
"Teman kamu yang kemarin, siapa namanya, Mbak?" tanya Dewi saat mereka tengah menikmati sarapan. Wajah Ayas terlihat sembab, Dewi yakin gadis itu terus-terusan menangis semalaman.
Ayas menatap Dewi sejenak. "Nathan," jawab gadis itu singkat.
"Nama panjangnya?" tanya Dewi lagi. Ayas menautkan alis. "Mama mau apa emang?"
Dewi meringis pelan, kemudian menggeleng. Anak-anaknya takada yang tahu kalau dia sedang mencari tahu Sukma. Dewi hanya tidak ingin mereka bersedih, dan akhirnya ikut campur.
"Penasaran aja."
"Ayas lupa nama panjangnya siapa," ujar Ayas. Dewi mengangguk pelan.
"Apin, sekolah kamu gimana?" Dewi beralih pada Apin.
"Mulai sibuk, Ma. Bentar lagi ujian, ada pelajaran tambahan nanti. Jadi, mungkin Apin bakal pulang lebih lambat dari biasanya."
Dewi menatap dua anak itu. Sebenarnya, Dewi selalu merasa kasihan pada mereka. Sejak kecil sudah ditinggal ibunya, dan sekarang sang ayah malah mendekam di penjara. Tapi mau bagaimana lagi, Hans memang harus mempertanggung jawabkan kesalahannya.
***
Nathan memandang jengah ke arah gadis di depannya. Gadis itu menghalangi jalannya. Nathan ke kanan, dia juga ke kanan. Nathan beralih ke kiri, dia juga beralih ke kiri.
"Ada apa?" tanya Nathan malas.
"Aku mau bicara."
Nathan mengembuskan napas kasar. "Mau bicara apa sih, Laras? Nggak ada yang perlu kita bicarakan." Nathan sudah malas berurusan dengan Laras. Akhir-akhir ini hidupnya terasa damai. Tidak ada Laras yang datang menggangunya. Lagipula, itu salah Laras sendiri. Dulu saat Nathan mengejar dia, gadis itu malah memilih abai.
"Tapi aku ada." Nathan merotasikan kedua bola matanya. "Selesai mata kuliah pertama baru kita bicara. Sekarang minggir!" Laras menurut. Dia memberikan jalan untuk Nathan karena keinginannya sudah terpenuhi.
Laras menatap punggung Nathan yang menjauh. Gadis itu tersenyum miris. Ia pikir, Nathan berubah cuek dengannya hanya sementara. Menjadikan cueknya sebagai umpan agar Laras meliriknya. Ternyata, Nathan benar-benar tidak lagi menginginkan dia.
"Misi, Neng Laras. Akang Daniel mau lewat." Suara yang berasal dari belakangnya itu membuat Laras mengembuskan napas kasar. Emosinya selalu diuji saat bertemu Daniel. Pria itu selalu saja cari gara-gara dengannya. Ini saja, contohnya. Pasti setelah ini ada saja ucapan julid yang keluar dari mulut pria itu.
__ADS_1
"Habis ngerayu Nathan, ya? Kasihan, nggak dipeduliin," ejek Daniel, tepat di samping Laras. Pria itu sengaja memperlihatkan wajah menyebalkannya agar Laras semakin jengkel. Laras juga heran. Kenapa setiap dia mendekati Nathan pasti selalu dipergoki oleh sahabat pria itu? Mana mulut mereka suka ngatain dia, lagi!
"Selera Nathan itu sekarang high quality. Bukan lagi nenek lampir yang suka sensi kaya kamu."
Laras mendengus sebal. menatap tajam ke arah Daniel, kemudian berlalu dari sana. Dia malas menanggapi ejekan pria itu. Kalau diladeni, malah makin menjadi. Mulut Daniel juga persis mulut perempuan. Pasti ada saja ucapan menyakitkannya untuk mendebat Laras.
"Aduh, lagi kalem ya, tuh anak? Kok nggak ngereog kaya biasanya?" Daniel bergumam, bingung sendiri. Biasanya, kan, Laras suka membalas ucapannya.
"Ini orang gila dari mana, sih, tersesat di sini?" Daniel menoleh dengan mata melotot mendengar ucapan seseorang di belakangnya. Melihat Rita berdiri di sana, Daniel seketika malah langsung ingat Laras tadi. Apa begini ya, yang dirasakan Laras saat dia tiba-tiba muncul dan langsung ngejek? Ini namanya karma dibayar tunai.
"Diam, deh, Nenek Lampir."
"Lah, malah semakin halusi nasi. Emang paling benar anak begini dibawa ke rumah sakit jiwa. Masa orang cantik dilihatnya malah Nenek Lampir?" Rita bersuara, menyindir Daniel.
"Aku lagi nggak mau ribut, ya, Ta!" ujar Daniel sebal.
"Tapi aku lagi mau ribut. Gimana, dong?" Rita menyetel wajahnya semenyebalkan mungkin. Daniel lagi-lagi malah teringat dirinya sendiri. Dia seolah tengah melihat dirinya di depan cermin.
"Kenapa Tuhan harus ngirimin karma ke aku dalam bentuk manusia kaya gini, sih?" gumam pria itu, dan langsung pergi dari sana.
"Makin gila kali ya, tuh anak." Rita menggelengkan kepalanya pelan, kemudian melanjutkan langkah.
***
"Mau bicara apa?" tanya Nathan. Mereka mengobrol di mobil Laras. Kalau mengobrol di kantin atau di tempat lain, yang ada orang-orang akan menggosipkan mereka.
Laras menghela napas pelan. Bahkan, Nathan tak ingin berbasa-basi dulu.
"Nggak mau basa-basi dulu, gitu? Kaya nanya kabar aku atau apa." Laras memaksakan senyumannya.
"Nggak penting," balas Nathan. "Langsung aja. Apa tujuan kamu ngajak aku bicara berdua gini?"
"Aku nggak bilang loh, kalau kita harus bicara berdua. Aku cuma bilang ka-"
__ADS_1
"Stop basa-basi!" potong Nathan dengan nada dingin. Dia terlalu jengah dengan sikap Laras. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan gadis itu.
Laras terdiam. Sedih rasanya diperlakukan seperti itu oleh orang yang dulunya selalu perhatian dan memperlakukan kita begitu spesial.
"Oke, oke. Jangan marah, please!"
Nathan akan membuka mulut, namun Laras langsung memotong ucapannya. "Gadis di restoran itu, siapa?"
Nathan mendengus pelan. "Siapa pun dia, itu nggak ada urusannya dengan kamu."
Laras mengangguk pelan, dan tersenyum. "Kalau aku bilang, aku kenal dia, gimana?" Nathan langsung mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah Laras.
"Aku kenal dia dari salah satu foto yang disimpan adikku. Aku nggak tahu hubungan mereka apa. Yang jelas, mereka sangat dekat. Jadi, kalau kamu pacaran sama dia, mending putusin deh. Soalnya dia sama adik aku itu keliatan serasi dan saling cinta gitu."
Nathan tiba-tiba teringat Sukma yang mengatakan kalau pria yang ia cintai, ternyata saudara tirinya. Itu berarti adiknya Laras. Hatinya kembali ngilu. Kalau tidak salah, Sukma pernah menyebutkan namanya, meski Nathan tahunya pria itu hanya Mr. Black.
"Apa pun itu, bukan urusan kamu, Ras."
"Aku cuma nggak mau kamu sakit hati karena dipermainkan oleh perempuan."
Nathan tersenyum sinis. "Lagi membicarakan diri sendiri?" Nathan mengangkat sebelah alisnya, seolah mengejek ke arah Laras.
"Nat, bukan gitu. Aku cuma nggak ma-"
"Aku udah bilang, itu bukan urusan kamu. Satu hal yang harus kamu tahu. Dia bukan kamu, Laras. Dia jauh lebih baik dari kamu."
"Aku akan tetap ikut campur, kalau itu masalah kamu, Nath. Aku bakal buktiin ucapan aku, kau perempuan itu berpotensi nyakitin kamu!"
Nathan seketika marah mendengar ucapan Laras. Dia tak suka orang memandang Sukma buruk. Karena nyatanya, menurut Nathan, tidak ada keburukan yang melekat pada gadis itu. Berlebihan memang. tapi, memang seperti itu kenyataannya.
"Jaga mulut kamu. Sukma itu perempuan baik. Dia-"
"Sukma?" Laras memotong ucapan Nathan. Dia menutup mulutnya yang menganga lebar dengan tangan. "Nathan. Dia-"
__ADS_1
"Cukup diam! Jaga batasan kamu, untuk tidak menyentuh atau mencari tahu tentang dia lagi. Oh ya, satu lagi. Nggak usah ikut campur apapun yang terjadi di hidup aku. Karena memang semuanya nggak bakal berpengaruh buat aku." Nathan meninggalkan mobil Laras dengan langkah cepat. Sementara Laras, masih syok di tempatnya. Gadis yang bersama Nathan itu...anak dari sang Mama? Gadis yang disakiti oleh ayahnya sehingga ayahnya masuk penjara? Kepala Laras seketika langsung nyeri. Akhir-akhir ini, satu demi satu. kenyataan yang terungkap selalu menamparnya.