Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Pertanyaan Neo dan Daniel


__ADS_3

Nathan membaringkan tubuhnya ke sana-ke mari di atas kasur. Wajahnya terasa panas ketika mengingat kejadian di meja makan tadi. Ah, mengapa pujian dari Sukma efeknya segila ini, sih, baginya? Perasaan banyak gadis yang sering memuji ketampanannya, namun kenapa pujian dari Sukma malah berbeda?


Ponselnya berdering, membuat Nathan yang tengah memegangi pipinya langsung bangun dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Bisa-bisanya dia salah tingkah segini lamanya.


"Halo!"


"Di mana, Nat?" Suara Neo terdengar di seberang sana.


"Ya di rumah, lah. Ke mana lagi emangnya?!"


"Ke sini yuk, ke apartemen Daniel. Ngumpul sini, main game."


Nathan menatap jam kecil yang ada di atas nakas. Masih pukul 8 malam.


"Oke," jawabnya singkat. Nathan kemudian bangkit dari atas ranjang, mengambil jaket yang tergantung di dekat pintu. Tak lupa, tangannya menenteng helm miliknya. Malam ini, Nathan ingin mengendarai motor saja, dibanding mobil. Biar sekalian merasakan segarnya angin malam.


"Mau ke mana, Nat?" Hisyam bertanya pada Nathan. Pria itu tengah membawa segelas air di tangannya. Mungkin dia baru saja mengambil air di dapur untuk dibawa ke dalam kamar.


"Main sama Neo sama Daniel."


Hisyam mengangguk. "Pulang atau nginap?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Kayanya nginap di apartemen aja, Pa. Oh ya, bilangin ke Mama juga, ya, Pa."


Hisyam kembali mengangguk. "Ke Sukma, enggak?"


Nathan berdecak sebal. Dia tahu sang papa tengah meledeknya karena ketahuan blushing di meja makan tadi. Benar-benar blushing yang menyebalkan.


"Udah, ah, Nathan pamit. Assalaamu'alaikum."


...


"Akhir-akhir ini, kenapa jarang ngumpul sama kita, Nat?" tanya Neo. Saat ini, tiga sahabat itu tengah berada di apartemen Daniel, ketiganya tengah mengatur segala macam Snack dan minuman untuk mereka nikmati ketika main game dan mengobrol nanti.


Nathan seketika langsung salah tingkah. Mana mungkin dia jujur kalau dirinya tak sabar pulang hanya sekedar untuk melihat Sukma. Bisa-bisa kedua sahabatnya itu akan meledeknya habis-habisan.


Neo dan Daniel menatapnya penuh curiga. "Sejak kapan Nathan nggak mood main sama kita?" tanya Daniel sarkas.


"Eh, si Nathan nggak mood karena terus-terusan lihat mukamu kali, Dan! Aku aja eneg, cuma karena kasihan ya, jadinya mau mau temanan sama situ." Bukan Nathan yang menjawab pertanyaan Daniel, melainkan Neo.


"Enak aja. Muka ganteng gini dibilang bikin eneg. Muka situ yang bikin eneg, makanya nggak ada pacar sampai sekarang."


"Elah, aku nggak punya pacar bukan karena wajah, keles. Aku, tuh, banyak yang suka. Cuma akunya yang pilih-pilih!" ujar Neo membela diri.


Daniel menatap Neo dengan pandangan seolah jijik. "Nggak sadar malah dia yang kena pilih-pilih."

__ADS_1


"Berisik amat kalian berdua. Main sekarang aja, ayo!" Nathan berusaha menengahi perdebatan dua orang itu.


"Ah, nggak usah ngalihin pembicaraan, ya, Nat!" Nathan langsung menelan ludah. Dia pikir, dua temannya itu sudah lupa pertanyaan tadi. Tahu begitu, lebih baik dia membiarkan mereka saling ejek sampai gelut sekalian.


"Ayo cerita, Nat! Nggak usah sok misterius gitu. Kita panjang masing-masing aja saling tahu."


Neo menjitak kepala Daniel karena ucapan pria itu. "Panjang apaan?" tanyanya ngegas.


"Ya panjang badanlah. Memangnya panjang apa lagi?" kesal Daniel. Kepalanya terasa sakit akibat jitakan Neo.


"Ya, situ bicaranya gantung. Kalau kedengaran orang lain mereka malah salah paham," ujar Neo kesal.


"Udah ah!" Daniel kemudian beralih pada Nathan. "Ayo, Nat, buruan cerita!"


"Apa, sih, yang harus dicerita? Emang lagi malas main aja. Pengen ngurung diri di rumah."


"Nggak, nggak! Nggak benar, ini! Pasti ada apa-apa. Jangan-jangan, kamu bohong, ya, Nat, udah baikan sama Tante Fifi dan Om Hisyam?" Dua sahabat Nathan itu tentu tak percaya.


Nathan menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Daniel. "Udah baikan, kok."


Daniel memegang dagunya, berusaha berpikir. Sementara Neo malah menatap Nathan dalam-dalam.


"Ah, jangan-jangan kamu kaya gini gara-gara mau ganggu waktu Tante Fifi dan Om Hisyam sama adik angkat kamu itu?"

__ADS_1


Nathan yang hanya diam membuat dua sahabatnya jadi yakin akan tebakan mereka. Sementara Nathan memilih diam sebab tak tahu harus menjawab apa. Biarkanlah dua sahabatnya itu salah sangka.


__ADS_2