Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Pingsan


__ADS_3

"Bapak Hans ditangkap sebab tuduhan atas otak di balik penganiayaan salah satu muridnya, pemalsuan data, dan juga pengancaman terhadap anak di bawah umur." penjelasan singkat dari kepala kepolisian membuat Dewi semakin dilanda keterkejutan. Wanita itu menggeleng pelan, masih belum terima atas tuduhan yang dilemparkan pada sang suami.


"Bapak pasti salah! Nggak mungkin suami saya berbuat seperti itu. Bapak pasti salah tangkap orang, iya, kan?"


"Kami tidak sembarang menangkap orang. Bukti sudah banyak yang ditujukan oleh pelapor pada kami, dan diperkuat dengan saksi. Jadi, untuk pembelaan Bapak Hans silahkan dilakukan di pengadilan nanti."


Dewi dan Ayas berpelukan, saling memberi kekuatan. Sementara Hans, pria itu semakin menundukkan kepala di tempatnya. beberapa menit kemudian, dua orang polisi membawa Hans dari sana. Mulai hari ini, pria itu akan resmi menjadi penghuni jeruji besi. Sebelum pergi, Hans sempat melirik ke arah dua wanita kesayangannya itu sejenak. Tak ada pamitan, dia pergi dalam diam. membiarkan kedua perempuannya itu tenggelam dalam tangisan. menyesal tak ada gunanya. Sudah sejak awal dia tahu konsekuensi ini, tapi dia tetap melakukan kejahatan itu. Dia jadi teringat perkataan Seno tempo hari. Yang mengatakan mereka mau tak mau harus menerima semua konsekuensi perbuatan jahat mereka. Hanya saja, waktu itu Hans masih bisa menyombongkan diri. Entah siapa yang membocorkan semua bukti-bukti itu pada orang yang melaporkannya. Satu hal lagi, sebenarnya Hans masih penasaran siapa yang membuat laporan itu. Sejak merasa diawasi, Hans berkali-kali mencari tahu siapa yang tengah berusaha membuka kasus lama tersebut. Namun, orang itu seolah sangat kuat, dan Hans bukan tandingannya. Sulit menemukan siapa sebenarnya orang tersebut.


"Ini surat penangkapan resmi untuk Bapak Hans Arganta, sekaligus berkas laporan yang kami terima tentang kasus Bapak Hans Arganta. Untuk berkas laporan ini, bisa membantu ibu menemukan pengacara. Untuk sementara, Bapak Hans Arganta akan tetap kami tahan untuk kepentingan penyelidikan."


Dengan tangan gemetar, Dewi menerima map tersebut. "Apa suami saya ada kemungkinan bisa memenangkan sidang?" tanya Dewi.


"Kami hanya menjalankan tugas. Keputusan ada di tangan Hakim, dan itu tergantung bukti yang Ibu bawa jika ada. Bukti yang bisa meringankan terlapor."


Dewi dan Ayas dari keluar dari gedung tersebut dengan tubuh lemas. Belum lagi, wartawan yang tiba-tiba datang menyerbu untuk memberikan pertanyaan. Tak mempedulikan tampilan dua orang tersebut yang terlihat sangat memprihatinkan.


Ayas berusaha melindungi sang mama, dan segera membawanya ke dalam mobil. Sementara para wartawan itu mendesah kecewa, karena tak menemukan ucapan dari keluarga terlapor untuk mereka jadikan topik hangat.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, keduanya memilih diam dengan pikiran masing-masing. Bahkan Ayas nyaris menabrak pembatas jalan karena tak fokus. Beruntung jalanan lumayan sunyi. Kalau tidak, bisa saja mereka terlibat kecelakaan beruntun.


Memasuki pagar rumah, Ayas melihat Apin yang duduk di teras rumah mereka. Pria itu sepertinya baru saja datang. Dengan tergesa, Ayas turun dari mobil dan mendekati sang adik. Menyentak kuat tangan Apin, dan melayangkan tatapan sinis.


"DARI MANA KAMU?" Gadis itu tak bisa membendung emosinya. Dia melampiaskan semuanya ke Apin.


"DALAM KEADAAN GENTING BEGINI, BISA NGGAK KAMU MENTINGIN KELUARGA DULU?"


Apin hanya diam mendengar kemarahan Ayas. Sementara Dewi, seolah tak melihat dua anak itu yang sedang berdebat. Wanita itu berlalu memasuki rumah begitu saja dengan pandangan kosong. Apin yang melihat itu segera menyusul, tak memedulikan Ayas yang masih ingin meneriakinya habis-habisan.


"Mama udah baca?" tanya Apin pelan.


Dewi menggeleng. "Sebaiknya Mama baca!" ujar Apin.


Dewi menatap Apin tak habis pikir. Wanita itu heran, apa Apin benar-benar membenci ayahnya? Lihat saja wajah itu yang hanya menampilkan raut datar. Seolah tak peduli padahal papanya baru saja terkena kasus dengan tiga pasal sekaligus.


"Kamu..."

__ADS_1


"Sebaiknya Mama baca dulu. Setelah itu, baru ambil keputusan apa yang akan Mama lakukan ke depannya. Yang jelas, Apin akan memilih di pihak yang benar."


Menautkan alis, Dewi kebingungan dengan ucapan anak itu. Dewi berjalan ke arah sofa, mendudukkan diri di sana. Mengikuti saran Apin, dengan perlahan membuka map tersebut dan membacanya.


Tubuhnya yang memang sudah lemas sejak tadi, semakin tak bertenaga membaca kalimat demi kalimat yang tertera di sana. Terlebih, matanya fokus pada satu nama yang tercetak dengan huruf besar di sana. DEWI SUKMA NINGRUM. Itu...nama anaknya, kan? Rasa pening seketika melanda kepalanya. Wajahnya terlihat semakin memucat. Dalam hitungan detik, wanita itu ambruk. Beruntung Apin dengan sigap menangkapnya.


"KAMU APAIN MAMA?" Ayas yang baru saja masuk--karena tadi memilih menenangkan diri di luar--terkejut melihat Dewi yang terbaring di lantai dengan Apin yang menahan tubuh wanita paruh baya itu.


Apin menghembuskan napas kasar. Dia paham, kakaknya itu masih syok. Itu sebabnya sejak tadi selalu berteriak. Namun, bukan berarti dia disalahkan.


"Mama baca berkas laporan Papa. Gadis yang dianiaya itu anak Mama, yang selama ini selalu dia cari itu." Apin menjawab seadanya. Pria itu berusaha membaringkan sang mama di atas sofa panjang.


"Jangan sembarang bicara, kamu Apin. Papa itu difitnah!"


Apin mendengus. "Jangan bahas itu dulu. Cari minyak angin, terus olesin di kepala sama hidung Mama. Buruan!"


Ayas tersentak saat Apin berujar dingin padanya. Namun, gadis itu menurut. Benar kata Apin, yang terpenting sekarang adalah mamanya dulu.

__ADS_1


__ADS_2