
"Pak, minta tolong dong, buka pintunya!" Leon berteriak meminta pertolongan pada satpam sekolah saat melihat gerbang sekolahnya sudah tertutup. Satpam tersebut berjalan tergopoh, mendekat ke arah gerbang, melihat penampilan Leon dari atas sampai bawah.
"Kamu...anak sini?" tanya Pak Satpam. Leon langsung mengangguk tanpa pikir panjang.
"Kok kaya baru liat? Bukan anggotanya Den Seno kan?"
Leon menautkan alisnya. Seno? Oh, Leon ingat saat dia mencari tahu siapa saja anak-anak populer di sekolah ini. Salah satunya itu adalah Seno, kakak kelasnya yang selalu menjadi langganan guru BK.
"Bukan, Pak! Saya anak baru. Tadi di jalan, ban mobil saya kempes, makanya terlambat." Leon memberi alasan sepandai mungkin. Semoga saja Satpam ini percaya.
"Ya sudah, kamu boleh masuk. Tapi nanti menghadap ke Bu Klara, dia yang tugas jaga hari ini." Satpam tersebut membuka gerbang lebar-lebar, Leon yang melihat itu tersenyum kecil dan segera berlari menuju mobilnya.
Selepas memarkirkan mobil, Leon kembali mendekati Pak Satpam. "Pak, Ibu siapa tadi yang tugas jaga?" tanya Leon, melupakan nama guru yang disebutkan si Satpam sekolah tadi.
"Bu Klara."
Leon mengangguk. "Di ruangan guru, kan, pak?"
"Iya, Den. Di ruang guru." Leon mengangguk dan berpamitan dari sana. Karena menghapal letak ruang guru sebelumnya, dia langsung menuju ke sana.
Suasana koridor sekolah sudah sepi, karena kegiatan belajar mengajar telah dimulai. Bahkan langkah kaki Leon terdengar nyaring saat menyusuri koridor panjang tersebut. Untung saja siang, kalau malam, mungkin Leon sudah lari ketakutan.
Leon mengetuk pelan pintu berbahan kayu jati tersebut, namun tak mendengar jawaban dari sana. Leon membuka pintu, dan tak menemukan siapapun di sana.
"Kayanya Bu Klara lagi keliling, deh?" gumam Leon. Ruangan itu benar-benar sunyi. Leon kemudian teringat misinya, hampir saja ia lupa tadi alasannya dia memilih datang terlambat seperti ini.
Leon mengedarkan pandangannya kesana dan kemari, matanya dengan awas menatap ke segala sudut. Senyumnya terukir saat melihat CCTV yang berada di sudut ruangan. CCTV itu sistemnya sudah ia rusak sejak kemarin, jadi dia bisa aman. Dengan cepat, Leon mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. tiga benda berbentuk chip di tangannya, segera ia tempelkan di tiga tempat yang menurutnya memadai. Satu di tembok, satu di rak buku, dan satunya lagi di balik bunga hias yang ada di atas meja.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka, membuat Leon yang masih memegang vas bunga tersebut langsung tersentak. Buru-buru dia menegakkan badannya, dan menghadap ke arah orang yang baru datang.
"Eh, Bro?!" Sapa Leon dengan ramah, saat melihat si pria berkaca culun yang sempat ia ganggu kemarinlah yang berdiri di sana. Dia menatap Leon dengan dahi mengerut, membuat Leon meringis pelan. Semoga saja dia tidak ketahuan tadi.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Tyo. Leon menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba langsung gatal. "Emmm, nyari Bu Klara. Soalnya aku terlambat tadi," jawab Leon hati-hati.
Tyo mengangguk. "Bu Klara sudah masuk di kelasku. Kalau mau menghadap dia, langsung ke sana saja."
Tyo kemudian mendekat ke salah satu meja guru, mengambil buku yang tersusun rapi di atas meja tersebut dan membawanya.
"Ikut aku," ujar Tyo. Leon menurut, pria itu berjalan di belakang Tyo sembari menghembuskan napas lega. Semoga saja si culun ini tak curiga atau tak melihat apapun tadi.
Sesampainya di kelas Tyo, ternyata memang Bu Klara ada di sana.
"Kamu murid baru itu, kan?" tanya Bu Klara. Leon mengangguk. "Iya, Bu."
"Ada apa" tanya Bu Klara. Wanita itu meneliti penampilan Leon, dan menggelengkan kepalanya pelan. "Baju kamu masukin itu. Dasi kamu perbaiki simpulnya, pakai dasi kok asal-asalan. Itu, topi kamu juga lurusin. Udah miring setengah gitu!" Bu Klara langsung mengomel melihat penampilan Leon yang asal-asalan.
"Oh, jadi kamu terlambat?" Bu Klara menatapnya tajam. Leon langsung menggeleng, "Saya ada alasan kok, Bu!"
"Apa alasannya?" tanya Bu Klara mengintimidasi.
"Ban mobil saya tadi bo..."
"Nggak usah ngarang alasan. Ban mobil bocor itu udah sering saya dengar setiap menanyakan alasan anak terlambat."
Leon meringis. "Ya kan emang benar, Bu!"
__ADS_1
Mata Bu Klara menyipit menatap Leon, berusaha melihat apakah anak muridnya itu berbohong atau tidak.
"Sumpah, Bu. Saya nggak bohong. Oh, ya, ini buktinya!" Leon memperlihatkan tangannya yang kotor dan ada beberapa noda menghitam di sana. Beberapa murid di sana sontak tertawa menyaksikan perdebatan antara Leon dan Bu Klara.
"Ibu percaya, kan?" Bu Klara meringis jijik melihat tangan Leon yang kotor. "Kamu itu, bisa-bisanya nggak cuci tangan dulu!" ujar wanita itu kesal. Bisa-bisanya ada murid seperti Leon ini.
"Setidaknya ini berguna, Bu. Buat bukti kalau saya nggak bohong!" jawab Leon cengengesan. Bu Klara terlihat menghela napas kasar.
"Tapi tetap saja, kamu harus dapat hukuman. Sana, bersihin satu toilet pria, kalau sudah bersih baru kamu boleh masuk kelas."
Leon mengangguk saja. Setidaknya dia tidak mendapatkan hukuman dijemur di depan tiang bendera sampai jam istirahat.
Leon berpamitan pada Bu Klara. Saat akan berbalik pergi, Leon tak sengaja melihat ke arah murid kelas yang tengah diajar Bu Klara dan melemparkan senyum pada mereka. Tatapan matanya seketika terhenti di satu titik, senyuman miring tercetak di bibir pria itu. "Dia di sini?"
"Heh, kenapa kamu masih di sini?" Teguran dari Bu Klara langsung menyadarkan Leon. Pria itu meringis pelan, "maaf, Bu! Habis, murid kelas Ibu cantik-cantik!"
Seisi kelas tertawa mendengar jawaban Leon, sementara Bu Klara sendiri sudah benar-benar kesal.
"Kamu ini! Mau ditambah hukumannya?" geram guru muda itu.
"Ampun, Bu! Ya sudah, saya pergi dulu kalau gitu!" Leon segera berbalik, namun dia masih menyempatkan diri melambaikan tangannya pada seisi kelas tersebut sebelum keluar dari sana.
"Astaga! Nambah lagi satu murid yang suka nguji kesabaran," gumam Bu Klara sembari geleng-geleng kepala.
Sementara Leon, melangkah ke arah toilet pria dengan senyuman miringnya. "Ah, keputusan untuk milih terlambat hari ini ternyata bagus. Selain misi pertama berhasil, aku nggak perlu capek-capek lagi nyari kelasnya Siska."
"Siska, akan kubuat kau jatuh cinta!" Nada bicaranya ia buat seperti di FTV, tangannya terulur ke depan seolah ada Siska di sana. Kalau ada orang yang melihat Leon, pasti anak itu akan dianggap orang gila.
__ADS_1
Namun, senyuman ini seketika surut saat membuka salah satu pintu toilet siswa. Matanya membulat, ekspresi jijik langsung terpasang di wajah yang dari tadi gembira itu.
"Ya Tuhan, ini kok toiletnya jorok banget? Astaga, mana bau lagi!"