
"Ma, aku di kasih ini sama Abang!" Sukma memamerkan ponsel barunya pada Fifi yang baru saja memasuki kamar gadis itu.
Fifi tersenyum, Nathan memang sudah meminta izin padanya untuk memberikan Sukma hadiah tersebut.
"Sukma senang, nggak?" tanya Fifi.
Sukma mengangguk. "Senang banget, Ma. Abang baik," ujarnya.
"Sukma, Mama pengen ngobrol sama kamu. Bisa?" Fifi meminta izin terlebih dahulu.
Sukma mengangguk. "Tentang apa, Ma?"
"Sukma kan udah mulai sembuh. Sukma mau nggak, lanjut belajar?"
Sukma lantas terdiam. Wajahnya kembali datar, bulir keringat mulai terlihat di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Se...sekolah?" tanya gadis itu terbata.
"Hei, hei, dengarin Mama! Sukma, tenang ya, sayang! Dengarin Mama, oke?" Fifi buru-buru menangkup wajah gadis itu.
"Sukma bukan belajar di sekolah. Tapi, Sukma akan belajar di rumah ini. Bersama Mama. Kita undang gurunya ke sini. Tapi, kalau Sukma nggak suka nggak apa-apa."
Sukma perlahan menatap Fifi dengan keraguan. "Sukma...maaf, Mama! Sukma tadi buat Mama khawatir ya? Maafin Sukma. Maaf..."
Gadis itu menangis, membuat Fifi yang tak tega langsung menarinya ke dalam pelukan. "Nggak apa-apa. Mama yang minta maaf. Kalau Sukma nggak mau, nggak apa-apa, Mama nggak kan maksa."
"Sukma tenang, ya, sayang. Seperti kata dokter Sandra, Sukma harus berani melawan ketakutan Sukma. Kalau ada yang dirasa mengganjal, Sukma bisa bilang ke Mama, oke?" Sukma hanya mengangguk sebagai jawaban.
___
"Sukma ketakutan pas Mama ngasih tau ke dia untuk lanjut belajar." Saat ini, Fifi, Hisyam dan Nathan tengah berada di ruang keluarga untuk membicarakan masalah Sukma. Sementara gadis yang menjadi objek pembicaraan, kini tengah berdiam diri di dalam kamar sejak tadi. Fifi jadi khawatir, meskipun gadis itu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Papa jadi penasaran, sebenarnya ada apa dengan sekolah Sukma sebelum ini? Sepertinya, ada yang kita nggak tahu dari Sukma. Informasi tentang dia, mungkin nggak lengkap dari para tetangganya itu.," ujar Hisyam.
"Benar Pa. Menurut Nathan, nggak mungkin tetangganya tahu tentang dia di sekolah bagaimana. Jadinya, informasi mereka jelas terbatas. Satu-satunya cara, adalah mendatangi Sekolah Sukma yang lama." Nathan berujar, mengeluarkan pemikirannya.
"Itu sebabnya Mama ngajak kalian bicara. Mama mau minta Papa untuk mencari tahu semua tentang Sukma di sekolah dulu. Papa kan punya banyak koneksi," jelas Fifi.
"Kayanya lebih cepat lebih bagus. Mumpung teman angkatan Sukma dulu masih sekolah di sana. Bentar lagi kan mereka ujian kelulusan. Jadi, kita harus buru-buru. Kita cari tahu lewat teman-temannya juga."
Fifi dan Hisyam mengangguk setuju. "Besok Papa akan datang ke rumah lama Sukma, buat nyari tahu sekolahnya di mana. Habis itu, baru datangi sekolahnya."
"Tapi Pa, kayanya Papa nggak bisa datangin langsung sekolahnya. Lebih baik, ngurus orang buat pura-pura nyari tahu tentang Sukma gitu kaya ngaku sebagai dinas sosial atau apa. Karena kalau mengaku keluarga Sukma, takutnya akan ada yang mereka tutup-tutupi," ujar Nathan menyarankan.
Fifi pun mengangguk setuju. "Benar, Pa. Medsos Mama akhir-akhir ini juga sering seliweran tentang sekolah yang banyak nutupin kebusukan yang ada di dalamnya, biar nggak terendus hukum. Dan malah jadiin korban sebagai tersangka fitnah. Jadi, kita harus hati-hati, nyari tahunya."
"Iya. Besok Papa mau diskusi sama Sapto dulu, gimana baiknya. Sapto itu punya banyak ide brilian. Kita harus banyak berdoa, semoga semuanya bisa cepat terungkap. Kasihan Sukma, dia selalu ketakutan gitu kalau bahas Sekolah." Hisyam menyebutkan nama asisten pribadinya, orang kepercayaan yang sudah bekerja bertahun-tahun untuknya.
__ADS_1