Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Ajakan Leon


__ADS_3

Hari masih pagi, namun Leon sudah berdiri di depan pintu kelas Siska. Pria itu bersandar di dinding, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan sesekali menatap ke arah koridor—menanti kedatangan gadis yang ingin ia temui.


Leon tak peduli ketika ia dijadikan pusat perhatian orang-orang yang melewatinya, terutama para siswi. Mereka banyak yang terang-terangan menatap Leon penuh kekaguman, namun langsung tersadar kala mereka mengingat Leon berdiri di pintu kelas siapa. Terlebih, selama ini mereka tahu kedekatan murid baru itu dengan si kakak kelas hits. Tak ada yang berani menyaingi Siska. Selain galak, gadis itu juga terkenal suka membully siswa yang tidak ia sukai.


“Leon?”


Leon menoleh dan memasang senyum manis saat Siska yang baru datang terkejut melihat kehadirannya di sana. “Hai!” sapa pria itu balik.


“Kok di sini? Ada apa?” tanya Siska. Dia temannya sudah menoel-noel lengannya—menggoda.


“Ciee, masih lagi udah disamperin pangerannya!”


“Mau punya Ayang juga, biar ada yang nyamperin!”


“Diam dulu, ih!” Wajah Siska memerah, kemudian menatap Leon dengan senyum malu-malunya. “Jangan dengarin ucapan mereka, ya!” ujarnya.


“Ayo, kita ke kelas aja! Kayanya ada yang nggak mau diganggu!” goda temannya lagi yang ditujukan pada Siska. Selanjutnya, dia temannya itu memasuki kelas setelah megedipkan mata pada Leon yang hanya dibalas senyuman kecil pria itu.


“Ah, dua anak itu emang benar-benar malu-maluin! Maafin, ya!” ujar Siska lagi.

__ADS_1


Leon tersenyum dan mengangguk. “Nggak apa-apa, kok! Aku ke sini memang mau ketemu kamu.”


Mata Siska membulat, wajah itu terlihat imut. Sayangnya, di balik wajah imut itu, tersimpan kekejaman terhadap orang yang dianggap lebih lemah dari dirinya.


"Oh, emang ada apa?" tanya Siska.


Leon mengulum senyum, "istirahat nanti, kamu mau nggak, temanin aku?"


Siska menautkan alisnya bingung. "Ke mana?"


"Ke kantor boss aku, ada urusan dikit."


Leon mengangguk pelan. "Iya. Tapi ya, jam kerjanya fleksibel gitu. Bisa dikerjakan sambil belajar juga, hitung-hitung nambah jajan," jelas Leon.


Siska mengangguk antusias. "Aku mau, kalau gitu! Aku penasaran kamu kerja di mana?"


Leon terkekeh pelan. "Adalah, di satu perusahaan gitu. Tapi ya, aku bagian lapangan aja. Jadi fix nih, kamu nemanin aku ke sana?" tanya Leon.


Siska menganggukkan kepalanya, "iya. Gajian nanti traktir aku, ya!" ujar gadis itu.

__ADS_1


Leon mengiyakan. "Tenang aja! Lagian, aku pasti dapat bonus ini. Jadi pas gajian, aku akan traktir kamu sepuasnya."


"Eh, enggak! Aku cuma bercanda, kok! Kamu ngajak aku berkunjung ke tempat kerja kamu aja, aku udah senang!" ralat Siska.


"Nggak apa-apa. Kan kamu mau temanin aku, jadi wajar juga aku traktir kamu. Tapi nanti, ya!" Leon lagi-lagi memberikan senyum manisnya pada gadis itu. "Itupun kalau kamu masih mau!" sambungnya.


Siska lantas menggeleng. "Aku pasti mau kalau itu ajakan Leon!" ucap gadis itu dengan yakin.


Leon mengangguk. "Ya udah, aku ke kelas dulu kalau gitu. Bentar lagi bel masuk. Istirahat aku jemput," pamit Leon kemudian sembari melambaikan tangannya. Siska membalas dengan lambaian juga, gadis itu kemudian berbalik dan meloncat-loncat dengan senang. Leon, pria yang lebih muda setahun darinya itu selalu saja memberikan efek luar biasa setiap pertemuan mereka. Leon sangat pintar mengambil hatinya, dan juga pria itu sangat tahu memperlakukan perempuan. Apalagi senyumannya yang tak pernah lepas dari bibir ketika berbicara dengan Siska, padahal dengan gadis lain Leon terkesan cuek. Siska benar-benar merasa dispesialkan olehnya.


"Wiihh, senang banget mukanya. Ada apa?" Siska langsung diberondongi pertanyaan oleh sahabatnya.


"Leon ngajak jalan istirahat nanti." Siska menjawab dengan antusias.


"Seriusan? Istirahat banget, nih? Kenapa nggak pulang sekolah aja?"


Siska mendengus saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut salah satu sahabatnya itu. "Ya terserah dia lah, mau ngajak kapan."


"Bukan gitu, tapi ya...selamat, deh! Kalau udah jadian jangan lupa traktir," ralat gadis itu saat melihat wajah Siska yang berubah marah padanya.

__ADS_1


Siska kembali memasang wajah gembiranya. "Tenang aja. Aku nggak bakal lupa sama kalian kok, kalau jadian. Kita pasti makan-makan." Ketiga gadis itu kemudian tertawa bersama, menikmati kesenangan yang dirasakan Siska bersama-sama.


__ADS_2