
Hisyam dan Sapto fokus mendengar kan Nathan yang menjelaskan tentang permintaan Mr. Black. Neo dan Daniel juga hadir di sana, karena keduanya sejak awal bertekad untuk membantu Nathan memecahkan kasus Sukma. Hanya Leon yang tak ada, katanya malam ini dia ada balapan.
"Menurut kalian, gimana?" tanya Nathan di akhir penjelasan.
"Dia bilang dia tidak akan membahayakan Sukma, kalau begitu, tujuannya membantu kita apa?" Sapto menyuarakan pertanyaan yang sejak awal bersarang di kepalanya.
"Itu yang aku nggak tahu. Leon pun sama, meski dia mengenali Mr. Black, dia sama sekali nggak tahu tujuan Mr. Black yang sebenarnya apa. Kata Leon, dia mungkin tidak berbahaya. Tapi, kita harus tetap waspada."
"Andai kita tahu namanya, kita bisa tanya langsung ke Sukma," gumam Hisyam.ahipuka, Sukma sudah bisa mengendalikan diri dari ketakutannya. Meski begitu, dia masih harus sering check up ke dokter Sandra.
"Terus gimana?" tanya Nathan lagi.
"Emm, apa nggak bisa malsuin info tentang Sukma aja untuk dikasih ke dia?" saran Daniel.
"Tapi seperti kata Nathan, dia tahu Sukma bukan di bawah perlindungan Dinas Sosial, yang artinya pengetahuannya dia nggak boleh dianggap enteng. Kalau sampai ketahuan ngasih info palsu ke dia, bukannya dia akan hilang kepercayaan ke kita lagi? Siapa tahu saja, setelah bukti yang yang ia maksud kita dapat, bisa aja buntutnya masih ada. Kita pasti akan kesulitan minta bantuan dia," ujar Neo menyanggah.
"Kalau seperti itu, satu-satunya cara ya harus memberikan apa yang ia mau. Setelah itu, keamanan Nona Sukma harus makin ditingkatkan. Kalau perlu, sewa bodyguard untuk berjaga di sekitar rumah, memantau siapa tahu Mr. Black itu ada maksud menculik Nona Sukma."
___________
__ADS_1
Di sisi lain, seorang pria paruh baya tengah memporak-porandakan meja kerjanya. Dia kesal, karena kehilangan dua hal penting yang selama ini ia sembunyikan. Bukti itu, seharusnya ia musnahkan saja, bukan hanya ia simpan. Dia pikir, dia sudah menyimpannya di tempat aman, namun ternyata dia salah.
Tangannya yang mengepal erat perlahan mengendur. Pria itu mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Mencari satu nama di kontak dan menghubungi nomor tersebut.
"Besok, datang ke ruangan saya. Jangan membantah kalau tidak ingin saya membocorkan semua kelakuan kamu. Katakan pada temanmu itu juga. Ikuti kata saya kalau kalian masih mau hidup aman."
Setelah memutuskan sambungan telepon, dia keluar dari ruangan tersebut dan menemui istrinya yang ada di dapur.
"Apin mana, Ma?"
"Lagi di kamarnya dia kayanya. Kenapa?" Sang istri yang tengah mengatur makanan di atas meja dibantu oleh asisten rumah tangga mereka itu menoleh dengan senyuman manis yang melekat di bibirnya.
Pria paruh baya itu melangkah menaiki anak tangga, berjalan ke kamar sang anak bungsu. Membuka kamar tersebut tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan menemukan sang anak tengah duduk di meja belajarnya sembari menekuri sebuah buku.
Mendengar pintu terbuka, Apin berbalik dan melihat sang papa masuk ke kamarnya dengan wajah datar. Apin pun sama, tak kalah menatap pria itu dengan wajah tanpa ekspresinya.
Pria paruh baya itu mengunci pintu terlebih dahulu, sebelum mendekat ke arah sang anak. "Kamu pasti tahu sesuatu."
Apin menyunggingkan senyum sinis. "Tahu apa? Papa yang membatasi semua pergerakan aku, dan Papa nuduh aku tahu sesuatu? Lucu!" balasnya sarkas.
__ADS_1
"Jangan berbohong! Papa sudah bilang, berhenti peduli ke gadis itu dan jangan ikut campur urusan Papa. Tapi kamu..."
"Aku memang berusaha ikut campur, tapi bukannya Papa yang menghentikan paksa langkah aku? Lalu kenapa Papa datang ke sini dan marah-marah? Aku udah nggak ada urusan sama kasus Papa itu. Jadi, berhenti nuduh aku."
"Yang di ruangan Kepala Sekolah itu, kamu, kan?"
Apin tersenyum remeh. "Ayah seperti apa yang bahkan tak hapal postur tubuh anaknya sendiri. Ah, aku lupa. Papa kan berbeda, ya! Tahunya hanya tentang bagaimana mempertahankan istri Papa hingga hanya menjadi milik Papa sendiri dan melakukan segala kelicikan demi mewujudkan keinginan Papa itu." Apin berdiri dari posisinya, menatap sang ayah dengan berani.
"Menurut Papa, kalau istri kesayangan Papa tahu semua perbuatan Papa selama ini, apa dia masih akan bertahan? Oh, astaga! Dia pasti akan berteriak histeris, dan pergi dari si..."
PLAK!
"Diam kamu!" tamparan melayang ke pipi Apin hingga menimbulkan jejak kemerahan di pipinya. Meski begitu, senyuman miring yang ia pasang sejak tadi tak juga ia surutkan.
"Papa yang minta aku bicara. Datang-datang nuduh aku padahal aku hanya diam. Ckk! Pintu keluar ada di sana! Aku mau istirahat!" Tanpa memedulikan sang ayah, Apin melangkah ke atas ranjang dan membaringkan dirinya di sana.
"Awas aja kalau Papa tahu semua ini perbuatan kamu. Papa akan kirimkan kamu ke Belanda, biar kamu nggak akan bisa mencari gadis itu selamanya."
Pria paruh baya itu keluar dari kamar tersebut dengan langkah lebar. Bahkan, dia tak mengucap maaf setelah memberikan tamparan pada sang anak.
__ADS_1
"Sukma, kamu di mana?" gumam Apin pelan sembari memejamkan mata.