Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Apin yang sebenarnya


__ADS_3

Setiap hari, Dewi selalu menyempatkan diri untuk mengawasi kediaman Hisyam. Wanita itu akan berada di dalam mobil selama satu sampai dua jam. Dia memarkirkan mobilnya di bawah pohon rindang yang terletak di pinggir jalan. Berharap, anak gadisnya akan keluar dari balik pagar tinggi itu menuju suatu tempat. Dewi tak berharap lebih. Hanya sekedar melihat bagaimana perkembangan anak gadisnya dari jauh saja sudah cukup baginya.


Dewi menghela napas kasar saat lagi-lagi Sukma tidak muncul di sana. Sudah seminggu lamanya dia melakukan hal seperti ini. Berdiam diri di sini, mengawasi rumah keluarga Hisyam layaknya penguntit. "Apa aku sewa orang aja, ya? Siapa tahu, aku bisa dapat foto anakku walau hanya dari jauh." Wanita itu tertunduk sedih.


Sudah dua jam dia berada di sana. Dewi menyerah, dia akan kembali ke rumah. Besok baru ke sini lagi.


Sampai di rumah, Dewi menghubungi salah satu kenalannya. Bertanya jasa terpercaya untuk mengawasi seseorang.


Wanita paruh baya itu menatap lama layar ponselnya. Di sana, tertera nama serta nomor ponsel orang yang bisa ia bayar. Dewi sebenarnya merasa ragu. Memata-matai seseorang sama saja dengan tindakan ilegal. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dewi hanya ingin melihat anaknya, meski hanya dari selembar foto yang tak kentara.


Dewi membulatkan tekad. Jari tangannya menekan nomor tersebut. Tak berapa lama, terdengar jawaban dari seberang sana.


***


Di sisi lain, Apin tengah duduk sendirian di kantin sekolah. Menikmati semangkuk bakso dan segelas es teh. Pria itu memang sejak dulu lebih suka sendiri. Temannya hanyalah Sukma dan juga Riana. Sayangnya dia gadis itu sudah tidak berada di sini.


Ngomong-ngomong soal Riana, nama gadis itu kini telah bersih. Semua terbukti kalau dia bukan pemakai. Polisi yang disuap oleh Hans Arganta juga ikut terseret. Selain hukuman penjara, jabatannya juga dicopot karena telah melakukan kesalahan fatal.


Riana sudah diberikan kebebasan oleh ayahnya berkunjung ke Indonesia. Akan tetapi, gadis itu tetap memilih menetap di Singapura. Dia tidak bisa memaafkan ayahnya begitu saja, karena lebih mempercayai orang lain dibandingkan anaknya sendiri. Apalagi dia diasingkan dari keluarga, dan tidak diberi akses menghubungi temannya. Riana masih belum bisa memaafkan keluarganya, yang menyudutkan dirinya sementara dia tidak bersalah.


Riana kembali aktif di media sosial. Sesekali gadis itu berbalas pesan dengan Apin, saling memberi kabar. Gadis itu bahkan terkejut saat mengetahui banyak fakta yang baru terbongkar. Untung saja dia tidak marah ke Apin. Sebab, yang menjadi biang masalah adalah ayah pria itu. Jadi, Apin sama sekali tak bisa disalahkan. Apalagi Apin turut membantu dengan cara menyerahkan banyak bukti ke pihak lawan.


"Kasihan banget nggak ada temannya." Seorang pria datang dan langsung meletakkan mangkuk baksonya di atas meja yang sama dengan Apin. Apin menatap pria itu malas. Sudah biasa. Dia adik kelas yang tidak ada sopan-sopannya. Bertingkah seenaknya, dan tengil luar biasa.


"Kenapa natap gitu? Ya tahu sih, aku ganteng. Tapi aku masih normal. Geli kalau ditatap penuh kasih sayang sama sesama jenis."

__ADS_1


Rasanya Apin ingin menyumpal mulut pria itu dengan bakso. Atau paling bagus, mangkuknya sekalian.


"Malah cosplay jadi orang bisu. Ngomong, napa?"


Apin mengembuskan napas kasar. Waktu makannya mamah diganggu mahluk jadi-jadian ini.


"Kaca matamu miring." Apin dengan cepat menyentuh kaca mata yang ia kenakan. Memperbaiki kaca mata tersebut, dan baru sadar kalau dia dibohongi oleh pria di depannya.


"Jangan melotot, dong, Bang! Matanya udah lebih gede dari bakso sebiji. Dede takut, Bang!"


Apin menghela napas kesekian kalinya. Untung saja sabarnya setebal bibir tetangga yang suka gosip. Kalau tidak, pria di depannya ini mungkin sudah mandi kuah bakso sejak tadi.


"Berhenti ganggu, dan pergi dari sini!" Apin berujar datar. Lelah dengan kelakuan adik kelasnya yang tidak ada bedanya dengan Kukang itu.


"Yaelah, pelit amat! Orang cuma numpang makan, juga! Daripada Abang sendirian, kentara banget jomblo."


Jam istirahat sebentar lagi selesai. Apin bukannya menuju kelas, pria itu malah menaiki anak tangga menuju rooftop sekolah. Dia membaringkan diri di bangku kosong yang ada di sana. Menatap langit yang terlihat begitu cerah.


Sebenarnya, Apin bingung hidupnya mau dibawa ke mana. Ayahnya dipenjara, kakaknya sedang kuliah, dan dia masih sekolah. Hanif Arganta menawarkannya untuk masuk ke dunia bisnis, namun Apin mengatakan masih memikirkan terlebih dahulu. Apin masih segan dengan omnya itu, karena penyebab Seno bermasalah adalah ayahnya. Beruntung, Hanif Arganta bukanlah orang pendendam. Dia juga tahu tabiat Seno bagaimana. terlebih dengan kejujuran Seno yang mengatakan melakukan itu karena dia ingin memiliki gadis yang ia cintai seutuhnya. Hanif jelas marah. Mana ada orang yang mendapatkan pujaan hatinya dengan tingkah menjijikkan seperti itu. Bukannya luluh, yang ada cewek malah ketakutan dan bahkan akan membenci seumur hidup.


Apin tiba-tiba kepikiran mamanya yang terlihat aneh seminggu ini. Wanita itu kata Bibi sering pergi dari rumah, setiap hari. Lalu akan kembali dengan wajah murung dan langsung mengunci diri di kamar. Apin tahu, Dewi tidak mungkin berkunjung ke lapas. Mata Apin membulat saat sesuatu terlintas di pikirannya. Pria itu langsung bangun dari posisinya tadi.


"Jangan bilang-Mama lagi mencari tahu tentang Sukma?" Apin mengacak rambutnya. Kenapa dia tidak berpikir ke sana sebelum ini?


Melihat tangisan Sukma tempo hari, Apin sudah bisa membayangkan sebenci apa Sukma pada ibu kandungnya sendiri. Kalau sampai Dewi salah mengambil langkah, bisa-bisa Sukma malah semakin jauh darinya.

__ADS_1


"Eh, di sini rupanya."


Apin menatap sinis pada seseorang yang baru datang itu. Dia sudah berusaha menghindar dari kantin, anak itu malah ngikut ke sini.


"Bang, bisa ceritain sedikit tentang Sukma nggak?"


Apin mendongak, kemudian mendengus pelan. "Aku bukan penulis yang pintar menyajikan cerita."


"Ayolah. Pelit amat! Aku mau tau tentang dia, siapa tahu bisa dijadikan bahan referensi untuk PDKT nanti."


Apin langsung menatap tajam pria itu. "Jangan coba-coba dekatin dia," ancam Apin.


Pria itu mengangkat alisnya sebelah. Terlihat sangat, sangat, sangat menyebalkan.


"Ah, posesif amat. Kasihan Sukma, dikelilingi pria-pria posesif. Kalau kaya gini, gimana dia dapat pasangan nanti, ya?"


Apin tambah jengkel. Membayangkan Sukma mempunya pasangan membuatnya sangat sebal. Dia belum ikhlas jika temannya itu punya pacar.


"Ah, lupa. Kalian kan Abangnya Sukma, ya, jadi wajar. Tapi tenang, Sukma bakal bahagia kok kalau sama aku." Apin mendengus keras.


"Diam, Leon."


Leon tertawa melihat wajah kesal Apin. selain Nathan, Apin ternyata juga asik untuk digoda.


"Maaf, deh, Abang Satri!"

__ADS_1


"Berisik, Leon!"


Leon malah semakin tertawa. "Abang Alfin Satrio Arganta jangan galak-galak, dong! Dede takut, nih!"


__ADS_2