Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Cemburu?


__ADS_3

Nathan menatap Sukma yang saat ini tengah membaca novel di atas ranjangnya. Semakin hari, Nathan dapat melihat gadis itu semakin ada kemajuan. Dia sudah berani berucap beberapa kata ketika ditanya saat mereka tengah berkumpul di meja makan misalnya. Sukma juga sesekali mengangkat wajahnya, dan memamerkan senyuman manis pada mereka ketika berbicara. Dan itu terasa bahaya bagi Nathan.


Padahal, Sukma itu tak secantik Laras. Namun, kenapa wajah dan senyuman gadis itu tiba-tiba selalu membayangi Nathan setiap waktu? Bahkan dia jadi tidak betah di kampus dan ingin cepat-cepat pulang agar bisa melihat wajah adik angkatnya. Apa dia sudah benar-benar menerima Sukma di keluarganya? Nathan malah sedikit ragu untuk hal itu.


"Gimana dia, Ma? Udah mau bicara soal apa yang bikin dia selalu histeris ketika bahas Sekolah?" tanya Nathan dengan nada pelan. Dia dan Fifi kini tengah berdiri di depan pintu kamar Sukma, memperhatikan gadis itu yang tenggelam dalam novel bacaannya.


"Belum. Tante Sandra sedang berusaha mengulik semuanya, namun Sukma langsung histeris dan hilang kendali ketika pertanyaan mengarah ke sana. Tapi untuk hal lain, kamu bisa lihat sendiri, Sukma banyak kemajuan."


Nathan mengangguk mengerti. Sekali lagi ia melirik ke arah gadis itu. "Kamu...apa sudah bisa menerima Sukma, Nak?" tanya Fifi sembari menatap sang anak, melihat ekspresi yang ditampilkan di wajah tampan yang mirip suaminya itu.


Nathan terdiam sesaat, kemudian mengangguk pelan. "Aku rasa begitu." Jawaban aman, pikir Nathan.


Fifi dan Nathan kemudian melangkah pergi dari sana. Fifi mengikuti Nathan ke kamarnya. "Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin Mama bilang ke kamu dan Papa," ujar wanita itu.


"Apa?" tanya Nathan. Pria itu mendudukkan diri di atas ranjang, sembari melepas sepatu yang ia kenakan.


"Ini soal Sukma. Bulan lalu, saat terapi sama tante Sandra, Sukma sempat nyebut Abang. Mama jadi bertanya-tanya, jangan-jangan dia memang punya Abang tapi nggak ada yang tahu di mana Abangnya?"


Nathan menatap sang Mama, ada kekhawatiran di raut paruh baya itu.


"Kenapa Mama bilangnya baru sekarang?" tanya Nathan.


"Mama sempat lupa, dan baru ingat tadi."


"Memangnya, tante Sandra nggak nanya langsung ke Sukma?"


Fifi menggeleng. "Enggak. Kan itu awal dia histeris. Dia pertama bilang kalau Ayahnya tampan kaya Abang. Terus Mama sama tante Sandra mulai nanyain Abangnya memangnya ke mana. Apa dia sekolah? Dan tiba-tiba Sukma langsung hilang kendali."


Nathan mengangguk. Hatinya sedikit merasa tak nyaman, bisa-bisanya Sukma memuji pria lain. Maksudnya, dia yang Abang nyatanya Sukma saja nggak dipuji sama gadis itu. Malah mini Abang-abangan yang nggak jelas.

__ADS_1


"Menurut kamu gimana?"


Nathan tersentak saat Fifi memberi pertanyaan kepadanya.


"Eh? Emm...sebaiknya kita bicarakan sama Papa dulu, Ma. Nanti kita cari tahu bersama."


"Mama juga rencananya begitu, sih. Semoga aja jalan kita dimudahkan. Mama benar-benar nggak tega lihat Sukma. Entahlah, bagi Mama dia bukan hanya sekedar anak angkat. Dia sudah seperti anak kandung bagi Mama."


Nathan mengangguk pelan. Dia mengerti bahkan percaya ucapan Mamanya. Orang tuanya begitu menyayangi Sukma. Memperlakukan gadis itu layaknya porselen berharga.


Malam harinya, Fifi mengatakan semuanya pada Hisyam. Mereka akhirnya berusaha mencari tahu, apakah benar Sukma masih memiliki keluarga atau tidak.


Di meja makan, ke empat orang tersebut tengah berkumpul untuk makan malam. Seperti biasa, Fifi selalu menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Sukma.


"Sukma!" panggil Hisyam. Sukma yang tengah makan, mengangkat wajahnya sejenak menoleh pada sang Papa.


Sukma mengangguk dengan wajah polosnya. Fifi yang berada di Sampig gadis itu, tak tahan untuk tak mengelus pelan pipi kemerahan itu karena gemas.


"Sukma punya Abang?"


Sejujurnya, Fifi dan Nathan merasa tegang. Takut Sukma akan kehilangan kendali di meja makan. Pasalnya, di sana banyak barang kaca, yang kalau pecah bisa berbahaya untuk Sukma.


"Pa!" tegur Fifi pelan. Namun Hisyam menggeleng, menenangkan.


"Punya," jawab Sukma.


"Emm, dia bagaimana? Maksud Papa, dia tampan atau bagaimana?" pancing Hisyam.


Sukma mengangguk pelan. "Dia tampan."

__ADS_1


"Baik?" pancing Hisyam lagi.


Sukma terdiam, kemudian menunduk. "Nggak tahu. Kita nggak pernah bicara." Suaranya terdengar sangat pelan, dan sedih. Fifi mengelus bahu Sukma lembut.


"Kenapa?"


Sukma menggeleng. "Nggak tahu. Dia...nggak suka Sukma, mungkin?!" jawabnya ragu.


Hisyam menautkan alisnya. Jangan-jangan...


"Abang Sukma ada berapa?" tanya Hisyam.


Sukma kembali mendongak. Kemudian beralih menatap ke arah Nathan dengan ragu. "Sa...satu," jawabnya gagap.


Hisyam dan Fifi langsung saling pandang, ah, sekarang mereka mengerti siapa Abang yang dimaksud Sukma.


"Benaran cuma satu?" tanya Fifi memastikan pemikirannya tak salah. Sementara Nathan, sedari tadi tak lagi memperhatikan mereka. Dia kesal karena Sukma mengatakan Abangnya ganteng. Memangnya, seganteng apa sih, Abangnya itu? Paling juga gantengan Nathan.


"Iya." Sukma menjawab singkat.


"Namanya siapa?"


Sukma kembali melirik Nathan, lalu menunduk lagi. "Abang Na...than."


Fifi langsung tertawa mendengar ucapan Sukma. Astaga, dia sudah kepikiran berhari-hari siapa Abang yang dimaksud Sukma, ternyata malah anaknya sendiri.


"Jadi, Abang yang kamu bilang tampan itu Nathan?" tanya Fifi lagi.


Nathan yang merasa namanya disebut-sebut akhirnya ikut penasaran. Dia berusaha menahan senyumnya saat Sukma perlahan menganggukkan kepala. Astaga, jadi sedari tadi dia cemburu pada dirinya sendiri? Tapi...tunggu, tunggu! Dia? cemburu?

__ADS_1


__ADS_2