
Nathan melirik diam-diam ke arah Sukma yang tengah menunduk fokus ke piring yang berisi makanan. Sejauh ini, Nathan sama sekali belum melihat bagaimana rupa Sukma. Nathan rasanya gemas ingin menyingkirkan rambut yang menutupi wajah tersebut, agar ia bisa melihat rupa adik angkatnya itu.
Sejak semalam, Nathan memutuskan untuk tak lagi marah pada orang tuanya. Meski begitu, jelas dia belum bisa menerima kehadiran Sukma sepenuhnya. Nathan akan membiarkan waktu yang menjawab, sampai kapan rasa sayang itu akan tumbuh di hatinya untuk sang adik angkat. Nathan tidak akan memaksakan diri, karena takutnya jika dipaksa, malah akan berakhir dia membenci Sukma dan jelas itu akan membuat orang tuanya sedih.
Sementara Fifi, wanita itu terlihat sangat asyik bercerita berbagai macam hal. Mulai dari tas incarannya yang tengah diskon, sampai tayangan sinetron di salah satu TV yang sering menayangkan serial India yang menjadi kesukaan banyak orang.
Lain dengan Hisyam. Pria paruh baya itu diam-diam bersyukur karena Nathan terlihat mulai menerima keadaan. Aksi ngambek anaknya itu ternyata telah berakhir berkat bujukan sang istri.
"UHUK!" Di tengah Nathan yang sedang melirik gadis itu diam-diam, Sukma tersedak makanan. Fifi dengan cepat menyerahkan air dan langsung membenarkan rambut Sukma ketika gadis itu akan meminum air tersebut. Nathan memiringkan kepalanya, karena dia berada tepat di samping Sukma. Sayangnya, Sukma kembali menunduk dengan cepat dan menarik rambutnya kembali agar menutupi wajah.
Hisyam yang duduk di ujung meja yang melihat tingkah anaknya itu berusaha menahan tawa.
Selesai makan, Nathan langsung berpamitan ke Kampus. Hari ini dia ada kelas pagi. Pria itu berpamitan pada kedua orang tuanya, dan melirik sejenak ke arah Sukma. Gadis itu ternyata masih asik menunduk. Nathan jadi penasaran, apa Sukma jadi seperti itu karena masa lalunya? Sebenarnya, sesulit apa hidup gadis itu sebelum bertemu kedua orang tuanya?
"Wishhh, anak tunggalnya Bapak Hisyam dan Ibu Fifi udah datang aja." Daniel dan Neo yang datang bersama langsung mengambil tempat duduk di dekat Nathan.
"Dia udah bukan anak tunggal, Niel, kalau kamu lupa!" ujar Neo sembari tertawa.
Daniel ikut tertawa. "Benar juga. Si Nathan, kan, sekarang udah punya dedek ketemu gede, ya!"
__ADS_1
"Berisik, ah!"
"Eh, Nat, si Laras tadi pas ketemu nanyain kamu." Neo yang tengah meletakkan laptop ke atas meja tiba-tiba teringat dengan Laras, primadona kampus mereka dan juga gadis yang disukai Nathan.
"Ngapain?" tanya Nathan bingung.
"Nggak tahu," balas Neo. Nathan kemudian mengangguk mengerti dan kembali diam.
Daniel memperhatikan Nathan dengan lama. Biasanya, ketika nama Laras disebut, Nathan akan begitu semangat. Laras itu cinta gilanya Nathan. Selama ini, Nathan selalu memperlihatkan rasa sukanya pada Laras, sayangnya gadis itu bertingkah seolah tak peduli. Meskipun berkali-kali ditolak, Nathan seolah menjelma jadi pria tak tahu malu dalam urusan mengejar Laras. Tapi ini, kenapa Nathan malah biasa saja?
"Laras, Loh, Nat," ucap Daniel.
Neo juga jadi fokus pada Nathan. "Nat, kamu nggak lagi sakit, kan?" tanya Neo.
"Kalian kenapa, sih?" Jujur, Nathan kebingungan dengan dua sahabatnya.
"Nat, biasanya dengar nama Laras aja kamu langsung semangat. Udah kaya monyet kesana kemari nyari pisang. Ini, malah jadi diam. Padahal Laras duluan yang nyariin." Daniel berusaha menjelaskan kebingungan mereka. Bahkan, dia mengambil perumpamaan yang membuat Neo langsung terbahak.
"Iya, ya. Kok bisa?" Nathan malah bertanya pada keduanya. Dia juga baru menyadari hal itu. Memang, beberapa hari ini dia tak lagi melakukan kegiatannya yaitu mendekati Laras, karena pikirannya benar-benar mumet dengan permasalahan adik angkat. Dia sama sekali tak kepikiran dengan Laras.
__ADS_1
"Si idiot, malah nanya balik. Tapi bagus, deh, kalau kamu udah sadar," ujar Neo. Neo dan Daniel memang sering sebal dengan Laras. Gadis itu bahkan sering memanfaatkan Nathan. Misalnya, saat dia tak membawa mobil, dia akan menghubungi Nathan untuk mengantarkannya pulang. Tapi saat dia bawa mobil, lirik Nathan pun enggak, bahkan berusaha menjauh seolah Nathan bakteri yang menjijikkan. Bagaimana mereka tak sebal, coba? Hanya saja, selama ini mereka menghargai Nathan. Karena seberapa keras pun mereka memperingatkan Nathan, pria itu malah membela Laras. Sudahlah, sudah dikatakan bukan, kau cinta pada manusia itu pembodohan?
"Semoga aja sadarnya bertahan lama," ujar Daniel dan langsung diamini oleh Neo.
Nathan menggeleng pelan melihat kedua sahabatnya itu.
"Masalah sama orang tua kamu gimana, Nat? Udah diselesaikan?" tanya Neo yang tiba-tiba teringat keluhan sahabatnya itu beberapa hari terakhir ini.
"Udah."
"Jadi, dengan kata lain, kamu udah nerima adik angkatmu itu?" tanya Daniel. Pria itu menatap ke arah Nathan dengan serius.
"Aku udah nggak marah ke mereka. Tapi, untuk nerima, ya, belum bisa dibilang iya juga. Gimana waktu aja deh yang jawab, kapan aku bisa nerima dia sepenuhnya."
Daniel mengangguk pelan. "Dapat hidayah dari mana, Nat, sampai tiba-tiba jadi legowo gini?"
"Ckk. Semalam nyokap sempat cerita beberapa hal. Dan, ya, mungkin aku sedikit mengerti kenapa mereka memilih bawa dia ke rumah dibanding anak-anak yang lebih kecil umurnya."
"Bagus, lah. Jangan digalakin, Nat. Baik-baik sama dedek baru," canda Daniel dan mendapat keplakan dari Nathan.
__ADS_1