Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Leon


__ADS_3

Hari ini, Nathan, Neo dan Daniel tengah berada di cafe, ketiganya ingin bertemu dengan Leon. Anak itu menyuruh mereka menunggu di Cafe tersebut jam 1 siang, namun sampai jam menunjukkan pukul 2, dia belum menampakkan batang hidungnya. Neo mengatakan kalau sepupunya itu memang menyebalkan. Nathan yang mendengarnya hanya mampu menghela napas kasar. Menghadapai Daniel dan Neo saja kesabarannya sudah diuji habis-habisan, kini malah ditambah dengan Leon yang tingkat menyebalkannya Nathan yakin lebih parah dari pada dua sahabatnya itu.


Hampir setengah tiga, barulah seorang pria remaja berambut cepak dengan warna merah bercampur biru di bagian depan rambutnya, muncul menyapa Neo dengan cengiran lebar.


"Maaf, Bang! Tadi lagi ada rapat penting, soalnya!"


Neo menoyor kepala anak itu, karena kesal dibuat menunggu lama. "Leon, aku tau kamu sengaja. Nggak usah sok jadi orang penting yang punya rapat-rapat segala. Kamu buang-buang waktu kita tau, nggak?" Neo mengomel pada sepupunya itu. Kalau dia dijahili tak masalah, tapi ini ada dua temannya lagi. Kalau saja bocah ini bukan bocah ajaib, Neo malas mengusulkan namanya pada Nathan dan Om Hisyam.


"Ckk! Harus gitum Biasain, yang berkepentingan yang nunggu. Sekalian, aku uji, bagus nggak kalian diajak kerja sama apa enggak. Karena kalian rela nunggu, jadi aku terima kerja sama ini!" ujarnya dengan nada sombong.


Neo kembali menoyor kepala anak itu. "Main iya aja, padahal belum tau misinya apa. Gil4!"


Leon hanya tertawa menanggapinya. Sementara Daniel yang melihat itu, dia mengarahkan tatapannya pada Nathan. "Yakin kuat Nat, ngajak anak kaya gini kerja sama?"

__ADS_1


Nathan mendengus. "Sebenarnya enggak, tapi mau gimana lagi." Daniel tertawa mendengar respon Nathan.


"Udah, sekarang serius. Jadi, kalian butuh bantuan apa?" Leon bertanya dengan wajah dibuat serius. "Nggak usah kenalan, nanti juga kenal sendiri. Langsung aja, kalian mau bantuan apa?"


Neo menahan kekesalannya pada sang sepupu. Kenapa dia harus mempunyai sepupu setengil Leon? Untung saja anak itu tertolong sama wajah tampan dan juga kecerdikannya. Sifatnya yang lain mah, buruk semua.


"Saya butuh bantu..."


"Saya, saya! Santai aja, Bang! Jangan kaku-kaku ke aku. Ya udah, kenalan dulu kalau gitu. Leon!" Leon menyodorkan tangannya pada Nathan. Neo memukul pelan kepala sepupunya itu karena sudah terlanjur kesal. Memang, Leon itu diciptakan untuk menguji kesabaran Neo kayanya. Dan kini, Nathan mungkin akan kena imbasnya juga. Kalau Daniel Neo malah nggak ambil pusing, tuh Daniel sebelas dua belas kelakuannya macam Leon.


"Oke, Bang Nathan. Silahkan jelasin apa yang perlu aku bantu kalau gitu."


Nathan menghembuskan napas kasar. Lalu kembali membuka suara. "Aku mau minta tolong ke kamu, cari tahu sesuatu di Sekolah XX." Nathan kemudian mulai menjelaskan semuanya pada Leon.

__ADS_1


"Jadi, adiknya Bang Nathan ini ada trauma gitu, dan penyebabnya kalian yakin dialaminya pas masih sekolah di sana?" ujar Leon menyimpulkan.


"Iya. Dan kita kesulitan mengakses ke sana. Kalaupun lewat kekuasaan keluargaku sebenarnya bisa. Hanya saja, mereka pasti akan semakin menyembunyikan bukti, atau mungkin malah menyamarkannya hingga kita salah sasaran," ujar Nathan menambahkan.


Leon mengangguk pelan. "Berarti, mau nggak mau aku harus pindah sekolah ke sana, kan?"


"That's it! Itu yang harus kamu pertimbangkan. Kamu nggak keberatan pindah ke sana? Semua akan diurus oleh asisten papa saya kalau kamu mau. Gimana?" tanya Nathan.


Leon mengangguk pelan. "Oke. Sebenarnya aku nggak bakal minta hak muluk-muluk sih sebagai imbalan. Cukup kenalin ke adiknya Bang Nathan aja, itu kayanya udah luar bi..."


"Nggak! Berapapun kamu minta akan aku kasih. Salin dekatin adik aku," potong Nathan cepat.


Leon seketika terbahak. "Posesif. Hati-hati, biasanya kita salah mengartikan perasaan, Bang!" ujarnya.

__ADS_1


Neo dan Daniel mengangguk, membenarkan ucapan Leon.


"Kamu nggak perlu ajarin aku. Aku tau batasanku," balas Nathan kesal. Anak itu benar-benar tak tahu malu. Bisa-bisanya dia menasehati Nathan yang lebih tua darinya, dan baru kenal beberapa jam saja. Sudahlah, ini demi Sukma. Kalau bukan karena Sukma, Nathan ogah bekerja sama dengan anak tengil macam Leon ini.


__ADS_2