
"Keputusan ada di tangan kamu. Kamu mau bekerja sama dengan kami, atau hari ini hari terakhir kamu bernapas di dunia ini!" Hisyam sebenarnya bukan orang yang Setega itu. Namun, di kasus ini, mengancam Siska memang harus dilakukan agar gadis itu amu diajak bekerja sama.
"Kalian pikir, kalian bisa membuatku aku takut?" Siska memasang wajah angkuh, menatap penuh kebencian pada semua pria yang ada di sana.
Nathan maju beberapa langkah, mendekat pada gadis keras kepala yang juga salah satu orang yang berkaitan dengan trauma sang adik. "Bicara semuanya, atau sekarang juga video perundungan itu kita sebar. Dan...semua orang akan tahu, betapa sampahnya puteri keluarga Januar."
"Ah, satu lagi." Nathan menatap Siska penuh intimidasi. "Perusahaan keluargamu itu lagi di ambang kehancuran, bayangin kalau semua investor tahu yang melihat betapa buruknya keluarga Januar dalam mendidik anak. Bisa-bisa, semuanya nggak akan mau menolong perusahaan itu."
Siska tertunduk, wajah angkuh itu kini berganti kekhawatiran. Dia tak tahu, kalau perusahaan keluarganya sedang terancam. Sebab, selama ini dia masa bodoh dengan hal seperti itu. Asal diberikan uang dan segala kemauannya dituruti, Siska tak akan pusing-pusing berinteraksi lebih dengan orang tuanya.
"J--jangan! Aku mohon, jangan bocorin rekaman itu ke publik!" Siska menyerah. Dia berharap, apa yang mereka minta nanti tidak akan membuatnya rugi.
Nathan tersenyum. Pria itu menjentikkan jarinya, "bagus! Kalau begitu, silahkan kembali duduk. Kami semua nggak akan menyakiti kamu selagi kamu bisa diajak bekerja sama!" ujar pria itu.
"A--apa yang mau kalian tahu?" tanya Siska terbata.
__ADS_1
Nathan yang berdiri di hadapan Siska, memperhatikan gadis yang menunduk itu dengan tatapan tajamnya. "Kamu cukup beritahu kami, apa yang terjadi selanjutnya. Apa yang dilakukan pria itu pada...Sukma!" Nathan menggeram tertahan saat berbicara. Emosinya naik saat mengingat bagaimana pria itu menyentuh Sukma yang tak berdaya dalam ketakutannya.
Siska menggeleng. "Aku--nggak tahu! Setelah menyakiti gadis bo--"
"Perbaiki cara berbicaramu, atau mulutmu tidak akan sanggup berbicara selamanya!" Nathan memotong pembicaraan Siska dengan nada menusuk.
Siska seketika merutuki dirinya sendiri. Dia baru sadar sesuatu. Lukisan yang ia lihat tadi, itu lukisan...Sukma. Jadi, semua ini karena gadis itu? Kenapa gadis itu selalu beruntung? Apa spesialnya dia? Kenapa Siska selalu saja kalah dengan dia? Rasanya, gadis itu ingin berteriak keras karena takdir hidupnya yang selalu kalah dari Sukma. Sudah tepat dua tahun gadis itu menghilang, dan kehidupan Siska jadi tentram tanpa saingan. Kini dia malah kembali, bahkan lebih dari yang sebelumnya. Siska benar-benar iri.
"Aku hanya menyakiti dia. Itu saja. Setelah itu, aku nggak tahu lagi karena aku sudah menjauh dari sana." Siska menjawab dengan hati-hati, semua yang di dalam sini ternyata semuanya menakutkan.
"Aku sudah jujur ke kalian. Sekarang aku mohon, tolong lepasin aku!" ujar Siska memohon.
"Kamu pikir semudah itu? Lagi pula, kami belum tahu semuanya. Sekarang, kamu harus jawab. Siapa laki-laki br3ngs3k itu!" Nathan menyeringai.
Siska menelan ludah. Pria itu, kalau dia menyebutkan namanya, bukankah itu bahaya? Dia juga sama bahayanya dengan Leon. Siska takut, kalau dirinya malah semakin bermasalah saat memberitahu nama pria yang melecehkan Sukma.
__ADS_1
"Aku--aku nggak kenal dia. Kalian salah kalau bertanya ke aku!" Siska menggeleng cepat, matanya menatap ke sembarang arah, sangat kentara kalau dirinya sedang berbohong.
"Kalau kamu menyebut namanya, semua akan mudah. Yang terkena imbas, bukan cuma kamu sendiri. Tapi kalau enggak, ya otomatis hanya kamu yang menanggung semua masalah ini. Ingat, nasib kamu dan keluargamu, semua tergantung jawaban yang kamu kasih!" Hisyam bersuara setelah membiarkan Nathan mengambil alih sejak tadi.
"Nona Siska, permudah kami dan kami akan membantu kamu agar konsekuensi yang kamu dapatkan nanti bisa diringankan." Sapto ikut membujuk Siska.
Siska menggigit kukunya, sebab ragu yang menerpa. "Apa jika aku jujur, kalian akan menyelamatkan aku dan keluargaku?" Siska menatap Hisyam penuh permohonan.
Hisyam mengangguk. "Kamu akan tetap menerima hukumanmu, tapi saya bisa membantu perusahaan keluarga kamu agar selamat dari kebangkrutan."
"Keselamatan saya, dia--orang itu bisa menghabisi kami kalau kami buka mulut. Apa kalian bisa menjamin keselamatan saya?"
Hisyam memperhatikan Siska yang seperti dilanda ketakutan luar biasa. Apa orang yang mereka hadapi lebih menyeramkan dari pada mereka, sampai Siska terlihat lebih takut pada orang itu?
"Iya. Saya akan lindungi kamu, dan keluarga kamu. Tapi, beritahu kami, siapa pria di balik rekaman itu dan siapa orang di balik semua masalah ini!"
__ADS_1
Siska mengangguk lega. "Baik," jawab Siska lega.