Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Guru Les


__ADS_3

Nathan menatap tajam ke arah seorang pria yang saat ini tengah duduk berhadapan dengan Sukma di atas karpet yang ada di ruang tamu. Keduanya saat ini tengah serius memperhatikan buku yang ada meja yang menjadi pemisah keduanya. Nathan semakin memandang tak suka, saat kepala keduanya nyaris bersentuhan. Dengan buru-buru, Nathan mendekat dan berdehem pelan.


"Ehm."


Sukma dan si guru les mendongak. Menatap bingung ke arah Nathan.


"Jaraknya bisa lebih dekatan dikit?" ujar Nathan menyindir.


"Eh?"


"Mama ke mana? Kok cuma berdua aja? Berdua-duaan itu nggak boleh kalau lawan jenis gini. Ketiganya nanti malah set4n." Nathan duduk di samping Sukma.


"Berarti kamu set4nnya." Suara Fifi menyahut dari belakang. Wanita itu tengah membawa nampan yang berisi dua minuman.


Fifi menggeleng pelan, dia tahu kalau Nathan tak suka sang adik ditinggalkan dengan orang asing, terlebih itu seorang pria. Namun, Sukma juga sudah akrab dengan guru lesnya itu. Dan Fifi pergi hanya sebentar saja, dan buru-buru kembali sebab tak ingin meninggalkan Sukma lama-lama.


"Mama apaan sih. Mama nggak liat aja, mereka tadi itu udah dempet-dempetan," lapor Nathan.

__ADS_1


Fifi mendengus, "jangan berlebihan, ih! Mama tahu kamu bohong!"


"Maaf, Bu. Tadi, saya cuma lagi menjelaskan pada Sukma saja, dan Sukma juga serius memperhatikan. Mungkin, karena itu Mas Nathan jadi salah paham."


Fifi meletakkan nampan di atas meja, kemudian langsung menjewer telinga Nathan. "Kamu ini, terlalu berlebihan."


"Ampun, Ma! Kan Nathan cuma mencegah, Ma. Apalagi di sini cuma ada mereka berdua, bahaya!" ujar Nathan membela diri.


"Bahaya, bahaya! Kamu itu malah ganggu kegiatan belajar adik kamu yang ada! Sana, ke kamar! Datang dari kampus bukannya mandi dan ganti pakaian, malah ngerusuhin adiknya yang lagi belajar!" omel Fifi.


Nathan mendengus. "Tapi, Ma! Nathan itu cuma..."


"Issh! Tapi, Sukma..."


"Sana! Ada Mama di sini, astaga! Kamu ini, jadi kakak kok posesif banget! Sana ke kamar! Mama berjaga di sini!" ujar Fifi memotong perkataan Nathan.


Nathan mendengus kesal. Terpaksa dia mengalah, berdiri dari samping Sukma dan menuju kamarnya. Sebelum itu, dia menatap Sukma dengan wajah cemberut, karena gadis itu sejak tadi tak mengeluarkan suara untuk membelanya.

__ADS_1


"Maaf, ya. Anak saya itu terlalu kekanak-kanakan. Dia itu suka posesif gitu kalau menyangkut adiknya."


Guru les Sukma tersebut mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, kok, Bu. Saya Paham. Saya juga punya satu adik perempuan juga soalnya. Saya suka gitu, kalau liat dia dekat sama teman laki-lakinya."


Mata Fifi membulat. "Oh, ya? Kamu punya adik juga?"


Rizal--si guru les--mengangguk pelan. "Iya, seumuran Sukma ini kayanya, Bu."


"Aduh, kapan-kapan ajak ke sini, ya! Biar dia bisa temanan sama Sukma," ujar Fifi antusias.


Rizal tersenyum. "Susah Bu. Anaknya soalnya gimana ya, tipikal anak remaja yang susah dilarang ini-itu. Suka ngelawan juga. Mana mau dia kalau saya ajak-ajak pergi, dia lebih milih main sama teman-temannya," cerita Rizal.


"Aduh, emang ya, anak remaja itu emang suka gitu."


Rizal mengangguk. "Makanya saya kagum ke Sukma. Dia malah lebih suka diam diri di rumah, dan belajar dibanding jalan-jakan shoping kaya anak yang lainnya."


Fifi seketika terdiam mendengar ucapan Rizal. Dia melirik Sukma, sekilas Fifi dapat melihat wajah itu menampakkan ekspresi sedih, namun beberapa detik kemudian normal kembali.

__ADS_1


"Eh, i...iya. Ya sudah, lanjutkan pembelajaran kalian." Fifi mengalihkan pembicaraan. Rizal mengangguk, dan mulai mengajari Sukma kembali.


__ADS_2