Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Saudara


__ADS_3

"Sukma bobo, oh Sukma bobo. Kalau tidak bobo, digigit nyamuk."


"Oh, ngantuk ya, Sayang, ya? Atau mau mimi?"


"Cup, cup, cup! Lucunya anak Mama."


"Hari ini, tanggal pernikahan Mama sama Papa, Sayang. Udah tiga tahun Mama sama Papa sama-sama. Semoga akan selamanya, ya. Meskipun kesusahan gini, kita berdoa semoga jalan ke depannya dimudahkan." Wanita itu berkali-kali mencium pipi anaknya. Dia memeluk anak itu dengan gemas. Keduanya tengah berbaring di atas kasur tipis yang langsung dialaskan di lantai.


Tiba-tiba, perut wanita itu berbunyi, menimbulkan tawa di wajah sang anak yang masih kecil itu. "Ih, ketawa. Lucu ya, dengar suara perut Mama."


"Mama."


"Ma."


"Mama!"


Fifi yang melihat Sukma tidur gelisah dan memanggil mama, segera mendekat. Wanita itu membelai rambut Sukma.


"Sayang, hei. Mama di sini!"


"MAMA!" Sukma berteriak. Gadis itu langsung terduduk di atas ranjang. Mimpi itu...wanita itu juga...


Sukma menatap Fifi yang ada di sampingnya. Dia memeluk Fifi, dan menumpahkan tangisnya. Mimpi itu padahal bukanlah mimpi buruk. Namun, mampu menciptakan kesedihan di hati Sukma.


"Sayang? Kenapa?" tanya Fifi lembut.


Sukma menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Ma. Sukma cuma mimpi."


Fifi melepas pelukannya. memperhatikan wajah itu baik-baik. Mata Sukma terlihat membengkak. Rambutnya juga acak-acakan. Fifi merapikan rambut gadis itu dengan hati-hati, takut menyakitinya.


"Mimpi? Sukma mimpi apa?"


Sukma menghela napas. "Sukma mimpi Mama."


Fifi menautkan alis. "Mama?"


"Ma...ma Dewi."


Fifi sedikit terkejut mendengar ucapan Sukma. Apa mungkin karena Dewi kecelakaan, Sukma tiba-tiba memimpikannya?


"Mimpi buruk?" tanya Fifi lagi.


Sukma menggeleng. "Mimpi masa kecil aku." Mata Sukma kembali berkaca-kaca.


"Sayang, dengarkan Mama, ya. Mama tahu, Sukma nggak benar-benar membenci Mama kandung kamu. Di hati kecil kamu, masih ada rasa sayang yang besar. Hanya kamu terlalu kecewa dengan keadaan, yang membuat kamu tersakiti selama ini. Benar, kan?"


Sukma menunduk. Yang dikatakan Mamanya benar. "Kamu nggak benci sama Mama kamu. kamu, cuma kecewa sama keadaan. Dan satu-satunya pelampiasan, hanya Mama kamu. Dengan alasan, dia yang membuat kamu seperti ini. Meski nyatanya, semua yang terjadi di kamu, bukan keinginan Mama kamu."


"Sekarang, jujur sama Mama. Kamu, benar-benar masih sayang sama Mama kamu, kan?"


Perlahan, kepala Sukma mengangguk. Senyuman Fifi tercipta di bibirnya. Wanita itu menghela napas lega. Benar yang dia katakan. Anaknya adalah gadis malaikat. Fifi sangat bersyukur akan hal itu.


Wanita parah baya itu kembali membawa Sukma ke dalam pelukannya. Dewi pasti akan sangat senang, jika Sukma sudah memaafkannya.


"Oh ya, ada yang mau Mama bilang ke kamu. Tapi, kamu harus tenang, ya." Sukma menautkan alis. Apalagi wajah sang mama yang tengah serius.


"Ibu kandung kamu, kecelakaan. Dia ada di rumah sakit sekarang," ujar Dewi pelan.

__ADS_1


Tubuh Sukma seketika menegang. matanya kembali berkaca-kaca. "I...ini gara-gara aku, kan, Ma. Mama kecelakaan karena aku. Iya...ini salahku."


Fifi buru-buru mencegah Sukma yang akan meremas rambutnya sendiri. Gadis itu pasti akan menyakiti dirinya sendiri.


"Enggak, sayang. Bukan karena kamu. Tenang ya, Sayang. Kita kunjungi Mama kamu nanti."


"Aku mau ketemu Mama Dewi, Ma."


Fifi mengangguk. "Iya. Kita akan ke Rumah Sakit. Tapi, besok aja. Sekarang udah malam. Ya?" bujuk Fifi.


Sukma mengembuskan napas kasar. Mau tidak mau, gadis itu menganggukkan kepala.


***


Esok harinya, Fifi membawa Sukma ke rumah sakit tempat Dewi dirawat. Dewi sudah menanyakan pada Laras ruangan tempat ibu kandung Sukma itu dirawat.


Saat sampai Fifi terperanjat saat melihat gadis yang tempo hari datang ke rumahnya itu berada di sana. Sukma pun juga sama.


"Kamu..."


"Maaf, Tante. Saya, Laras. Anak sambung Mama Dewi." Laras memperkenalkan diri. "Maaf jika di pertemuan pertama saya tidak jujur."


Fifi mengangguk paham. Berbeda dengan Sukma, gadis itu hanya diam saja.


"Gimana keadaan Mama kamu?" tanya Fifi.


Laras menghela napas kasar. "Luka Mama cukup parah di bagian kepala. Semalam Mama menjalani operasi, dan belum sadar sampai sekarang." Gadis itu berujar sendu.


Laras menatap ke arah Sukma, lalu ke arah Fifi. Fifi yang mengerti maksud gadis itu, langsung bersuara. "Sukma ingin melihat keadaan Mama kamu."


"Kamu...sudah maafin Mama?" tanya Laras pelan.


"Ayo masuk! Di dalam ada Apin. Kamu pasti sudah kenal dia, kan?" tanya Laras.


Sukma mengangguk. "Iya."


Laras kemudian membawa Sukma dan Fifi memasuki ruang rawat Dewi. Ada Apin di sana. Pria itu sedang makan di sofa. Sukma hanya melirik sekilas. Apin juga ternyata tengah menatap ke arah mereka. Mata kedua anak itu bertemu, namun lalu memilih mendekat ke arah Dewi yang terbaring di ranjang.


"Kata dokter, sebentar lagi Mama bakal siuman. Dia pasti akan senang, kalau lihat kamu di sini."


Sukma hanya menatap wajah Dewi saja. Gadis itu bingung, ingin melakukan apa. Dia dan Dewi sama sekali tidak pernah menjalin keakraban, membuat ia kebingungan dalam bersikap.


"Kalau kamu ingin bicara ke Mama, kita bisa kasih kamu waktu. Cerita aja. Mama pasti bakal tetap dengar." Laras berusaha bersikap dewasa. Sekarang, dia bukan lagi hanya memiliki satu adik. Tetapi dia sekaligus. Sejak ayahnya dipenjara, Laras menjelma menjadi sosok yang berbeda. Kesombongan gadis itu seolah hilang entah ke mana. Banyaknya masalah yang menimpa, membuat gadis itu berubah menjadi dewasa.


Sukma mengangguk pelan. Fifi mengelus bahu gadis itu. "Mama keluar dulu kalau gitu," bisiknya di telinga sang anak.


Laras memberi kode pada Apin untuk pergi dari sana. pria itu menurut. Selepas ini, baru dia akan meminta waktu Sukma untuk berbicara dengannya.


***


Sukma menatap lama wajah sang ibu kandung. Gadis itu duduk di kursi yang berada di dekat ranjang.


Wajah Dewi benar-benar mirip wajahnya. Sukma tersenyum, mungkin wajahnya akan seperti ini saat dia dewasa. Perlahan, tangan Sukma terangkat mengelus wajah sang ibu. Tangan itu gemetar, bersamaan dengan luruhnya air mata.


"Mama," bisiknya serak. "Mama. Aku..." Sukma tidak mampu melanjutkan ucapannya. gadis itu terisak.


Lama, Sukma hanya menghabiskan waktunya dengan menangis.

__ADS_1


"Aku tahu, Mama nggak salah. Dulu mungkin Mama khilaf. Tapi, aku juga bingung harus bagaimana." Sukma mulai mengatakan apa yang ia pendam selama ini.


"Aku sejak kecil menderita. Sering menangis diam-diam melihat Ayah yang berusaha keras menghidupiku. Kepergian Ayah, menjadi pukulan terberat untuk aku. Tapi, aku berusaha bangkit sendirian karena mengingat perjuangan Ayah untuk menyekolahkan aku." Meskipun dibantu beasiswa, jelas masih ada biaya lain yang harus ditanggung ayahnya.


"Tapi, kejadian mengerikan yang terjadi ke aku setelah itu, benar-benar membuatku gila, Ma. Aku sendirian. Sulit percaya ke orang lain. Aku ketakutan, nggak ada lagi tempatku bergantung. Sampai akhirnya, Mama Fifi datang." Sukma memberi jeda ucapannya.


"Aku kembali merasakan kasih sayang orang tua. Aku menemukan keluarga yang menerima aku dan segala kekuranganku. Mereka membantu aku keluar dari lubang hitam trauma. Aku bersyukur bertemu mereka.


"Saat semuanya aku pikir sudah baik-baik saja. Aku mengetahui sebuah rahasia. Mama masih hidup, dan siksaan yang aku dapat saat SMA itu ada hubungannya dengan Mama. Aku kesulitan untuk menerima kenyataan. Nggak ada hal yang bisa aku jadikan pelampiasan rasa sakit aku, selain menyalahkan Mama. Maaf, Ma."


Sukma kembali terisak. Gadis itu memegang tangan Fifi, dan menciuminya berkali-kali. "Maafkan aku, Ma. Aku menyesal melemparkan semua kesalahan ke Mama."


Sukma menghela napas kasar. Menahan sesak di dadanya. "Mama bangun, ya. Sukma janji, saat Mama bangun, Sukma akan berbincang hangat dengan Mama. Sukma nggak akan melakukan penolakan lagi pada Mama. Sukma....sayang Mama."


***


Saat keluar dari ruangan Dewi, Fifi langsung menyambut Sukma dengan pelukannya. Wanita itu melihat mata sang anak kembali membengkak. Sukma terlalu banyak menangis sejak kemarin.


"Mama Dewi pasti bangun, kan, Ma?" tanya Sukma. Dia takut, mamanya pergi seperti ayahnya. Sukma takut kalau Dewi akan pergi sebelum dia sempat mengucap kata maaf. Sukma ingin menghabiskan waktunya dengan ibu kandungnya juga. Dewi belum boleh pergi. Wanita itu harus mengganti waktu mereka yang terpisah itu dengan mengisi kenangan baru. Dewi harus melihat Sukma bisa lulus sekolah, dan masuk universitas. Bekerja dan menjadi wanita sukses. Dewi harus melihat anaknya agar bisa bangga.


"Mama kamu pasti bangun, Sayang. Kita doakan aja, ya, Sayang!" hibur Fifi.


Laras yang mendengar semua ucapan Sukma ikut menangis. Sedangkan Apin, mata pria itu berkaca-kaca.


"Sukma." Apin memanggil setelah Sukma sudah lumayan tenang.


"Aku mau bicara. Bisa?" pinta pria itu.


Sukma mengangguk pelan. "Kita bicara di taman rumah sakit aja," ujar Apin menambahkan.


"Kak, titip Mama, ya." Laras mengangguk. Entah apa yang akan dibicarakan adiknya itu dengan Sukma.


"Tante, izin bicara sama Sukma dulu, ya."


"Iya. silahkan."


***


"Gimana kabar kamu?" tanya Apin. Mereka sudah berada di bangku taman rumah sakit.


Sukma mengembuskan napas berat. "Seperti yang kamu lihat. Aku...nggak baik-baik aja."


Keduanya terdiam cukup lama. "Kamu...sudah memaafkan Mama?" tanya Apin kemudian.


"Iya. Selama ini, aku mungkin hanya berusaha mencari pelampiasan untuk menjadi objek yang patut disalahkan atas semua hal yang menimpa aku. Dan Mama Dewi menjadi korbannya."


Apin menggeleng. "Itu bukan salah kamu. Wajar kalau kamu bersikap seperti itu."


Sukma tersenyum kecut. "Tapi karena aku, Mama jadi kecelakaan. Seandainya kemarin aku nggak bersikap buruk ke Mama, mungkin kecelakaan itu nggak akan terjadi."


"Nggak boleh ngomong gitu. Semua sudah takdirnya. Kalau kemarin Mama nggak kecelakaan, kamu pasti belum maafin dia juga, kan?"


Sukma mengangguk pelan. Tak dipungkiri, perkataan Apin memang benar.


"Aku berharap Mama segera bangun." Sukma mendongak, menatap langit yang terlihat sangat cerah.


"Harapan kamu pasti terwujud. Aku yakin, Mama mendengar semua ucapan kamu. Dia pasti akan berusaha segera bangun untuk bertemu kamu."

__ADS_1


"Oh, ya. Sekarang...kita saudara, ya?" ucap Apin tiba-tiba.


Sukma mengangguk pelan. Gadis itu berusaha menyembunyikan senyuman mirisnya. "Ya. Kita...saudara!"


__ADS_2