Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Pesan


__ADS_3

Nathan memasuki rumah dengan langkah tergesa. Entah kenapa, dia ingin menemui Sukma segera. Sejak di mobil tadi, Nathan banyak merenung, malang yang diderita Sukma ternyata bukan hanya sebatas karena orang tuanya. Ada hal lain yang lebih besar dari hal itu, dan akhirnya semakin mengguncang kesehatan mental Sukma. Nathan rasanya ingin menangis saja, kenapa gadis lemah seperti Sukma diberi cobaan sebesar itu?


Fifi menatap Hisyam bertanya, karena Nathan melewatinya begitu saja. Hisyam menggeleng pelan, sembari mengangkat bahunya. Sebab sejak di mobil tadi, dia memperhatikan Nathan yang hanya diam sepanjang jalan sejak keluar dari Cafe tersebut.


"Kita makan dulu, baru ngobrol," ujar Fifi. Wanita itu mengajak Hisyam dan Sapto menuju meja makan.


Sementara di sisi lain, Nathan tengah melangkah menuju kamar Sukma. Dengan perlahan, Nathan mendorong pintu kamar Sukma dan melongokkan kepalanya ke dalam.


"Abang? Udah pulang?" tanya Sukma terkejut. Gadis itu menutup buku yang tengah ia baca, dan fokus menatap Nathan yang berjalan memasuki kamarnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Sukma, Nathan malah berjalan cepat dan segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Sukma terkejut bukan main. Tak ada angin, tak ada hujan, kenapa sang Abang tiba-tiba memeluknya seerat ini?


"Bang?!" panggil Sukma.


Nathan belum melepaskan pelukannya. Pria itu malah berkali-kali mencium puncak kepala sang adik angkat, membuat Sukma kembali terheran-heran.


"Abang, lepas dulu! Aku pengap!" ujar Sukma, menyadarkan Nathan dari tingkahnya.


Nathan melepas pelukan mereka, dan duduk di samping Sukma. "Janji sama Abang, mulai sekarang Sukma harus bahagia terus, ya?"


"Abang kenapa?" tanya Sukma untuk ke sekian kalinya.


Nathan tersenyum. "Abang nggak kenapa-napa. Abang cuma ingin Sukma bahagia terus setelah ini. Nggak boleh sedih-sedih lagi."


Sukma mengangguk pelan. Mata gadis itu berkaca-kaca. "Aku nggak tahu harus bersyukur sebesar apa, dipertemukan dengan keluarga Abang. Kalian menyayangi aku bahkan tanpa syarat," ujar gadis itu dengan nada bergetar karena menahan tangis.

__ADS_1


Nathan kembali menarik Sukma ke pelukannya. "Kamu memang patut disayangi. Cukup jadi gadis baik yang selalu bahagia saja, itu sudah cukup untuk balas semuanya."


Sukma terisak di pelukan Nathan. Tak menyangka pria yang sejak awal begitu menolak keras kehadirannya, malah menjelma menjadi kakak paling baik sedunia seperti ini.


"Udah, ah, jangan nangis! Kan tadi Abang udah bilang, nggak boleh nangis!"


"Tapi kan aku terharu, masa nggak boleh nangis!" Sukma melepas pelukan mereka, dan menatap Nathan dengan ekspresi kesal. Nathan tertawa pelan, melihat bagaimana wajah yang memerah karena menangis itu malah kini berusaha memasang ekspresi galak. Bukannya menakutkan, malah terlihat makin imut di mata Nathan.


"Tapi, Abang kenapa tiba-tiba datang langsung nyamperin Sukma kaya gini?" tanya gadis itu bingung.


Nathan mengangkat bahunya acuh, "nggak tahu. Tadi di jalan, Abang kaya kangen banget ke Sukma."


Sukma tertawa mendengarnya. "Ih, bohong pasti! Abang tadi emang dari mana?"


Nathan langsung terdiam. Pria itu menelan salivanya kasar, "em...tadi..." Nathan kebingungan ingin mencari alasan apa.


"Tadi Abang habis dari kampus. Iya, dari kampus."


Sukma langsung mendengus kasar. "Bohong ih! Kalau Abang ke kampus tadi, ngapain Bang Neo sama Bang Daniel tadi nanyain Abang ke aku?"


"APA?!"


Sukma tersentak kaget mendengar teriakan Nathan. "Ih, kok malah teriak?"


"Apa tadi? Ulang kalimat kamu?" tanya Nathan menuntut penjelasan.


Sukma meringis pelan. Dia lupa, kalau Nathan tak suka kalau dia menyimpan nomor Nathan dan Daniel.

__ADS_1


"Anu..."


"Jangan bohong. Abang dengar apa yang kamu bilang tadi!" ujar Nathan.


Sukma mendengus, "tuh, udah dengar kok Abang masih nanya?"


Nathan menempelkan tangannya ke hidung gadis itu dan menariknya pelan. "Nakal banget, sih! Udah dibilang jangan nyimpan nomor mereka! Ini kamu dapatnya dari mana?" tanya Nathan gemas.


"Mereka yang ngirim pesan lebih dulu. Katanya dapat nomor ponsel aku dari Mama."


Nathan berdecak pelan. Mamanya ini gimana sih? Udah tahu temannya itu buaya, malah nomor anak gadisnya dikasih ke mereka. Itu kan bahaya.


"Janji nggak boleh marah, ya, Abang! Kan cuma mereka. Mereka baik kok, ke Sukma."


Nathan rasanya ingin mengigit pipi gadis itu yang menggembung saat memohon padanya. Ah, kenapa adiknya ini imut sih?


"Ya udah. Mau gimana lagi, toh mereka.udah dapat nomor kamu. Yang penting, jangan chatan sama mereka kalau nggak penting. Apalagi kalau mereka cuma basa-basi. Kalau mereka sering ngirim pesan, blokir aja," omel Nathan.


Sukma hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Abang, iya!"


"Bagus! Kalau gitu, ayo kita turun makan!"


Sukma mengangguk, dan ikut turun dari atas ranjang. Saat akan menutup pintu kamar Sukma, ponsel Nathan berdenting. Nathan menautkan alisnya saat melihat nomor yang tak dikenal mengiriminya pesan.


+628....


Mr. Black

__ADS_1


Jadi, orang itu sudah mengambil kertas yang berisi nomor ponselnya itu? Baiklah. Nathan hanya berharap bisa mendapatkan informasi dari orang yang menyebut dirinya Mr. Black itu.


__ADS_2