
Keesokan paginya, Hisyam benar-benar mengundang Sapto ke rumahnya. Semua pembicaraan mereka lakukan di rumah. Kondisi Sukma masih sama, gadis itu lebih banyak diam seperti halnya kemarin. Senyuman lebar dan wajah berseri yang nampak akhir-akhir ini, sudah hilang entah ke mana. Namun, meski begitu, saat ditanya apa dia baik-baik saja, Sukma mengatakan kalau dia memang tak apa-apa.
Pembicaraan dilakukan di ruang kerja Hisyam. Bahkan, Nathan rela bolos kuliah hari ini. Dia tidak ingin mati penasaran akan rencana yang disusun oleh mama dan papanya.
"Seperti yang Pak Hisyam bilang, sebaiknya kita mencari tahu mulai dari lingkungan rumah Sukma dulu. Kita harus mendatangi rumah tersebut, siapa tahu saja ada petunjuk di sana," jelas Sapto panjang lebar.
"Kalau gitu, besok kita mulai cari tahu dari sana. Saya sudah mengantongi alamat rumah itu, saat pengurusan surat-surat adopsi Sukma," ujar Hisyam.
"Sebaiknya kita memang harus bertindak cepat. Sebentar lagi anak-anak akan ujian kelulusan, dma kita akan kehilangan salah satu sumber informasi. Teman-teman Sukma dulu adalah sumber terkuat untuk dapat informasi sebenarnya. Jadi, lebih cepat lebih baik."
__ADS_1
"Iya. Nathan kemarin memang sempat menyinggung hal yang sama."
"Kalau begitu, kamu rombak kembali beberapa jadwal saya, dan jika ada pertemuan di minggu-minggu ini, utus salah satu orang kita saja untuk mewakili. Karena saya mungkin akan sibuk mengurus hal ini," perintah Hisyam.
"Baik, Pak! Tapi, kalau misalnya pihak klien tidak mau menerima kehadiran anda untuk diwakili, bagaimana, Pak?"
"Kamu batalkan saja pertemuannya. Bagi saya, kesehatan keluarga sangat penting. Saya rasa kami sudah tahu tindakan itu." Sapto tersenyum kecil, dia sudah menduga jawaban Hisyam akan seperti apa. Memang hal seperti itu tak patut dicontoh, tapi, untuk ukuran seorang Hisyam yang namanya sudah terkenal di kalangan para pebisnis, pemutusan kerja sama dari klien jelas akan merugikan klien itu sendiri. Apalagi, di dunia bisnis Hisyam sudah dikenal begitu baik. Tak ada skandal apapun, baik skandal keluarga maupun perilakunya.
___
__ADS_1
Sore harinya, Hisyam dan Fifi mendatangi panti asuhan yang sebelumnya merawat Sukma. Sementara Nathan diminta untuk menemani Sukma di rumah.
"Kasihan, Sukma. Saya cuma tahu tentang dia dari tetangga yang ngantar dia ke sini, dan semua cerita itu sudah saya beberkan ke Ibu dan Bapak waktu itu. Mungkin benar, ada sesuatu yang dialami Nak Sukma di sekolahnya, dan tidak diketahui oleh tetangganya juga," ujar Ibu Panti dengan raut penuh kesedihan. Di sini dulu, hanya dia yang bisa berinteraksi dengan Sukma. Dia sangat bersyukur saat Fifi dan Hisyam datang dan meminta izin mengadopsi Sukma. Sukma itu gadis yang malang. Sejak kecil sudah menderita, dan berakhir membuat kondisi psikisnya terganggu. Kalau saja dia punya uang banyak, sudah sejak dulu dia meminta seorang psikiater untuk menangani Sukma. Sayangnya, sumbangan panti cuma cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Apalagi anak-anak di sana tak sedikit jumlahnya. Kalau dananya hanya digunakan untuk Sukma, kasihan anak-anak yang lainnya.
"Iya, Bu. Padahal, akhir-akhir ini banyak kemajuan di diri Sukma. Dan saya rasa, dia juga sudah bisa mengendalikan ketakutannya, kaya dia nggak sampai histeris dan segala macam. Hanya saja, dia kasihan karena memendamnya dalam diam. Kesedihan di wajahnya sangat terlihat," cerita Fifi.
Ibu Panti itu tersenyum. "Semoga Nak Sukma cepat sembuh, ya, Bu. Dia anak yang baik. Semoga Tuhan memudahkan jalan Ibu dan Bapak untuk kesembuhan Sukma."
"Aamiin." Fifi dan Hisyam bersamaan mengaminkan doa Ibu Panti.
__ADS_1
"Nanti, kalau Nak Sukma sudah sembuh, saya ingin ketemu dia. Mau lihat versi si cantik itu dalam keadaan gembira, bukan lagi penuh kesedihan seperti dulu."
"Iya, Bu. Insya Allah. Kita pasti akan berkunjung ke sini dengan membawa Sukma kalau keadaannya sudah membaik. Sukma juga pasti akan senang bertemu Ibu yang pernah merawatnya." Hisyam menanggapi ucapan Ibu Panti. Dia bisa melihat ketulusan di wajah Ibu Panti tersebut. Tak terbayang jika Ibu Panti menolak merawat Sukma saat diantarkan warga ke sini dulu. Entah akan seperti apa gadis itu sekarang.