
Malam hari, Sapto kembali datang ke kediaman Hisyam. Kini mereka.kembaki mengadakan pembicaraan di ruang kerja Hisyam.
"Biar aku yang berkunjung ke Sekolah aja, gimana Pa?" Nathan mengajukan diri. Mereka lagi membahas, siapa yang akan diutus ke sekolah tempat Sukma tersebut.
"Kamu kan kuliah, Bang!" ujar Fifi.
"Besok bolos sekali lagi kayanya nggak masalah, Ma." Balas Nathan.
"Gini, biasanya kalau model orang-orang kantoran yang datang apalagi mengaku dari dinas sosial, mereka akan menyambut dengan senang hati. Perkataan mereka akan terjaga, dan jelas kita akan kesulitan memancingnya. Beda lagi kalau yang masih muda, aku bakal mengaku sebagai mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di Kantor dinas sosial di dekat daerah Sukma. Aku bilang aja ke mereka, kalau aku tertarik akan kasus Sukma. Kalau mereka siap membantu, sudah dipastikan pihak sekolah nggak ada tahu apapun dengan kejadian Sukma. Tapi, kalau enggak, kita bisa mencurigai pihak sekolah juga." Nathan menjelaskan idenya panjang lebar.
Sapto, Hisyam, dan Fifi mencerna semua kalimat Nathan, kemudian ketiganya reflek mengangguk bersamaan. Hisyam menepuk pundak sang anak dengan bangganya, "Papa bangga dengan pemikiran kamu."
"Iya, itu ide yang sangat bagus, Nathan. Saya juga sebenarnya sempat bingung mau ngurus siapa. Kalau saya atau Bapak ke sini, kepala sekolahnya bisa curiga. Takutnya, dia pernah minat foto Pak Hisyam di majalah atau apapun, dan akhirnya penyelidikan kita nggak bakal lancar."
__ADS_1
Keesokan harinya, Nathan sudah bersiap. Dengan memakai kemeja berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam, rambutnya dibuat klimis, dan tak lupa tas yang berisi laptop menggantung di bahunya. Pria itu berkaca, dan mengembangkan senyumnya. "Perfect!"
"Abang mau ke mana?" tanya Sukma saat dia dan Nathan berpapasan menuruni anak tangga.
"Oh, Abang lagi dapat tugas kampus, Dek. Ada tempat yang mau Abang kunjungi."
Sukma mengangguk. "Abang ganti parfum?"
Nathan menghentikan langkah, Sukma pun reflek berhenti juga. Nathan menatap Sukma, "emang kamu hapal bau parfum Abang yang kemarin? Tapi, iya. Abang ganti parfum."
Nathan tertawa, tangannya terangkat memeluk puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Gitu, ya? Parfumnya habis, ini parfum pemberian salah satu teman Abang. Karena parfum Abang sebelumnya kehabisan stok, jadinya pakai ini dulu. Nanti deh, pulang bentar Abang mau beli. Atau Sukma mau ikut belinya?" tawar Nathan.
Sukma menggeleng. "Sukma mau di rumah aja. Abang beli aja sendiri!" ujar gadis itu yang membuat Nathan tertawa. "Ayo, kita turun, Bang!" sambungnya lagi saat menyadari kalau mereka berhenti di tengah undakan tangga. Gadis itu meraih tangan Nathan, dan menariknya turun. Sementara Nathan langsung terkejut, namun dia langsung berusaha menguasai diri. Matanya tertuju pada tangannya yang digenggam Sukma, membuat senyuman pria itu mulai merekah di bibirnya.
__ADS_1
"Nathan udah mau pergi?" tanya Fifi. Wanita itu tengah duduk santai sambil menonton TV di ruang keluarga.
"Iya, Ma," jawab Nathan.
Fifi mengangguk pelan. "Hati-hati!" pesannya yang diangguki Nathan. "Sini sayang, kita nonton aja, ayo!" Wanita itu kemudian mengajak Sukma untuk duduk di sampingnya, menikmati tontonan film India yang episodenya entah sudah ke berapa ratusan.
"Aku pergi dulu, Ma." Nathan menyalimi tangan Fifi. Pria itu kemudian beralih pada Sukma. Pria itu kembali menepuk puncak kepala sang adik dan tersenyum kecil. "Abang pergi dulu. Sukma di rumah mainnya sama Mama dulu, ya. Nanti, Abang juga bakal beliin Sukma parfum pas pulang."
Sukma mengangguk antusias. "Sukma mau parfum yang sama kaya Abang, ya," pintanya. Nathan tertawa, "itu kan parfum pria, Dek!"
Sukma menghembuskan napas kecewa. "Nanti Abang cariin yang baunya mirip, tapi yang versi perempuan. Udah, nggak usah sedih!" hibur Nathan.
"Ya udah, aku berangkat!" Nathan kembali berpamitan.
__ADS_1
Nathan menghubungi sang Papa terlebih dahulu, dia ke sana akan diantar oleh Hisyam dan Sapto. Namun, dia pria paruh baya itu akan menunggu di dalam mobil saja. Hanya Nathan sendiri yang akan turun.
Nathan menghembuskan napas berat. "Bismillah! Semoga dimudahkan, ya Allah!" gumam pria itu sebelum naik ke atas motornya.