
Dewi terduduk lemas di atas lantai saat mendapat telepon dari pihak kepolisian yang mengabarkan tentang penangkapan Hans Arganta. Ayas yang baru saja akan berangkat kuliah, terkejut melihat sang mama yang terlihat syok. Buru-buru gadis itu mendekat, merangkul Dewi untuk berdiri dari posisinya, membawa ke atas sofa.
"Ma! Mama kenapa?" Ayas terlihat sangat khawatir. Apalagi wajah mamanya itu terlihat pucat, air mata pun mengalir dari kedua belah matanya.
"Papa kamu...Dia, ditangkap Polisi!" Dengan terbata, Dewi menjelaskan.
"Astaga! Kasus apa, Ma?" tanya Ayas.
"Mama nggak terlalu jelas dengarnya. Tapi...Tapi yang jelas, Papa kamu sudah berada di kantor polisi."
Tubuh Ayas lantas ikut lemas mendengar penjelasan sang mama. Papanya ditangkap? Kasus apa? Setahunya, papanya itu bukanlah orang yang suka berbuat kejahatan. Lalu kenapa bisa ditangkap polisi?
__ADS_1
"Pasti ada yang fitnah Papa, Ma! Kita harus percaya sama Papa. Ini pasti nggak benar. Papa pasti difitnah!" Ayas ikut kacau. Dia mengambil ponsel dari dalam tas, menghubungi nomor Apin yang mungkin bisa lebih detail memberikan penjelasan. Namun, berkali-kali dihubungi, Apin tak juga mengangkatnya.
"Apin ke mana, sih? Dihubungi saat situasi kaya gini malah nggak bisa!" Ayas nyaris membanting ponselnya karena kesal. U tung saja dia menyadari kalau masih banyak hal berarti dalam benda tersebut.
"Kita langsung ke kantor polisi aja kalau gitu, Ma!" Ayas mengusulkan dan langsung diangguki oleh Dewi. Kedua wanita itu pergi dari sana dengan terburu-buru, mendatangi alamat kantor polisi yang tadi diberitahukan lewat telepon pada Dewi.
Selama perjalanan, Dewi lebih banyak melamun. Wanita itu benar-benar merasa syok. Setahunya, sang suami adalah pria yang baik. Tak ada rekam jejak kejahatan yang dilakukan pria itu sejak pertama mereka bertemu. Lalu kenapa tiba-tiba ditangkap polisi? Bukankah itu terasa aneh?
"Mama coba hubungin Apin, Ma! Siapa tau kalau Mama bakal diangkat sama dia!" Ayas meminta Dewi untuk menghubungi adiknya itu. Memang kebiasaan Apin akan mengabaikan panggilan dari Atas. Jika di hari biasanya, Ayas akan biasa saja. Tapi di situasi genting seperti ini, Ayas berjanji akan menjitak kepala adiknya saat mereka bertemu nanti.
Dewi mengikuti permintaan Ayas. Mencoba menghubungi Apin berkali-kali. Namun, hasilnya tetap sama. Apin juga tak mengangkat panggilan darinya. Dewi jadi berpikir, mungkin Apin pergi menyusul papanya ke Kantor Polisi.
__ADS_1
Sampai di alamat, dengan langkah bergegas kedua wanita itu memasuki bangunan tersebut. Menerobos beberapa wartawan yang sedang menunggu di depan gedung, untuk meliput berita yang menimpa Hans Arganta. Bagaimana mungkin seorang kepala sekolah dari sekolah yang terakreditasi A malah menjadi tersangka akan kasus penganiayaan muridnya sendiri?
Dengan arahan yang diberikan oleh salah satu petugas kepolisian di sana, Dewi dan Ayas akhirnya bertemu dengan Hans. Pria itu tengah duduk di kursi yang berhadapan dengan seorang Polisi.
"Mas! Astagfirullah! Sebenarnya ada apa?" Dewi langsung mendekat pada suaminya, kemudian memeluk pria itu. Sementara Hans, tak tahu harus berbuat apa. Hari ini, rahasia yang ia simpan akan segera terbongkar. Entah bagaimana reaksi Dewi nanti. Wanita itu pasti akan sangat membencinya.
"Mas tenang aja, aku yakin kalau Mas cuma difitnah. Iya, kan?" Dewi melepas pelukannya, menatap sang suami dengan tatapan berharap. Anggukan dari Hans begitu ia nanti, namun yang ada pria itu malah menunduk tak mau menatap matanya.
"Mas!" panggil Dewi lagi.
"Maaf!" Hanya itu yang bisa diucapkan Hans pada sang istri. Kalimat tersebut membuat Dewi menganga seketika. Wanita itu mundur perlahan dengan wajah terkejutnya. Maaf? Jika sudah keluar perkataan itu dari mulut suaminya, bukankah secara langsung Hans mengiyakan jika tuduhan itu benar adanya?
__ADS_1