
Setelah diobati oleh dokter, Seno masih tetap dibiarkan menenangkan diri di sofa tersebut. Sejauh ini, belum ada yang buka mulut. Nathan pun sedang berusaha mengontrol emosinya. Jangan sampai emosinya naik kembali dan akhirnya menghajar Seno kedua kalinya.
"Saya akan jujur sekarang!" Lama ditemani kesepian, Seno akhirnya bersuara. Sakit sebab dihajar Nathan tadi memang masih terasa. Namun ia paksakan diri untuk bicara. Aura di dalam ruangan itu terasa mengerikan, karena Seno tahu, masing-masing dari mereka memendam kemarahan padanya. Dalam hati, Seno bersyukur. Sukma ternyata dipertemukan dengan orang baik seperti mereka. Karena Seno menyangka, Sukma selama ini telah dibunuh atau diasingkan oleh pria yang menjadi akar permasalahan semua ini.
"Saya menyukai Sukma, sejak pertama kali bertemu dia. Saya benar-benar menyukainya, bukan hanya sekedar kagum semata. Sayangnya, Sukma sama sekali tak memiliki perasaan itu. Dia sulit didekati, dan selalu cuek saat aku berusaha meraih simpatinya. Sukma menganggap seolah saya tak terlihat." Seno terdengar menghela napas kasar. Mengingat bagaimana dulu dia berusaha mengambil hati Sukma, sayang gadis itu terlalu cuek dan sulit diraih.
"Saya tidak pernah menyerah mendekati dia. Tapi-suatu hari saya dapat tawaran yang menurut saya menguntungkan untuk mendapatkan Sukma." Seno memelankan suaranya di kalimat terakhir. Sementara Nathan yang mendengar kalimat tersebut, mengepalkan telapak tangannya. Rasa ingin kembali menghajar Seno terlintas di kepala Nathan. Daniel dan Neo yang berada di dekat pria itu dengan sigap menahan bahu Nathan, agar dia tidak kembali lepas kendali seperti tadi.
"Itu kebodohan saya, dan saya mengakui itu. Saya yang kebingungan harus meraih Sukma dengan cara apa lagi, langsung tergiur dengan bujukan orang itu. Berharap dengan menodai Sukma, akan menimbulkan benih saya. Saya bahkan rela berhenti sekolah dan bertanggung jawab pada Sukma. Karena memang saya secinta itu sama dia!"
"BR3NGS3K! KAMU MAU MEMBUAT SUKMA MENGULANG KEHIDUPAN ORANG TUANYA?"
Nathan yang sudah kepalang emosi berteriak saat mendengar kalimat b0d0h Seno. Menghamili Sukma lalu menikahinya untuk tanggung jawab? Mereka masih terlalu kecil. Sukma adalah bukti anak yang menjadi korban nikah muda. Lalu Seno ingin membuat hal yang sama? Akan ada berapa Sukma lagi yang jadi korban pemikiran sempit dan b0d0h pria seperti Seno?
"Sabar Nat, sabar! Kita dengarin penjelasan dia dulu." Neo berusaha menenangkan Nathan.
"Benar, Nat. Ingat kata Om Hisyam tadi, kalau dia m4t1, usaha kita akan sia-sia." Daniel pun menambahkan.
Seno tertunduk. Dia tidak terlalu tahu bagaimana keluarga Sukma. Sebab, dia mencintai gadis itu apa adanya. Tak peduli Sukma dikucilkan orang lain karena penampilannya yang aneh. Tak peduli Sukma selalu dibully orang lain. B0d0hnya Seno, kenapa di awal dia tidak berinisiatif mencari tahu kenapa Sukma berpenampilan seperti itu? Kenapa Sukma berbeda? Dia malah tergiur dengan bujukan 1bl1s yang nyaris menghancurkan masa depan Sukma.
"Sampai mana kamu menyentuh Sukma?" Hisyam akhirnya bersuara setelah lama terdiam. Sapto melirik bosnya itu. Dia tahu, di balik wajah datar dan tenangnya, Hisyam ingin membunuh pria b3j4d yang menyakiti puteri kesayangannya itu.
__ADS_1
"Sejauh mana kamu berbuat k3j1 pada anak saya?" Hisyam kembali bertanya, dan membuat Seno terhenyak. Anak? Bukannya...
"Kenapa? Kamu heran? Sukma anak saya! Gadis yang kamu lec3hk4n itu anak saya! Itu sebabnya, kamu berurusan dengan saya."
Seno menghembuskan napas kasar untuk ke sekian kali. "Saya-saya hanya mencium dia. Sempat terpikir untuk melakukan hal yang lebih dari itu. Tapi Sukma pingsan. Dan saya merasa iba ke dia."
"BOHONG! DIA TRAUMA. KETAKUTAN BERDEKATAN DENGAN ORANG LAIN, DAN KAMU MENYANGKAL?"
Nathan lolos dari penjagaan Neo dan Daniel. Secepat kilat pria itu sudah ada di hadapan Seno, dan mencengkram kerah kemeja Seno yang sudah terdapat noda d4r4h itu.
"Nat! Nathan, astaga!"
"Ya Allah, licin amat kaya belut! Lolos aja dari tangan!"
Seno semakin menundukkan pandangannya. Sukma trauma. Dengan kata lain, dia menambah trauma pada diri gadis pujaannya itu. Seno bahkan malu sendiri, mengakui jika dia mencintai Sukma. Semua perbuatan bejatnya, masih pantaskah ia labeli sebagai bentuk alasan dari cinta? Seno merasa dirinya lantas m4t1 kalau seperti ini.
"Ungkapkan kejujuran! Jangan berbohong untuk menyelamatkan diri kamu sendiri. Karena percuma, kamu sudah berada di tangan kami!" Hisyam berujar pada Seno.
Seno menggeleng pelan. "Saya serius. Setelah Sukma pingsan, saya benar-benar seolah tersadarkan dari pemikiran 1bl1s itu. Saya membawanya keluar dari sana."
"Lalu, kenapa di CCTV tak ada rekaman selanjutnya? Hanya sampai kamu melepas pakaian Sukma dan dia sudah pingsan itu?" tanya Hisyam.
__ADS_1
"Semua sudah disetel oleh pria tua itu. Saya dan Siska dijebak. Dia bahkan sengaja memasang satu CCTV di kamar mandi tempat kami mengurung Sukma. Dia juga menghapus rekaman selanjutnya, agar rekaman itu membuat saya dan Siska bisa disudutkan. Semua untuk dia jadikan ancaman seandainya kami buka mulut. Tapi saya sudah tidak peduli pada ancamannya. Saya siap membuka siapa jati diri dia sebenarnya, dan kenapa dia melakukan semuanya pada Sukma."
"Kamu bisa menjamin ucapan kamu benar?" tanya Hisyam penuh intimidasi.
Seno mengangguk. "Saya berani bersumpah, kalau saya belum menyentuh Sukma sejauh itu. Rasa takut dan trauma dia, mungkin karena ketakutan saat saya berusaha melecehkan dia di awal. Dan saya tetap mengakui, kalau itu memang kesalahan saya."
Hisyam mengangguk. Melihat wajah Seno yang terlihat bersungguh-sungguh, Hisyam memilih percaya. Mereka juga merasa lega dalam hati, ternyata Seno tak menjamah Sukma seperti ketakutan mereka di awal melihat rekaman tersebut. Bukan karena tak bisa menerima Sukma yang sudah dinodai. Tapi lebih ke arah bersyukur, sebab jika Sukma benar-benar menjalani hal itu, akan seberat apa beban gadis malang tersebut.
"Kalau begitu, jelaskan pada kami, siapa pria tua yang kamu maksud?" Mereka jelas sudah tahu siapa dia. Namun, mereka butuh kesaksian dari Seno sendiri untuk menyebutkan nama pria k3j4m itu.
"Om Hans. Kepala Sekolah! Dia akar dari semuanya."
"Dia tahu Siska membenci Sukma, karena selalu merasa tersaingi di mata guru-guru. Dia juga tahu, sebesar apa usaha saya untuk membuat Sukma melihat saya. Dia memanfaatkan kami berdua, untuk menjalankan rencana kejinya. Memperalat kami, agar tangannya tetap bersih. Dia pria yang sangat licik.
"Perbuatan kami, diketahui oleh salah satu siswi yang dekat dengan Sukma. Setelahnya, Om Hans malah melakukan fitnah ke dia. Om Hans juga memalsukan tes n4rk0b4 untuk siswi itu agar dia bisa menyingkirkan dengan cepat. Apalagi siswi itu berasal dari orang berada. Menyebarkan rumor tersebut ke luar sekolah, dan membuat orang tua siswi itu merasa terancam karena gosip tentang anaknya. Kalian pasti sudah tahu siapa yang saya maksud, kan?"
Seno menghela napas pelan. "Riana Kusuma. Dia tidak bersalah sama sekali. Dia hanya korban fitnah dari Om Hans. Obat-obatan itu, Om Hans yang memasukkannya ke dalam tas Riana. Tesnya pun ia palsukan untuk memperkuat bukti. Riana akhirnya diasingkan oleh orang tuanya, dan bahkan tidak diberi izin akses untuk menghubungi orang terdekatnya di sini. Semua itu adalah saran yang diberikan Om Hans pada orang tua Riana, yang sebenarnya itu hanya jalan dia untuk membuat Riana kesulitan buka mulut.
"Di sekolah, Om Hans melarang anak-anak menyebutkan namanya dengan dalih aib sekolah. Padahal, semuanya salah. Dia hanya takut, jika orang lain merasakan kejanggalan dan memilih menyelidiki kasus itu diam-diam. Pria itu memang sangat licik, dan saya menyesal menjadi salah satu orang yang ia jadikan pion untuk mencapai tujuannya."
Semua mendengarkan penjelasan Seno dengan fokus. "Lalu, kenapa dia begitu membenci Sukma?" Daniel bersuara, seolah mewakili pemikiran setiap orang yang ada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Karena Om Hans tidak ingin, Sukma bertemu dengan ibu kandungnya, yang sejak belasan tahun lalu menjadi istrinya. Saya tidak tahu apa alasannya. Tapi yang jelas, semua karena wanita itu."