
Di kediaman keluarga Hans Arganta, rumah itu terlihat sangat sunyi, seolah tak memiliki penghuni. Biasanya, di jam begini keluarga itu sudah duduk di meja makan. Mengobrol bersama yang didominasi oleh Dewi dan juga Ayas. Meski Apin dan Hans kebanyakan diam, namun suasana tetap terasa hangat. Namun, hari ini sungguh berbeda. Dewi masih berdiam diri di kamarnya. Membungkus seluruh tubuhnya di balik selimut. Apin sudah berada di kamarnya. Pria itu pindah ke sana saya Dewi sudah tertidur semalam. Sementara Ayas, gadis itu pun juga sudah kembali ke kamarnya sendiri. Semalam dia tidur bersama Dewi.
Sejujurnya, Ayas bingung harus bersikap bagaimana. Di satu sisi, dia tidak ingin papanya dipenjara. Di sisi lain, apa yang dilakukan papanya itu memang sudah keterlaluan. Terlebih lagi, itu dia lakukan kepada darah daging istrinya sendiri.
Selama ini, Dewi selalu memperlakukan mereka dengan baik. Wanita itu mencurahkan kasih sayangnya yang tulus. menganggap Ayas dan Apin seolah anak kandungnya sendiri. Tapi Papanya, malah nyaris membunuh anak dari Dewi. Bukankah itu sangat tidak adil?
Pantas saja selama ini Apin mulai menjauh dari papanya. Dengan sang mama pun, dia mulai terlihat membentang jarak. Mereka berpikir Apin bersikap seperti itu karena tengah menjalani masa labil layaknya remaja pubertas lainnya. Ternyata mereka salah. Apin menjauh, karena sudah tahu hal buruk yang dilakukan oleh Papanya. Apin sadar diri, tak ingin lagi menikmati kasih sayang Dewi, sementara anaknya malah tengah disakiti.
Dewi membuka matanya perlahan. Mata wanita itu sudah membengkak, hingga terasa sulit terbuka. Semalaman dia menangis. Menyesali kebodohannya selama ini yang bisa-bisanya percaya begitu saja pada sang suami. Ternyata, anaknya nyaris meregang nyawa karena ulah suaminya itu sendiri.
Berkali-kali Hans menghiburnya. Mengatakan kalau dia pasti akan bertemu dengan Sukma. Meminta gadis itu untuk tinggal bersama mereka, menebus segala waktu yang pernah terbuang sia-sia. Nyatanya, dia malah tengah disuapi kebohongan oleh suaminya itu. Sukma malah dijauhkan darinya. Bahkan nyaris dibunuh dengan tega.
Dewi beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi. Membersihkan diri, agar tubuhnya kembali segar. Meski dikecewakan oleh Hans, Dewi masih sadar kalau dia tidak boleh mengabaikan dua anak sambungnya. Mereka tak tahu apa-apa. Kalaupun Apin tahu, Dewi paham kalau Apin juga pasti diancam oleh Hans agar tidak memberitahunya. Buktinya, selama ini Apin terlihat membenci pria yang kini sudah menginap di balik jeruji besi itu.
Selesai mandi dan berpakaian rapi, Dewi keluar dari kamarnya. Tujuan wanita itu adalah ke dapur. Menyiapkan sarapan untuk dua anaknya. Mereka begitu perhatian dengannya. Berjaga semalaman, dan tanpa menginterupsi waktunya kenyendiri. Jadi, mana mungkin Dewi akan tega melampiaskan kesalahan Hans pada mereka?
Selesai menyiapkan sarapan, Dewi menuju kamar anak-anaknya. Dia terlebih dahulu menuju kamar Ayas. Gadis itu ternyata baru selesai mandi.
"Mama?!" Ayas terlonjak kaget melihat kedatangan Dewi. Gadis itu buru-buru mendekat. Memperhatikan wajah sembab milik sang Mama.
"Mama udah baikan? Kalau belum, lebih baik Mama di kamar aja. Nanti Ayas bawain makanan ke sana."
Dewi mengulas senyum tipis. Lihatlah, mana mungkin dia akan ikut marah pada anaknya itu?
"Nggak apa-apa. Kita sarapan bersama, ya? Ada yang mau Mama omongin juga, soalnya."
__ADS_1
Ayas mengangguk. "Ayas nyatok rambut dulu, baru turun." Ayas menunjukkan rambutnya yang basah. Dewi kemudian berpamitan untuk menemui Apin di kamarnya. Wanita itu mengetuk kamar Apin terlebih dahulu. Setelah mendengar sahutan dari dalam, dia lantas membuka pintu.
Dewi menautkan alis saat melihat banyak baju tercecer di atas kasur milik Apin. "Kamu mau ngapain, Nak? Kok bajunya diberantakin semua gini?"
Apin meringis pelan, kemudian menggaruk tengkuknya. "Anu, emm...Apin lagi nyari sesuatu aja."
"Memangnya kamu naruhnya di mana? Mau Mama bantu cariin?"
Apin langsung menggeleng. "Nggak perlu, Ma. Mama bantu Apin ini aja, emm--"
Dewi menatap Apin yang terlihat gugup. Sebenarnya, ada apa dengan anak itu?
"Apa?"
"Bantu Apin pilih baju yang pas untuk dipakai pergi."
"Kamu mau ke mana, emangnya?" Dewi mendekat ke arah tumpukan baju tersebut. Mulai memilah-milah mana yang cocok untuk dikenakan sang anak.
"Nggak ke mana-mana, sih. Oh, salah. Aku mau ketemu sama Om Hanif, mau membicarakan tentang Papa nanti. Tapi sebelum itu, aku juga mau ketemu teman dulu."
Dewi mengangguk paham. "Mama pikir, kamu mau kencan."
Wajah Apin langsung memerah saat mendengar ucapan Dewi. Boro-boro kencan, teman perempuan yang dekat dengannya saja, sekarang ia tak punya.
"Mama ada-ada aja tebakannya. Enggak kok. Cuma mau ketemu teman lama."
__ADS_1
"ini aja. Keren kalau kamu pakai ini." Dewi menyerahkan kaus berwarna putih, dengan kemeja panjang berwarna hitam. "Celananya ini aja." Satu lagi yang ia tambahkan kentangan Apin. Celana jeans selutut berwarna senada dengan kemeja.
"Emm...Apa lagi, ya?" Dewi berpikir sejenak. "Ah, kamu ada topi warna hitam, nggak?"
Apin menautkan alis. "Buat apa, Ma?"
"Ya buat kamu pakai, lah! Biar kamu tampan kaya oppa-oppa Korea. Terus, sepatunya pakai yang warna putih itu aja, ya! Mama jamin, kamu pasti terlihat tampan di mata teman lama kamu itu."
Apin menggeleng pelan. "Mama apaan, sih! Aku mau ketemu teman, Ma. Bukan mau ketemu gebetan."
"Ya tetap aja. Teman lama begitu kalau tiba-tiba mau ketemuan, berarti dulu ada hal spesial. Jadi, penampilan kamu harus spesial juga."
Apin menatap lama sang Ibu sambung. Wanita yang merawatnya sejak kecil itu memang memiliki hati yang benar-benar mulia. Meski dulu Dewi pernah melakukan kesalahan. Namun, semua itu karena banyaknya tekanan hidup yang dia rasakan. Apalagi umurnya masih sangat muda. Tapi setelahnya Dewi benar-benar menyesali perbuatannya itu. Buktinya, wanita itu menjelma menjadi wanita yang penuh dengan kasih sayang. Hanya saja, Hans terlalu bodoh sehingga menyakiti istrinya itu.
Dewi yang melihat Apin tiba-tiba melamun, langsung menepuk lengan anak itu. "Kenapa melamun?" tanya Dewi.
Apin menggeleng. Pria itu kemudian menarik sang Ibu ke dalam dekapannya. "Maafkan Apin, Ma. Apin selama ini nggak bisa berbuat banyak melindungi anak Mama dari perbuatan Papa. Apin hanya bisa diam aja tanpa melakukan usaha lebih."
Dewi ikut terdiam. Terlebih saat merasakan bahunya yang membasah. Apin menangis.
Dewi menepuk-nepuk bahu sang anak. "Sstt! Itu bukan salah kamu."
"Sudah ah, masa anak cowok nangis. Anak Mama ini kan, kuat!"
Apin mengangguk pelan. "Iya. Aku janji, aku akan berusaha menebus sikap buruk Papa itu. Mama tunggu saja."
__ADS_1
Dewi hanya mengangguk mendengar perkataan anaknya itu.