Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Kepikiran Apin


__ADS_3

Hari sidang keputusan akhirnya tiba. Tidak ada pembelaan berlebih dari pihak Hans Arganta. Seno Arganta pun sama, mengakui bahwa dia nyaris melakukan p3m3rk0saan pada Sukma. Sama halnya dengan Siska yang harus pasrah menjalani masa hukumannya di penjara. Hans Arganta dijerat pasal berlapis. Yakni;


-Pasal 76 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan anak yang menjelaskan bahwa setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak. Bagi yang melanggarnya akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72 Juta.


-Pasal 263 KUHP dan pasal 391 RKUHP tentang pemalsuan dokumen


-Pasal 209 KUHP tentang penyuapan.


Hans Arganta mendapatkan hukuman 15 tahun penjara dan denda sebesar 95 juta rupiah.


Seno Arganta dijerat pasal 289 KUHP karena menyangkut pembullyan berbau p3l3c3han. Hukuman penjara Seno diringankan menjadi satu tahun, dengan pertimbangan mendapatkan hasutan dari Hans Arganta. Begitu pula dengan Siska yang terjerat pasal 351 KUHP, hukuman penjaranya 6 bulan dengan pertimbangan yang sama dengan Seno. Setidaknya, dua anak itu bisa mendapatkan pelajaran hidup dari perbuatan mereka yang buruk di masa lalu. Mereka bisa belajar dari kesalahan, agar lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan.


Saat persidangan, Sukma memang tidak dihadirkan. Selain dia takut bertemu dengan tiga orang yang ada di masa lalunya itu, Sukma juga tak ingin terlihat oleh Ibu Kandungnya. Sukma akan membiarkan Dewi tidak mengetahui apapun tentangnya. Hisyam dan Fifi hanya menurut saja. Sebab, Sukma pasti tahu apa yang terbaik untuknya.


Selesai pembacaan sidang keputusan, Hans Arganta hanya mampu tertunduk dalam. Dia menatap ke arah Dewi yang hadir di persidangan, namun sang istri malah membuang muka. Hans meminta izin sejenak untuk berbicara dengan keluarganya sesaat sebelum dibawa kembali ke tahanan.


"Maaf!" ujar Hans pelan. Dewi yang mendengar permintaan maaf sang suami memilih diam. Sebanyak apapun ucapan maaf dari Hans, tetap saja sulit untuk Dewi memberikan pemaafan. Tindakan Hans benar-benar kelewatan. Membohonginya, sana bahkan nyaris menyingkirkan darah dagingnya, siapa yang tidak akan marah?


"Simpan saja maafmu. Jalani hidupmu di penjara dengan baik." Dewi berujar setelah lama terdiam. Dewi melihat Hans yang menatap ke arah belakangnya. Ada Apin dan Ayas yang berjarak sekita lima meter dari mereka.

__ADS_1


"Kalau anak-anak yang kamu khawatirkan, tenang saja. Saya tidak setega kamu, untuk menyingkirkan anak sambungmu. Saya menyayangi mereka dengan tulus. Meskipun kamu bertingkah sebaliknya kepada darah daging saya." Tak ada lagi Dewi yang tersenyum manis dan bertutur lembut saya berbicara dengannya. Hans begitu menyesali itu. Dia tahu konsekuensinya akan seperti ini. Namun, dulu dia berpikir kalau rencananya sangat matang dan tidak akan terbongkar. Sebab, Sukma tak memiliki siapa-siapa yang berpengaruh untuk menolong gadis itu. Ternyata Tuhan membalas kesombongannya itu. Sukma malah dipertemukan dengan orang besar yang pengaruhnya jauh di atas keluarga Arganta. Hans sadar, takdir akan tetap mempertemukan Sukma dengan ibu kandungnya. Hanya saja, dulu dia dengan besar kepala menghalangi takdir itu.


"Titip anak-anak. Dan sekali lagi, maafkan aku. Aku nggak akan membela diri. Yang harus kamu tahu, aku tulus mencintai kamu." Dewi tetap memilih tak menjawab. Wanita itu berbalik, mendekati Ayas dan Apin. Menyuruh kedua anak itu untuk berbicara sejenak pada Hans.


Ayas memeluk Hans erat dan menumpahkan tangisnya. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa, cukup air matanya saja yang berbicara. Sementara Apin, pria itu hanya diam di Samling Ayas.


"Maafkan Papa." Lagi dan lagi, hanya kata maaf yang mampu terucap dari bibir Hans Arganta.


"Ayas janji akan sering mengunjungi Papa di sini. Ayas akan membawakan makanan kesukaan Papa. Kita akan makan bersama-sama."


Hans mengangguk. Sudut matanya telah basah karena air mata. "Kurangin manjanya, ya, Mbak. Kuliahnya juga yang benar. Jangan main-main lagi."


"Apin. Maafkan Papa." Rasanya tenggorokan Hans susah mengeluarkan suara. Layaknya ada sebutir telur yang tertahan di sana. Apin yang selama ini tahu kebejatannya. Bahkan seringkali ia mengancam Apin, agar anak itu tidak mengambil tindakan untuk melaporkannya pada Dewi.


Apin mengembuskan napas kasar. Memberikan anggukan pada sang papa dengan wajah datar.


"Jaga Kakak dan Mamamu. Kamu pria, dan Papa percaya kalau kamu bisa diandalkan." Pria paruh baya itu menepuk pundak anaknya dengan bangga. Meski tak ada balasan apa-apa dari anaknya. beberapa lama kemudian, petugas kepolisian datang memberi tahu bahwa waktunya untuk berbicara dengan keluarga telah habis. Hans pasrah saat polisi itu membawanya pergi dari ruang pengadilan. Sesekali, pria itu menoleh pada keluarganya yang masih berdiri di tempat yang sama, dan tengah menatapnya juga. Ini akhirnya, begitu pikir Hans.


Sementara Sukma, gadis itu berdiam diri di rumah dengan ditemani Nathan. Nathan sengaja tidak pergi ke pengadilan, dan membiarkan orang tuanya saja yang hadir di sana. Dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama Sukma saja daripada emosi melihat tiga manusia yang terlibat dengan trauma Sukma.

__ADS_1


"Kamu kepikiran sidang itu?" tanya Nathan saat melihat Sukma melamun. Mereka sedang berada di ruang keluarga. Tadinya, Nathan tengah mengajar Sukma soal Matematika. Namun gadis itu malah melamun, tak mendengarkan penjelasan Nathan.


Sukma menoleh, dan mengangguk pelan. Nathan mengembuskan napas pelan. "Mereka pasti akan mendapatkan hukuman setimpal. Kamu tenang aja, ya."


Sukma menghela napas keras. "Aku kepikiran Apin."


"Apin?"


Sukma mengangguk. "Aku nggak bisa bayangin jadi dia. Dia yang ikut membantu menjebloskan Papanya sendiri ke penjara. Memberikan banyak bukti kejahatan Pak Hans. Lalu menyaksikan hakim menjatuhkan hukuman. Itu pasti sangat berat."


Nathan sejujurnya tak suka mendengar Sukma membahas si Apin yang tak lain adalah Mr. Black itu. Namun, Nathan tetap menahan diri. Dia tidak memiliki hak untuk melarang Sukma. Apalagi, pria itu memang berjasa besar atas terungkapnya kasus Sukma.


"Dia mungkin melakukannya karena tak mau Papanya tenggelam dalam lautan dosa terus-terusan. Dia juga laki-laki, pasti dia kuat." Nathan berusaha menghibur Sukma.


"Apin pasti akan menyembunyikan kesedihannya, karena harus menjaga keluarganya. Andai penyebab aku kaya gini bukan Papanya Apin, aku pasti akan datang ke dia menghibur sebagai sahabat."


Nathan tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesalnya. Pria itu mendengus. "Sahabat atau yang lain?"


Sukma tersentak mendengar nada ketidak sukaan Nathan yang sangat kentara. Dia kemudian ingat, Nathan pasti sangat membenci keluarga Hans Arganta. Itu sebabnya, Nathan ikutan membenci Apin.

__ADS_1


"Maaf. Aku jadi bahas Apin. Ayo, Bang. Kita lanjut lagi belajarnya." Sekarang Nathan yang bingung. Sukma benar-benar tidak tahu atau hanya tengah mengalihkan pembicaraan?


__ADS_2