
"Bagaimana? Kamu sudah memutuskan?" Pertanyaan tanpa basa-basi itu langsung didengar Nathan saat mengangkat panggilan Mr. Black. Nathan melirik jam di atas nakas, baru jam 7 pagi, gila aja di Mr. Black menghubunginya cuma untuk nagih jawaban sepagi ini.
Nathan menguap sebelum menjawabnya. "Iya, jadi. Tapi kamu bisa jamin, kan, bukti yang kamu kasih itu valid?"
Mr. Black terdengar menggema marah. "Kamu meragukan saya? Kamu lupa, kalau saya yang membantu kamu sejak awal?"
Nathan mendengus pelan. "Kamu membantu kami karena pasti kamu punya tujuan lain. Benar, kan?" balas Nathan.
"Ya, dan tujuan saya tidak berkaitan dengan kamu. Jadi, berhenti curiga kalau memang kalian masih menginginkan bukti itu. Kalian datang mengambilnya atau tidak, itu bukan urusan saya. Pilihannya ada di tangan kalian sendiri, karena jika kalian menolak yang rugi adalah kalian."
Nathan menghembuskan napas kasar. "Oke. Kita bisa bertemu di mana?"
"Datang ke Cafe biasa, dan minta pada kasir untuk membawamu pada Mr. Black. Kita bertemu di sana. Ingat, perhatian sekeliling, jangan sampai ada yang tau."
"Oke." Baru saja Nathan menyanggupi, sambungan telepon diputus sepihak oleh Mr. Black. Nathan menggelengkan kepalanya pelan. Suka-suka si Mr. Black ajalah. Asal bukti itu segera mereka dapat, biar kasus Sukma ada titik terangnya.
Nathan membawa semua informasi Sukma yang sudah dia ketik tapi dan diisinya di dalam map. Data Sukma terbaru serta kondisi gadis itu. Nathan tak menyebutkan alamat, karena jika melihat nama Ayahnya pasti Mr. Black sudah bisa menebak Sukma ada di mana.
__ADS_1
Turun dari mobilnya, Nathan berjalan ke arah Cafe tersebut. Untuk ke dua kalinya, Nathan seolah tersihir saat masuk ke sana. Gambar laut di sudut dinding itu selalu membuat Nathan terpesona, karena Nathan memang pengagum lautan.
Nathan menghampiri kasir yang berjaga, kasir itu menautkan alisnya dan menatap Nathan dari atas sampai bawah.
"Saya mau bertemu Mr. Black!" ujar Nathan pelan. Si gadis kasir itu langsung menjentikkan jarinya dengan wajah berbinar saat mengingat Nathan siapa. "Ah, kamu yang waktu itu, kan?"
Nathan hanya menjawab dengan anggukan, wajahnya tak menampakkan senyum atau apapun melihat keantusiasan gadis di depannya.
"Ah, maaf! Maaf! Saya tadi cuma lagi mikir kaya pernah lihat kamu. Makanya pas ingat, jadi kaya gitu. Hehe!"
Gadis kasir itu menyurutkan senyumannya karena Nathan tetap memandangnya dengan wajah datar. Astaga, ini tekan bosnya kok malah mirip sama sifat bosnya juga ya? Apa kulkas temannya juga harus kulkas?
Nathan menurut. Mengikuti langkah si kasir menaiki anak tangga. Hingga mereka berhenti di salah satu pintu yang ada di lantai dua. Di sana hanya ada dua ruangan yang saling berhadapan dengan kedua pintu yang sama-sama tertutup. Mereka masuk ke salah satu ruangan yang berada di sebelah kanan, "di sini. Tapi, Mr. Blacknya lagi nggak ada. Kamu masuk ke dalam aja, tunggu dia di sana."
Saat masuk ke sana, si kasir berpamitan pada Nathan untuk turun ke bawah dan hanya dijawabnya dengan anggukan. Nathan menatap sekeliling, ternyata ruangan itu sangat luas. Ada satu lemari pakaian, satu rak buku berukuran besar, satu meja kerja lengkap dengan kursinya, dan ada ranjang berukuran king size dan ada Sifa juga di sana. Lemari dan rak terdapat di sebelah kiri, berdiri berdampingan, kemudian ada ranjang. Di sebelah ranjang ada meja kerja, sementara sofa terletak di spase kanan. Selebihnya, ruangan itu kosong.
Nathan duduk di atas sofa tersebut untuk menunggu kedatangan Mr. Black. Selang empat puluh lima menit, barulah Nathan mendengar pintu dibuka dari luar.
__ADS_1
Seorang pria masuk ke dalam ruangan tersebut dengan pakaiannya yang serba hitam. Nathan ingat, penampilan orang itu sama dengan penampilan orang yang menabraknya di koridor sekolah saat dia datang mencari tahu tentang Sukma pertama kali.
Tak ada sisi yang terlihat dari dia, bahkan matanya pun terbingkai kaca mata berwarna hitam. Dalam hati Nathan bertanya, apakah pria itu kepanasan atau tidak?
"Terima kasih sudah memenuhi undangan saya." Mr. Black duduk di sofa single, sementara Nathan duduk di sofa panjang.
"Saya tahu, kamu juga nggak suka basa-basi. Jadi, mana yang saya suruh bawa kamu? Ada?"
Nathan tak menjawab. Tapi dia malah membuka tas ransel yang ia bawa, dan mengeluarkan berkas yang diinginkan oleh Mr. Black.
Mr. Black memeriksa berkas tersebut sejenak, guna meyakinkan kalau Nathan tak sedang berbohong. Nathan berusaha memperhatikan reaksi Mr. Black, namun tak ada yang ia temukan karena seluruhnya malah tertutup dengan pakaian serba hitam itu.
"Ini, di sini ada bukti yang saya bilang. Kalau sudah mengetahuinya, terserah kalian mau bertindak apa. Yang jelas, jangan gegabah. Paksa mereka bicara jujur, dan jangan sembarang percaya." Mr. Black mengeluarkan sesuatu dari saku sweater nya dan menyodorkannya pada Nathan. Nathan menautkan alisnya saat melihat benda berbentuk persegi tersebut.
"Flash disk?"
Mr. Black mengangguk. "Sebaiknya kamu segera pergi, karena saya masih ada tamu setelah ini. Bergegaslah! Bisa bahaya kalau dia mendapati kamu di sini!"
__ADS_1
Nathan menurut. Dengan cepat, dia mencangklong tasnya ke pundak, dan keluar dari sana. Saat sudah berada di parkiran, Nathan yang akan masuk ke mobilnya seketika berhenti sejenak saat melihat siapa yang tengah berjalan menuju Cafe tersebut. Dia tersenyum kecil, "tamu? Jadi, sepertinya semua ini memang berhubungan dengan kepala sekolah!" gumam Nathan. Dia melihat pria paruh baya itu melangkah tergesa menuju Cafe dengan wajah yang terlihat marah.