
"Udah lama nggak main ke rumahmu, Nat. Pulang kuliah, kita main ke sana, ya?"
Nathan yang tengah memperhatikan dosen di depan langsung menoleh pada Daniel yang duduk di sampingnya.
"Ngapain?" tanya Nathan malas.
"Ya kangen aja, sama Tante Fifi. Udah lama nggak ngerusuh di sana," jawab Daniel enteng.
Nathan melotot sebal. "Sorry, rumahku bukan penampungan kucing buangan."
"S14l4n, Nat!" umpat Daniel. Nathan hanya mengedikkan bahu saja lalu kembali memperhatikan dosen di depan sana.
Selesai Maya kuliah, ketiga sahabat itu keluar dari kelas. Saat mencapai pintu, langkah ketiganya terhenti karena seseorang menghadang jalan mereka. Ketiganya sontak mendengus kasar bersamaan, menatap malas ke arah gadis yang tengah menyilangkan tangan di depan dada itu.
"Nggak ada jadwal kuliah lagi, kan, Nat? Kita makan siang bareng, yuk! Ada Restoran baru, loh, Nat, di dekat sini. Aku sengaja nungguin kamu buat berkunjung ke sana."
"Heh, Nenek Lampir. Minggir, si Nathan lagi kere alias nggak ada duit. Jadi berangkat aja sendirian." Daniel entah kenapa paling anti dengan Laras. Padahal dia kalau sama cewek cantik biasanya bertingkah seolah cowok paling lemah lembut sejagat raya. Beda lagi ketika berhadapan dengan Laras. Mungkin karena Laras adalah cewek yang tidak terpengaruh dengan wajah tampannya kali, ya, makanya dia sensitif dengan cewek itu?
"Heh, Grandong! Yang aku ajak itu Nathan, kenapa situ yang sibuk nyerocos?" Laras tak ingin kalah. Dia ikut memanggil Daniel dengan sebutan Grandong.
"Udahlah, Ras! Si Nathan itu udah sadar. Jadi nggak usah sok ngedekatin Nathan lagi. Dia itu udah ilfill sama cewek kaya kamu." Seperti biasa, Neo juga berucap tak kalah menyebalkan di telinga Laras.
"Nathan, lihat deh! Issh, jangan diam aja. Mereka ngejekin aku." Laras mengambil tangan Nathan dan menggoyang-goyangkannya dengan manja, meminta pembelaan.
"Minggir!" ujar Nathan setelah lama diam.
__ADS_1
Laras langsung membeku. Nathan lagi-lagi menolak dirinya.
"Nathan!" gumam Laras.
Nathan tak mempedulikan gumaman Laras. Dia menepis tangan Laras, dan melangkah dari sana. Tak peduli bahkan tubuhnya sedikit menabrak tubuh Laras yang sedari tadi menghalangi jalan mereka.
Laras yang tengah kesal mengepalkan kedua tangannya. Tanpa sengaja, matanya menatap ke arah Daniel dan Neo yang masih berdiri di sana dengan tatapan penuh ejekan ke arahnya.
"Sana, Ras. Mending periksa ke dukun bekingan kamu yang dulu. Bilangin, susuknya udah mulai luntur, Mbah!" ujar Daniel memberi saran.
"Loh, emang susuknya bisa diperbarui, Dan?" Neo pura-pura bertanya.
"Ya bisalah. Aplikasi aja bisa diperbarui, apalagi susuk. Iya, nggak, Ras?"
Setelah mengejek Laras habis-habisan, kedua orang itu langsung beranjak dari sana, menyusul Nathan yang sudah pergi lebih dulu.
Daniel dan Neo berdecak kesal karena gak mendapati Nathan di parkiran. Mereka yakin Nathan sudah pulang duluan. Keduanya sebenarnya masih penasaran kenapa akhir-akhir ini Nathan jarang mau diajak main. Dia seolah gelisah ketika berada di Kampus dan akan dengan cepat melesat pergi saat jam kuliah selesai. Ditambah lagi Nathan seolah tak memberi izin jika.mereka main ke rumah Nathan. Padahal biasanya Nathan tak akan melarang.
"Kita susul aja ke rumahnya," ujar Neo yang langsung diangguki oleh Daniel.
Sesampainya di rumah Nathan, mereka berdua masuk dan tak lupa memberi salam. Fifi yang tengah menonton di ruangan keluarga menjawab salam tersebut dan menyambut keduanya dengan hangat.
"Hei, kalian berdua! Udah lama loh, nggak main ke sini. Kenapa?" tanya Fifi setelah mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Nathan yang larang, Tante!" jawab Daniel tanpa saringan. Neo menatap Daniel sebal. Temannya ini benar-benar bermulut ember.
__ADS_1
"Ckk! Anak itu. Lagian, kalian kenapa jadi dengarin dia? Biasanya dilarang pun kalian tetap datang, kan?"
"Enggak Tante. Cuma akhir-akhir ini sibuk aja sama tugas. Daniel bohong soal Nathan yang larang kita main ke sini." Neo berusaha membetulkan agar Fifi tak salah paham.
Daniel memperlihatkan cengiran lebarnya. "Iya, Tante. Benar si Suneo."
Fifi terkekeh pelan melihat dua sahabat anak sulungnya itu. "Oh, ya, Tante pamit ke dapur dulu ya. Mau buatin kalian minum."
Nathan yang baru turun dari lantai dua langsung berdecak sebal melihat kedatangan dua sahabatnya itu.
"Kalian ngapain di sini?"
"Ya mainlah, Nat. Kan aku udah bilang tadi, pulang kampus kita main ke sini," jawab Daniel tenang.
Nathan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
"Nat, Sukma ke mana? Ajak sini, dong. Ngobrol sama kita."
Nathan langsung menatap Daniel tajam. "Nggak usah modus! Dia nggak tertarik sama Buaya."
"Ckk! Posesif amat! Enak aja, ganteng gini dikatain Buaya."
Mendengar kata ganteng, wajah Nathan langsung memanas. Dia malah teringat saat Sukma memujinya. Senyumnya sedikit mengembang, namun ia tahan. Jangan sampai ketahuan Daniel dan Neo.
"Di matanya yang ganteng cuma aku," ujar Nathan tanpa sadar.
__ADS_1
Neo dan Daniel menoleh bersamaan ke arahnya. "Apa?" tanya mereka berbarengan.
"Hah? Apa emangnya?" Nathan yang tersadar malah bertingkah pura-pura bodoh.