Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Mengikuti


__ADS_3

Saat pulang dari pengadilan, Dewi menyuruh Apin dan Ayas untuk pulang duluan. Wanita itu beralasan ada sesuatu yang mau ia urus terlebih dahulu. Apin dan Ayas menurut. Sementara Dewi, wanita itu masuk ke dalam taksi yang sejak tadi memang sengaja ia pesan. Menutup pintu mobil tersebut, Dewi tak langsung meminta untuk jalan.


Dewi memperhatikan mobil yang berisi Hisyam dan istrinya di parkiran. Tak berapa lama, Fifi, Hisyam, dan Sapto keluar dari bangunan tersebut. Sapto menuju mobilnya sendiri, sementara Hisyam dan Fifi melangkah bersama menuju mobil mereka. Saat Hisyam sudah mengendarai mobilnya keluar dari halaman, barulah Dewi memberi isyarat pada sopir taksi untuk menjalankan mobilnya.


"Ikuti mobil di depan, Pak. Ambil jarak yang aman, tapi mobil mereka harus terpantau. Sopir taksi itu hanya mengangguk mengikuti.


Selama perjalanan, Dewi memperhatikan jalan menuju rumah Hisyam tersebut. Dia harus menghapalnya, supaya memudahkan dia untuk ke sana.

__ADS_1


Dewi melihat mobil yang diikutinya itu berhenti di depan rumah yang memiliki pagar menjulang. Dewi maklum, Hisyam bukan orang biasa.


"Maju dikit, Pak!" ujar Dewi saat mobil Hisyam sudah masuk ke dalam pagar tersebut. Dewi mencatat alamat dan nomor rumah tersebut. Beruntung pintu pagar sudah tertutup, hingga memudahkan Dewi mengambil alamatnya.


"Jalan, Pak!" Selesai dengan urusannya, Dewi kembali ke rumah.


Sebenarnya, saat di pengadilan tadi, Dewi berusaha mencari keberadaan anaknya. Namun, dia tidak menemukan. Mungkin anaknya itu memang tidak ingin datang dan bertemu dengan orang yang sudah menyiksanya di masa lalu. Atau mungkin juga, tidak ingin bertemu dengan ibu kandungnya yang hampir menghabisi nyawanya dulu.

__ADS_1


Dewi mungkin tidak akan menampakkan wajahnya di hadapan Sukma jika memang anak itu tidak mau. Dewi sadar diri. Dialah yang menjadi sumber rasa sakit dari sang anak sejak kecil. Dewi akan rela melihatnya dari jauh. Mengawasi gadis itu, memperhatikan senyumannya dari kejauhan. Bagi Dewi, seperti itu saja sudah cukup.


Sampai di rumah, Dewi langsung menuju kamarnya. Apin dan Ayas sudah berada di kamar masing-masing. Dewi tahu, dua anak itu mungkin sedang menikmati masa kesedihan mereka. Dewi memilih tak mengganggu. karena sebenarnya, dia pun sama. Merasakan kesedihan yang mungkin lebih parah dari yang lainnya. Hanya saja, Dewi berusaha tegar. Tak ada lagi tumpuan Ayas dan Apin selain dirinya. Meski hanya ibu sambung, namun hidup bersama selama belasan tahun tentu ikatan itu sangat kuat.


Berkali-kali Dewi memandang alamat yang tertulis di kertas tersebut. Mengembuskan napas kasar, Dewi menyeka air matanya yang tanpa sadar menetes. Bohong jika Dewi katakan dia tidak ingin memeluk anaknya sendiri. Hanya saja, lagi dan lagi realita menyadarkan Dewi kalau sang anak mungkin begitu membencinya.


"Ibu berharap suatu saat kita akan jadi layaknya Ibu dan anak pada umumnya," gumam wanita itu pilu.

__ADS_1


"Kamu sudah sebesar apa ya, sekarang, Nak? Kamu pasti tumbuh jadi gadis yang cantik." Dewi mengelus kertas tersebut dengan lembut, membayangkan jika itu adalah pipi Sukma--sang anak.


"Maaf jika yang Ibu kasih ke kamu hanya luka dan luka. Dari sejak kamu kecil, bahkan sampai kamu dewasa. Maafkan Ibu, Nak!"


__ADS_2