di atas kening.


"Astaga! Gadis yang dengan Nathan di restoran itu. Jangan-jangan dia tinggal di sini?" Laras langsung menemukan alasan kenapa mamanya bisa berada di sini. Nathan dan dua temannya masuk ke rumah tersebut. Berarti gadis itu benar-benar di sana. Laras menyimpulkan, ini bukan rumah Nathan. Melainkan, rumah Sukma--anak dari sang mama.


Sekitar dua jam Laras berdiam diri di sana. Gadis itu terlihat bosan. Nathan dan dua temannya juga belum keluar dari rumah tersebut. Sementara mamanya, sepertinya masih betah di sana. Laras memutuskan untuk pergi dari sana. Dia akan menyelidiki ini nanti.


***


Laras mendapati Apin tengah berada di ruang keluarga. Pria itu sepertinya baru selesai mandi. Rambutnya masih terlihat basah.


"Apin!" panggil Laras.


"Apa?" tanya Apin tanpa menoleh. Pria itu fokus menatap TV yang menampilkan acara lawak, meskipun wajahnya terlihat datar saja.


"Kamu tahu sesuatu tentang Sukma?" Apin sontak menoleh pada sang kakak saat mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"


"Kamu tahu Sukma ada hubungan apa sama pria yang bernama Nathan?"


Apin kembali menatap ke layar TV. "Aku memang akrab dengan Sukma. Tapi aku nggak bakal tahu semua tentang dia. Kamu bahkan tahu sendiri, aku udah dua tahun nggak berhubungan sama dia."


Laras menatap sang adik sangsi. "Kamu nggak penasaran, gitu?"


Apin mendengus malas. "Penasaran gimana?" tanya pria itu balik.


"Kamu, kan, sama dia dekat. Siapa tahu itu pacarnya?" pancing Laras.


"Itu bukan urusan aku. Lagian, Sukma itu saudaraku. Kalau nanti aku ketemu sama dia, aku cukup lindungin dia dari belakang aja. Karena aku sadar, Sukma juga pasti ikut membenciku karena kelakuan Papa."


Laras menghela napas kasar. Dia tidak mendapatkan info apa pun dari sang adik. Laras beranjak dari sana menuju kamarnya dengan wajah cemberut.


Di sisi lain, Apin yang ditinggalkan menghela napas berat. Dia takut jika salah memberi info tentang Sukma, Laras akan mendatangi gadis itu dan memaksanya bertemu dengan Dewi. Apin tahu Laras sangat menyayangi Dewi. Bisa saja gadis itu membawa Sukma dengan paksa agar Dewi bisa bahagia.


***


Hisyam mengetuk kaca jendela depan beberapa kali. Sementara Dewi, wanita itu tersentak kaget saat mendengar jendela mobilnya diketuk dari luar. Dari balik kaca, dia melihat wajah pria yang melaporkan kasus sang suami itu tengah berdiri di sana. Wanita itu menghela napas kasar. Dia ketahuan.


Dewi tidak memiliki pilihan lain selain membuka kaca tersebut. Dia memaksakan senyum pada Hisyam.


"Bu Dewi! Ternyata benar dugaan saya." Dewi kembali menghela napas berat mendengar ucapan Hisyam.


"Bisa kita bicara?" ujar Dewi meminta waktu. dia melirik Hisyam yang berdiri di luar mobil bersama sang istri.


Hisyam beralih pada Fifi terlebih dahulu, meminta pendapat. Fifi memberi anggukan. "Di dekat sini ada Restoran. Kita bicara di sana saja, sebelum anak-anak tahu," ujar Hisyam. Dewi mengangguk senang. Hisyam berjalan kembali ke mobilnya. Memutar arah untuk menuju restoran yang ia maksud.


"Saya sudah curiga sejak awal, kalau mobil yang selalu terparkir di pohon yang tidak jauh dari rumah saya itu sudah pasti mobil Bu Dewi." Hisyam membuka percakapan saat mereka tengah menunggu pesanan datang.

__ADS_1


Dewi menunduk, dia mengaku salah. "maaf kalau saya terkesan seperti penguntit."


Hisyam mengangguk pelan. "Saya juga tahu, Pak Hisyam pasti bukan cuma curiga sejak awal. Pasti Pak Hisyam langsung menyelidiki. Benar, bukan?" tebak Dewi.


"Ya. Saya cuma takut kalau itu penguntit yang bisa membahayakan salah satu keluarga saya," jawab Hisyam seadanya.


Dewi mengembuskan napas berat. "Pak Hisyam pasti juga sudah tahu, kalau saya menyewa seseorang. Iya, kan?"


Hisyam kembali mengangguk jujur.


Dewi menatap ke arah Fifi. "Kamu seorang Ibu. Pasti kamu paham, kan, apa yang tengah aku rasakan." Fifi memilih diam. Dia cukup menjadi pendengar wanita malang di depannya ini saja.


"terpisah sejak kecil dengan anakku. Bertahun-tahun melakukan pencarian, ternyata aku malah dibohongi orang terdekatku sendiri. Lebih gilanya lagi, dia m3myiks4 anakku.


"Aku sangat menyayangi Sukma. Bohong jika aku bilang kehadirannya dulu di antara aku dan suamiku adalah kesialan. Tingkahku dulu karena terjepit ekonomi dan juga mentalku yang belum bisa beradaptasi."


"Ekonomi dan mental yang belum beradaptasi, tetap tidak bisa dijadikan bahan pembelaan untuk hal yang pernah kamu lakukan ke Sukma. Kalian yang memutuskan mengambil jalan menikah muda. lalu, saat dikaruniai anak, malah menyalahkan kehadirannya? Beda cerita jika kalian memang dipaksa menjalani pernikahan.


"Ketika memutuskan untuk menikah bahkan menentang orang tua, bukankah kalian sudah merasa dewasa? Di saat itu, kalian pasti sudah merasa siap dengan segala resikonya. Benar, bukan?" Hisyam memotong ucapan Dewi. Emosi pria itu naik saat Dewi meminta pemakluman karena sulit beradaptasi dengan keadaan. Memang semuanya sudah terlanjur terjadi. Tetapi, rasa kesal Hisyam tak bisa ia kontrol karena ucapan Dewi.


Fifi mengelus lengan sang suami untuk menenangkan. "Pa, jangan emosi." Fifi membisikkan kalimat itu di telinga sang suami.


"Aku tahu. Menyesal pun, percuma. Lagi pula, kalau aku menyesal, bukankah sama saja aku menyesali kehadiran Sukma untuk kesekian kalinya?"


"Kesalahanku pada Sukma memang sulit dimaafkan. Menciptakan trauma pada anak sekecil dia dulu, dan menjadikannya anak yang berbeda, adalah dosaku yang begitu besar. Tetapi, sebagai seorang Ibu, tetap saja ada sisi di diriku yang ingin Sukma bisa menerima segala permintaan maafku ini. Aku ingin anakku tetap memanggilku Ibu seperti anak pada umumnya. Aku hanya ingin banyak mengobrol dan menghabiskan waktu dengan dia, mengganti waktu yang pernah aku tinggalkan." Mata Dewi berkaca-kaca.


"Aku begitu menyesal. Itu sebabnya, aku berusaha mencari dia. Tapi, ternyata suamiku malah menipuku. Dia yang berjanji membawa Sukma padaku, ternyata dia malah semakin menjauhkan Sukma dari aku."


"Aku paham perasaan Mbak." Fifi menatap prihatin pada Dewi.


"Tapi Mbak, Sukma baru saja sembuh dari trauma yang dia derita bertahun-tahu. Di antara kami, tidak ada yang melarang Mbak akan bertemu dengan Sukma. Hanya saja, Sukma sendiri yang menolak. Aku yakin, dia cuma butuh waktu. Sukma itu hatinya begitu lembut. Lama-kelamaan pasti akan luluh."

__ADS_1


Fifi mengembuskan napas pelan. "Saya akan mencoba membantu untuk membujuk Sukma."


__ADS_2