Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Konsekuensi Kejahatan


__ADS_3

Nathan memberikan flash disk pada Hisyam dan Sapto yang sudah menunggu kedatangannya di ruangan kantor Hisyam. "Kata Mr. Black, bukti ada di sini. Tapi belum semua, karena ini hanya awal kita bisa menjerat orang yang di balik semuanya."


"Jadi, belum lengkap?" tanya Hisyam. Nathan mengangguk sebagai jawaban.


"Kita akan putar setelah semuanya berkumpul dulu," ujar Hisyam. Nathan memang sudah menghubungi kedua temannya, dan Leon juga untuk datang. Dengan banyaknya mereka, setidaknya bisa dimintakan pertimbangan langkah yang akan mereka ambil selanjutnya.


Pintu ruangan Hisyam diketuk. Saat Hisyam mempersilahkan, Serly--sekertaris Hisyam datang dengan diikuti tiga orang pria di belakangnya. Setelah mengantarkan tiga tamu bosnya itu, Serly kemudian berpamitan dari sana.


"Sekertaris Om?" tanya Daniel pada Hisyam. Hisyam mengangguk, "iya."


"Weh, Tante Fifi nggak cemburu? Orang cantik gitu!" tanya Daniel menggoda.


Hisyam tertawa mendengarnya. "Itu masih sepupunya Nathan. Lagian, kenapa harus cemburu, orang yang lebih banyak bicara ke Serly itu Sapto. Om mana berani sering berinteraksi dengan perempuan lain, takut dikunciin di luar."


Mereka tertawa mendengar ucapan Hisyam, apalagi melihat wajah ngeri yang dibuat-buat oleh pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Oh, sepupunya Nathan, toh? Boleh dong, Om, dikenalin ke Daniel?"


Neo yang ada di samping Daniel lantas menjitak kepala pria itu. "Dasar buaya. Tante-tante aja dia doyan!"


"Kak Serly nggak minat berondong kaya kamu, Niel. Pacarnya Tentara, gantengan dan lebih gagah dia seribu kali dibanding kamu," ujar Nathan menghina.


"Astaga! Tega banget, kalian!" Daniel memegang dadanya seolah menjadi orang paling tersakiti.


"Udah ah, kita itu ke sini karena diundang Nathan. Tau diri dikit kenapa, Niel?" Neo berujar sebal. Dia melirik Daniel yang suka bertingkah tak tahu tempat dan situasi.


"Tuh, kan, Om Hisyam aja nggak keberatan. Reward aku buat suasana nggak tegang, kenalin ke Sekertaris Om, ya?" Hisyam hanya membalas dengan tawa, sementara Nathan dan Neo sudah melirik sinis ke arah Daniel yang cengengesan macam kuda. Berbeda dengan Sapto yang hanya tertawa saja melihat tingkah teman Nathan yang satu itu. Sementara Leon, dia tak minat masuk di dalam candaan teman Abangnya yang menurutnya terlalu aneh menjadi manusia itu.


"Ya sudah, karena kita semua sudah kumpul di sini, kita liat langsung saja bukti yang dibilang sama Mr. Black."


Nathan mempersiapkan semuanya. Flash disk itu dicolokkan pada TV yang memang terdapat di ruangan Hisyam tersebut. Sementara mereka duduk di sofa, memperhatikan dengan seksama rekaman CCTV di layar besar itu.

__ADS_1


_______


Di sisi lain, seorang pria paruh baya tengah menatap dua orang berseragam SMA dengan wajah mengeras. "Awas saja kalau saya tahu, rekaman itu kalian yang curi! Saya akan membuat kalian berdua menyesal selama-lamanya. Kalian lihat sendiri, kan, bagaimana saya menyingkirkan dua gadis itu dengan mudah?"


Si perempuan mendongak, menatap takut ke arah pria paruh baya itu. "Ma...maaf, Pak! Tapi...saya benar-benar nggak tahu masalah rekaman itu. Bukan saya pelakunya." Dia berujar terbata. Wajahnya pucat karena ketakutan. Dia masih ingin bersekolah dengan tenang. Tak terbayangkan jika dia dikeluarkan dari sekolah dengan tuduhan yang bisa membuat namanya buruk selamanya.


Sementara si pria, hanya menatap datar ke arah pria paruh baya itu. "Rekaman itu ada di anda, dan kalau hilang itu bukan tanggung jawab kami. Seharusnya kami yang marah. Kalau sampai rekaman itu bocor ke orang lain, itu malah membahayakan kami. Kalau sampai terbongkar, saya juga tidak akan segan-segan menyeret nama anda juga!"


"Coba saja kalau kamu bisa!" tantang si pria paruh baya.


"Siapa bilang saya tidak bisa? Saya bahkan bisa dengan mudah melaporkan semua perbuatan buruk anda ke istri anda? Benar, kan? Dan coba bayangkan, apa yang akan terjadi setelah itu? Semua bermula gara-gara dia juga, kan? Jadi, saya tidak akan segan-segan mengakhiri semuanya dengan menggunakan dia juga!" ancam di pria remaja itu dengan berani.


"JANGAN MACAM-MACAM, KAMU!"


"Kalau anda bisa mengancam, saya juga bisa. Saya memang salah, tapi tak seberapa. Menjalani hukuman dari kesalahan itu pun saya ikhlas. Tapi anda, kehancuran pasti akan menghampiri keluarga anda!" setelah mengatakan itu, dia keluar dari sana tanpa berpamitan. Saat mencapai pintu, langkahnya terhenti. Dia berbalik menatap si siswi yang masih menunduk ketakutan. "Kamu masih mau di sini? Jangan berbuat jahat kalau ingin hidup tenang. Itu sudah hukum alamnya. Terima aja resikonya kalau ketahuan. Hidup kok dibuat susah!"

__ADS_1


Si siswi itu menundukkan kepalanya sejenak ke arah si pria paruh baya sebagai bentuk kesopanan untuk berpamitan, dan kemudian berjalan menyusul temannya.


__ADS_2