Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Siska


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi, Leon membereskan alat tulisnya di atas meja dan berencana menuju kantin. Leon punya rencana bagus, dia akan menggunakan ketampanannya untuk mencari tahu perkara Sukma di sekolah ini. Dan yang menjadi incarannya adalah kakak kelasnya, karena menurut keterangan Nathan dan Hisyam, Sukma jika masih lanjut sekolah saat ini sudah duduk di kelas XII.


Saat di Kantin, pandangan Leon jatuh pada satu meja yang berada di pojok kanan, yang hanya diisi oleh satu orang saja. Leon tersenyum kecil, dengan langkah santai dia mendekat ke sana.


"Woi, Bro! Kita ketemu lagi!" Leon menggebrak meja yang ditempati anak itu lumayan kuat, membuat si pria tersebut tersentak kaget.


Leon menatap name tag pria culun yang ia cegat untuk mengantarkannya ke ruang guru kemarin. Prasetyo, begitu tertulis di sana.


"Prasetyo, oke, mulai sekarang kita berteman." Leon berujar seenaknya. Sementara pria culun itu hanya mampu menghela napas pelan. Sepertinya, ketenangannya di sekolah ini akan terusik karena hadirnya bocah tengik ini.


"Kelas berapa, Bro?" tanya Leon lagi. Belum sempat pria itu menjawab pertanyaan Leon, namun Leon malah melemparkan pertanyaan lain lagi. "Eh, panggilannya apa? Pras? Setyo? Oh, Seto aja gimana?"


Pria itu menghembuskan napas kasar. Seleranya pada bakso yang di hadapannya itu kini telah hilang entah kemana karena kehadiran Leon.

__ADS_1


"Kelas XII, panggilanku Tyo. Bukan semua yang kamu sebutkan tadi."


"Oh, Tyo. Berarti kamu kakak kelas aku, ya? Tapi, kayanya lebih cocok panggilannya Seto! Kak Seto! Gitu!"


Tyo menggelengkan kepalanya pelan. Heran dengan mahluk seperti ini, suka seenaknya. Dia kembali melanjutkan makan, memilih tak menghiraukan mahluk aneh di depannya itu.


"Ya sudah, Kak Seto! Kita teman mulai sekarang. Aku pamit pesan makanan dulu, dan ingat. Jangan ke mana-mana, kalau nggak mau aku pakai kekerasan!" Sebelum pergi, Leon melemparkan ancaman pada pria itu.


Saat akan memesan makanan, Leon melihat tiga orang gadis yang sedang berbaris mengantri di depan stan nasi goreng. Dia kemarin juga sudah mencari tahu perihal tiga gadis itu. Ketiganya adalah kakak kelasnya yang bisa dikatakan anak populer. Salah satu di antara mereka adalah target Leon untuk didekati, dan mencari tahu perihal Riana dan Sukma.


"Kak Mery?" tanya Leon saat gadis itu menoleh ke arahnya. Leon berusaha memasang wajah polos, agar si gadis cantik itu tak tahu kalau dia tengah menjalankan drama.


"Kamu siapa?" tanya gadis itu, dia menatap Leon dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai. Sesaat kemudian, senyumnya melebar. Dia ingat, pria ini adalah pria yang kemarin diperbincangkan para gadis. Si murid baru yang tampan dan keren. Ternyata waktu sedang memberinya kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan pria yang membuat heboh kemarin itu.

__ADS_1


"Aku Leon. Tadi, ada yang minta tolong dipanggilin Kak Mery, tapi aku nggak tahu orangnya yang mana." Leon tentu berbohong. Nama Mery saja hanya nama yang ia karang sesuka hati.


"Oh, Mery. Aku juga nggak kenal. Kamu salah orang. Btw, namaku Siska!" Gadis itu menyodorkan tangannya pada Leon. Senyum penuh kemenangan tercetak di bibir pria itu, namun ia sembunyikan beberapa detik setelahnya. Ternyata, mendekati gadis itu tidak sesusah yang ia bayangkan. Dan memang, orang ganteng sepertinya pasti jalannya akan selalu dipermudah. Oke, jangan hujat Leon. Terkadang rasa percaya dirinya itu sering membuat orang ingin munt4h.


"Oh, maaf kalau gitu. Salam kenal, Kak Siska." Leon menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya dengan lembut. Tak lupa, senyuman manis ia pasang, untuk membuat si gadis di depannya itu terpikat.


"Kamu murid baru ya? Kok aku baru lihat?" tanya Siska basa-basi. Padahal, dia sudah jelas tahu kalau Leon memang murid baru. Semua ia lakukan agar bisa berbincang lebih lama dengan si pria yang sejak hari pertama kedatangannya sudah banyak digilai oleh perempuan itu.


Leon mengangguk. "Iya, baru masuk kemarin!" jawab Leon.


"Oh, gitu. Pantas aja muka kamu kaya asing gitu. Oh ya, mau pesan juga?" tanya Siska. Leon mengangguk. "Iya." Kemudian perbincangan keduanya terhenti saat pesanan milik Siska dan dua temannya sudah selesai dibuatkan.


Siska kemudian berpamitan pada Leon. Bahkan, gadis itu menawarkan agar Leon duduk bersama mereka saja, namun ditolak oleh Leon. Setelah kepergian tiga gadis itu, Leon menatapnya dengan senyuman miring karena melihat tiga orang tersebut saling bisik-bisik dan saling senggol kemudian tertawa bersama. Ternyata, segampang itu mendekati si gadis populer itu.

__ADS_1


Leon sebenarnya tak sebodoh itu mendekati Siska. Dia sempat mendapatkan info kalau yang melapor ke kepala sekolah kalau Riana membawa obat terlarang di tasnya adalah Siska. Leon yakin, Siska tahu sesuatu tentang Riana juga. Itu sebabnya, kuncinya untuk membuka segala rahasia, akan ia awali dari kasus Riana, dan pemegang kunci pertama tersebut adalah Siska. Entahlah, Leon merasa kasus Sukma ini sangatlah rumit. Tapi dia tak akan menyerah. Dia sudah dipercayakan untuk membantu masalah Sukma, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.


__ADS_2