
Nathan, Neo, dan Daniel kini tengah duduk di kantin. Sesekali saling melempar candaan. Terkadang juga menertawakan Daniel yang menggoda mahasiswi yang lewat di samping mereka.
"Dede!" Daniel menyapa pada tiga orang gadis yang baru saja lewat di sampingnya. Tiga gadis itu menoleh, dan langsung memberikan senyuman manis saat melihat ternyata yang menyapa adalah kakak tingkat mereka.
"Halo, Ka!" Salah satu dari mereka menjawab sapaan Daniel tersebut.
"Rita? Apa kabar?" Daniel memanggil satu nama. Gadis yang ia panggil tersebut menoleh, dan langsung menatapnya sinis.
"Berisik Biawak Jelek!" Nathan dan Neo sontak tertawa mendengar panggilan Rita untuk Daniel.
"Heh! Sembarangan, Nenek Peot!" ujar Daniel tidak terima. Bisa-bisanya dia tadi manggilnya sopan, malah dikatain biawak jelek. Lagipula, si Rita ini aneh. Mana ada biawak ganteng? Orang biawak bersisik gitu.
__ADS_1
"Makan tuh, Biawak Jelek. Lagian, ya, Niel. Nggak semua orang kalo, naksir kamu!" ucap Neo.
Nathan mengangguk setuju. "Nah, betul! Jadi orang kok sok kegantengan. Dapat perempuan anti gombal kaya si Rita, kena, kan!"
Rita itu sebenarnya teman satu jurusan mereka. Daniel dan Rita memang pernah ada kejadian yang membuat keduanya selalu berantem saat bertemu. Ceritanya, waktu itu Daniel yang saat itu masih jadi mahasiswa baru, lagi kejar-kejaran di koridor sama Neo. Lihat Neo yang sudah semakin dekat dengannya, Daniel panik. Dia melihat ada satu cewek yang lagi jalan menuju kelas, dia berencana mau minta tolong buat menghalangi Neo. Niat hati menarik kaos yang dikenakan gadis itu, ternyata tarikannya malah terlalu kuat. Kaos Rita malah sobek di bagian belakang. Hal itu malah jadi pusat perhatian, yang membuat Rita malu setengah mati. Daniel yang mau minta maaf, malah kena tamparan keras dari gadis itu.
"Si Rita itu emang manusia batu. Bisa-bisanya dia masih musuhin aku sampai sekarang!" Daniel menatap sinis punggung Siska yang kini tengah mengantri makanan.
"Ya tapi kan, udah lama! Aku juga berkali-kali minta maaf ke dia. Bahkan aku beliin dia kaos dengan model yang sama selusin, sama BH juga yang warna-warni biar dia nggak keingat BH merahnya dan emosi lagi." Daniel membela diri. Tak terima bila selalu disalahkan pada kasusnya dan Rita.
"Ini, nih! Definisi manusia yang saat pembagian otak malah bolos." Neo geram dengan kebodohan sahabatnya itu. Bukannya luluh dengan cara Daniel, siapapun pasti malah tambah jengkel. Bayangin aja tiba-tiba dapat kiriman kaos dengan model dan warna yang sama sebanyak dua belas biji, ditambah BH dengan jumlah sama dari manusia yang udah mempermalukan kamu di depan banyak orang. Siapa yang nggak kesal, coba? Neo yang membayangkan ekspresi Rita pas Ketu kurir yang ngantar terus sempat baca nama paketnya pasti malu luar biasa.
__ADS_1
"Hah, bodoh, lah! Yang jelas, si Rita tuh yang kekanak-kanakan. Biar apa, gitu? Biar dikejar!" Neo dan Nathan hanya mampu mengembuskan napas kasar akan ketidak warasan Daniel.
"Jodoh sama si Rita tahu rasa, Dan!" ujar Nathan.
"Nah, benar! Aku sumpahin, suatu saat kamu bakal dibuat klepek-klepek sama si Rita."
Daniel seketika panik. "Heh, jangan ngadi-ngadi ya, kalian! Sumpahin itu aku jadian sama cewek baik kaya Sukma. Bukan sama Nenek Lampir macam si Rita!"
Nathan langsung menatap tajam pada Daniel saat mendengar nama sang adik disebut. "Semoga yang dikatakan Neo segera terkabul!" ucap pria itu datar.
"Rasain. Lagian, nekat banget bawa-bawa nama Dede Sukma, padahal ada Abangnya di sini!" Neo menertawakan wajah absurd Daniel.
__ADS_1