
Siska menatap penuh takjub pada bangunan tinggi di depannya. Bukan, Siska bukanlah seorang gadis kampungan yang baru melihat gedung tinggi. Tapi dia takjub, ternyata Leon bekerja di perusahaan sebesar ini.
"Kamu benaran kerja di sini?" tanya Siska memastikan.
Leon mengangguk. "Iya. Tapi seperti aku bilang, bukan di Perusahaannya. Tapi bagian lapangan aja. Lebih tepatnya, aku bekerja untuk pemilik perusahaan ini."
"Kamu hebat banget!" puji Siska. Gadis itu menatap Leon penuh kekaguman.
Selanjutnya, dua anak remaja itu memasuki lobi perusahaan. Keduanya sampai di depan lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas gedung, tempat sang pemilik perusahaan berada. Di dinding sebelah kiri lift, ada sesuatu yang membuat Siska tertarik.
"Leon, itu lukisan siapa? Cantik banget lukisannya!"
__ADS_1
Leon ikut berhenti, melihat sejenak apa yang menarik perhatian kakak kelasnya itu. "Oh, itu. Kamu nggak kenal emang, gadis di lukisan itu?" tanya Leon balik.
Siska menggeleng. "Gimana bisa kenal, orang dia sedang nggak menghadap depan."
Leon tertawa kecil mendengar ucapan Siska. Pria itu mengangguk pelan, kembali menatap lukisan yang dimaksud Siska. Lukisan seorang gadis bergaun sebatas lutut berwarna kuning, dengan berambut panjang yang berdiri di rerumputan hijau, tengah menghadap ke arah danau. Beberapa anak rambutnya tertiup angin, menambah kesan cantik di lukisan itu. Cantik, dan natural.
"Itu anak pemilik perusahaan. Lukisannya baru jadi sebulan yang lalu, dan sengaja diletakkan di situ, biar banyak orang yang semakin mengenal anaknya."
Wajah Siska kembali menunjukkan kekaguman. "Pasti dia disayang banget ya, sama Papanya."
"Ayo, masuk lift. Kita langsung ke atas aja!" Siska yang sedikit tertegun mendengar ucapan Leon langsung terperanjat mendengar ajakan pria itu. Dia mengikuti langkah Leon memasuki lift, menatap wajah pria yang membuatnya jatuh cinta itu dengan lamat-lamat.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Leon, menyadari Siska yang menatapnya lama.
"Kamu...juga sayang, sama dia?" tanya Siska terbata.
Leon mengulum senyum. "Aku sudah bilang, siapa saja yang mengenalnya pasti akan langsung menyayangi dia. Termasuk aku. Dan aku bertekad, nggak akan membiarkan orang lain menyakitinya, baik sekarang ataupun dulu."
"Dulu?" tanya Siska.
"Hmm. Udah, yang terpenting kita sampai di atas dulu. Kalau kamu mau mengenal gadis itu lebih jauh, di sana kamu pasti akan menemukan banyak fakta tentang dia."
Siska memilih diam. Hatinya seolah tak terima mendengar Leon menyayangi gadis lain. Kalau seperti itu, lantas kedekatan mereka selama ini apa? Mereka setiap hari makan bersama di kantin sekolah, Leon selalu membiarkan Siska menjemputnya di kelas, atau bahkan Leon tak pernah menepis omongan orang-orang yang mengatakan mereka memiliki hubungan. Siska sudah besar kepala dengan semua itu.
__ADS_1
Siska pikir, Leon memiliki perasaan yang sama dengannya, dan tinggal menunggu waktu untuk mengungkapkannya. Segala perhatian pria itu membuatnya terhanyut, dan juga tatapan teduh penuh kasih sayang yang selalu Leon berikan padanya membuat gadis itu besar kepala. Nyatanya, Leon mengatakan menyayangi gadis lain secara terang-terangan di depannya. Siapa yang tak akan sakit hati?
Leon yang menyadari keterdiaman Siska hanya melirik gadis itu sekilas. Biar saja Leon memberinya pelajaran, kalau semua hal yang ia inginkan di dunia ini nggak akan bisa ia genggam dengan gampang. Mungkin cara Leon terlalu jahat, mempermainkan perasaan seorang perempuan. Namun, ini juga untuk membuat Siska sadar, sesuatu yang dimulai dengan tidak baik jelas akan berakhir tidak baik. Karena Leon tau, di awal Siska menyambutnya hanya karena dia adalah salah seorang murid baru yang langsung populer karena tampang. Leon tak sebodoh itu, untuk mengetahui akal bulus seorang mengejar kepopuleran macam Siska. Dan sekarang Leon ingin menunjukkan pada gadis itu, tak semua orang bisa ia perdaya dengan kecantikan serta sikap lembut yang hanya sebuah kamuflase itu.