Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Kemiripan


__ADS_3

"Mama mau ngomong. Ini udah seminggu kamu ngambek, nggak baik marah lama-lama ke orang tua." Fifi tiba-tiba muncul di kamar Nathan, membuat pemuda itu terkejut setengah mati karena tadinya dia tengah fokus menatap ponsel.


"Astagfirullah, ngagetin aja." Nathan langsung mengelus dadanya.


Fifi berjalan mendekat, kemudian ikut duduk di samping Nathan.


"Nath, Mama minta maaf karena sebelumnya nggak izin dulu ke kamu untuk ngangkat anak. Mama mengerti kenapa kamu marah." Nathan menatap wajah sang mama yang tengah berbicara dari samping.


"Mama kesepian di rumah kalau kalian tinggal kerja. Kamu juga kadang, kan, ledekin Mama untuk ngasih kamu adik. Mama jadi berpikir kalau kamu benar-benar ingin punya adik, Nat. Makanya saat bawa Sukma ke sini, Mama pikir kamu bakalan senang. Ternyata respon kamu di luar perkiraan Mama. Bahkan, seminggu ini kamu nggak bicara ke Mama sama Papa."


Fifi mengelus dengan lembut bahu anaknya itu. Sebenarnya, dia juga merasa bersalah pada Nathan. Andai mereka bicara terlebih dahulu ke Nathan sebelum membawa Sukma, respon Nathan mungkin akan lebih baik lagi.


"Aku nggak masalah sebenarnya kalau Mama ngangkat anak untuk dijadiin adik. Tapi Sukma itu, Mama sadar sendiri kalau dia aneh. Kenapa harus dia, nggak anak kecil di Panti aja yang Mama bawa?" tanya Nathan dengan nada masih kesal.


"Sukma itu spesial, Nat. Dia bisa bertahan di tengah kehidupannya yang menyakitkan itu membuat Mama jatuh hati ke dia. Mama ingin punya anak perempuan yang kuat seperti dia."


Nathan memutar bola matanya malas mendengar penjelasan Fifi.


"Kamu mau dengar cerita Mama?"


Nathan tak menjawab. Namun, Fifi tahu kalau Nathan ingin mendengarkan.


"Dulu, saat Mama masih remaja, Mama punya satu sahabat dekat. Dia dari kalangan orang nggak mampu, dan satu-satunya temannya di sekolah hanya Mama. Dia sekolah di sana hanya mengandalkan beasiswa.

__ADS_1


"Anaknya sangat pendiam. Dia juga selalu jadi bahan ejekan teman-teman, tapi dia memilih diam. Mama nyaman temanan sama dia, karena dia memang anak yang baik.


"Suatu hari, tersebar di sekolah kalau ibu temannya Mama itu bekerja sebagai wanita panggilan. Ejekan padanya semakin menjadi-jadi. Mereka bahkan tak segan-segan main fisik. Bukan sekali dua kali Mama mendapati dia entah terkunci di Toilet atau di gudang, dengan banyak lebam di badannya."


Nathan langsung menatap Mamanya. "Apa Sukma juga seperti itu, Ma?" tanya Nathan.


"Kisah mereka nggak sama, tapi jalan hidup mereka sangat miris, Nat."


"Mama boleh lanjutin kisahnya?" tanya Fifi dan Nathan langsung mengangguk.


"Mama sangat ingat waktu itu. Hari Senin, saat Mama nunggu dia di depan gerbang dan dia nggak pernah datang." Suara Fifi mulai memelan, Nathan tahu kalau Mamanya tengah menahan tangis.


"bahkan tiga hari setelahnya, pun, dia tidak muncul. Mama akhirnya ngambil inisiatif nyari alamat dia, sekalipun itu memohon-mohon ke pihak sekolah karena alamat dianggap privasi oleh mereka. Mama akhirnya mendatangi alamat teman Mama itu. Saat dia membuka pintu rumah karena Mama mengetuknya dengan tak sabaran, Mama mendapati kondisinya yang pucat, lemah, dan tubuhnya pun penuh lebam. Matanya bengkak karena menangis berhari-hari. Dia cerita, kalau dia diperkosa oleh salah satu kakak kelas kami, Nat, dan Kakak kelas kami itu anak Kepala Sekolah."


"Mama akhirnya nawarin bantuan untuk melaporkan pria bejad itu. Awalnya dia nolak karena takut, Nat. Tapi Mama tetap membujuknya sampai dia setuju. Awalnya, kami mendatangi pria bejat itu, memintanya bertanggung jawab, meski seperti yang kami kira, dia akan menolak. Akhirnya, Mama meminta bantuan ke Kakek kamu, dan mereka setuju. Dia dilaporkan ke pihak kepolisian."


"Lalu?" tanya Nathan penasaran.


"hanya dalam waktu satu hari, laporan tersebut akhirnya diproses. Teman Mama diminta ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Mama senang, Nat, karena ternyata nggak sesulit itu berkat bantuan Kakek kamu. Saat dengar kabar itu, Mama langsung menuju rumah teman Mama itu. Dan kamu tahu, Nat, apa yang Mama dapati di sana?"


"Dia tergeletak di lantai dengan mulut yang berbusa. Mama datang terlambat, Nat, dan dia nggak tertolong."


Nathan langsung mengelus bahu sang Mama, guna menenangkan.

__ADS_1


"Kamu tahu apa yang lebih memilukan, Nat?" Nathan fokus mendengarkan. "Saat Kakek meminta Polisi menyelidiki, ternyata dia meminum minuman yang berisi bubuk racun, dan pemberinya adalah ibunya sendiri."


Mata Nathan membesar karena terkejut. "Ibu temannya Mama itu ternyata simpanannya kepala sekolah kami. Saat dia tahu anaknya terancam, KepSek minta ke selingkuhannya itu untuk menghabisi gadis yang mereka anggap ancaman itu. Apalagi, wanita kejam itu menganggap kalau anaknya hanya beban selama ini. Makanya dia dengan tega membunuh darah dagingnya sendiri."


"Kenapa bisa ada Ibu sekejam itu?" tanya Nathan akhirnya. Hewan saja begitu menyayangi anaknya. Lalu, kenapa manusia yang diberikan hati dan pikiran oleh Tuhan, malah berlaku begitu kejam?


"Bisa, Nat. Dan Sukma salah satu korbannya, dia memiliki kisah yang sama. Nyawanya hampir habis di tangan Ibunya sendiri."


Jantung Nathan rasanya seperti diremas mendengar penuturan sang Ibu. Meski dia tidak menerima Sukma, tapi mengetahui hal itu membuatnya iba.


"Mengetahui kisah Sukma dari Ibu Panti, membuat Mama mau tak mau teringat kisah lama. Itu sebabnya, Mama berusaha mendekati Sukma, dan ternyata berhasil. Mama ingin membuat Sukma sembuh, Nat. Membuatnya bisa menjalani hidup layaknya anak normal lainnya."


"Dulu, Mama menyesal karena kenapa saat itu tidak menemani teman Mama itu saja dibanding hadir di sekolah. Andai Mama menemani dia, pasti Mama bisa mencegah kekejaman Ibunya. Atau andai Mama mengajaknya ke rumah, di sana dia akan aman dan tidak akan berakhir dengan kisah tragis seperti itu. Dan saat bertemu Sukma, Mama langsung kepikiran untuk bawa dia. Mama tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, di saat masih bisa menolong namun Mama hanya diam saja.


"Ibunya Sukma bisa saja kembali sewaktu-waktu. Tidak ada yang tahu Ibunya itu meninggal atau apapun. Bisa saja dia hanya kabur setelah nyaris menghabisi nyawa anaknya. Mama nggak mau, Sukma bernasib sama seperti teman Mama. Dengan membawanya masuk ke keluarga kita, dia bisa aman dari bahaya di luaran sana."


Mereka terdiam beberapa saat. Fifi kemudian melepas pelukan Nathan, dan memandang anaknya itu. "Kamu udah dewasa, sekarang. Mama ngerti kalau kamu pasti akan susah menerima Sukma. Tapi, Mama harap, kamu nggak akan memperlakukannya dengan buruk. Cukup di masa lalu dia merasakan kepahitan hidup. Kalau kamu nggak mau memperlakukannya dengan baik, kamu cukup diam saja nggak apa-apa, jangan bicara kasar kaya kemarin."


Nathan hanya menanggapinya dengan diam. Namun, Fifi tahu kalau Nathan akan menurut.


"Mama keluar dulu. Sekali lagi, maafin Mama sama Papa, ya?"


Nathan mengangguk pelan, membuat Fifi tersenyum kecil. Ini masih awal, Fifi yakin kalau Nathan akan menyayangi Sukma suatu saat.

__ADS_1


__ADS_2