
"Nat, apa-apaan semalam itu? Aku sama Neo ketinggalan apa?" Esoknya, Daniel langsung mencecar Nathan dengan pertanyaan saat di kampus.
Sementara Neo hanya diam, karena pertanyaannya sudah ditanyakan Daniel.
"Punya adik ternyata nggak seburuk itu. Jadi, ya, nerima dia nggak masalah kayaknya."
Neo dan Daniel saling pandang. "Yakin cuma itu?"
Nathan menghembuskan napas kasar. "Ada satu dua hal yang detailnya nggak bisa aku ceritakan ke kalian. Intinya, Sukma itu punya trauma. Dan entah aku kasihan atau bagaimana, yang jelas semenjak aku dengar cerita dari Mama waktu itu, kalian pasti ingat kan?" Neo dan Daniel mengangguk. Mereka ingat saat Nathan mengatakan dia mulai berhenti merajuk dengan orang tuanya. "Aku mulai memperhatikan Sukma. Dan perlahan aku mulai bisa nerima dia. Entah aku kayak gini karena kasihan atau apa, yang jelas aku sudah mulai bisa menerima dia."
"Emm, berarti semua keanehan yang ada di Sukma itu karena trauma? Kaya, dia nggak bisa natap orang asing dan sulit berbicara itu, semua karena traumanya dia?" tanya Neo.
Nathan mengangguk. "Iya. Kata nyokap gitu."
"Terus, sekarang dia gimana?" tanya Neo lagi.
"Gimana apanya?" Nathan tidak mengerti maksud pertanyaan Neo.
"Maksudnya keadaanya dia gimana? Traumanya itu, loh!"
__ADS_1
Nathan mengangguk pelan. "Dalam tahap pengobatan. Udah banyak kemajuan juga dia, kata dokter Sandra itu karena tekadnya sendiri yang ingin sembuh. Dia juga butuh dukungan orang-orang sekitar, biar penyembuhannya makin cepat."
Daniel dan Neo mengangguk mengerti. Tiba-Tiba, Daniel berujar yang membuat Nathan ingin segera melempari Daniel dengan meja di depannya.
"Tapi, Sukma ternyata cantik banget, ya. Semalam meski cuma sebentar aja dia ngangkat wajah, aduhhh!"
"Tobat, Niel. Masih aja suka cosplay jadi buaya," peringat Neo. Dia kemudian menatap Nathan yang kini wajahnya sudah terlihat menahan emosi. "Tapi, Nat. Yang dibilang si Kudaniel benar juga. Sukma cantik banget, keliatan natural gitu cantiknya."
"Berhenti ngomongin Sukma. Dia itu nggak secantik yang kalian bayangin. Jadi, jangan muji-muji dia." Nathan menatap tajam dua temannya. Dia merasa jengkel saat mereka memuji Sukma. Entahlah, Nathan sulit mendeskripsikan perasaannya saat ada orang lain yang mengagumi adiknya. Apa seperti ini perasaan seorang Abang saat ada yang mengincar adiknya? Ya, semoga saja memang begitu.
"Posesif amat, Nat. Apa salahnya sih, jadiin salah satu dari kita sebagai ipar," canda Daniel.
_______________
Hari ini, Nathan kembali mendapati keberadaan dokter Sandra di rumahnya. Wanita itu tersenyum padanya, dan mengajaknya berbicara.
"Tante dengar cerita dari Mama kamu, katanya kamu semalam nenangin Sukma ya, biar nggak ketakutan pas ketemu teman kamu?"
Nathan mendengus pelan. Mamanya ini, hal tak penting seperti itu saja diceritakannya. "Iya, Tante." Tak ada pilihan lain selain menjawab jujur, kan?
__ADS_1
"Bagus. Semakin banyak yang mendukung kesembuhan Sukma, semakin cepat juga dia sehat. Oh ya, teman-teman kamu sering-sering aja ajak ke sini, biar Sukma makin terbiasa dengan hadirnya orang lain di sekitar dia. Tapi, kamu harus nemanin dia seperti semalam juga, ya?"
Nathan hanya diam. Dia keberatan kalau dia sahabatnya sering ke sini. Tadi saja bisa-bisanya mereka berani memuji Sukma. Kalau mereka sering ke sini, dan Sukma mulai terbiasa dengan kehadiran keduanya, bisa-bisa salah satu di antara mereka malah nekat mendekati adik angkatnya itu.
"Nathan!"
Nathan tersentak. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Apa sih, yang dia pikirkan tadi? Memangnya kalau mereka mendekati Sukma kenapa? Eh, tapi kan Daniel buaya darat. Mana boleh dia mendekati Sukma. Lalu Neo bagaimana, Nat? Dia kan bukan buaya darat dan nggak pernah pacaran pula. Pertanyaan itu terlintas di pikiran Nathan. Untuk ke dua kalinya, Nathan menggeleng.
"Nathan?!" Kembali, Sandra memanggil Nathan. Dia menatap anak itu heran.
"Eh, iya Tante? Kenapa?"
"Kamu ini, loh, yang kenapa? Dari tadi melamun, terus geleng-geleng kepala. Dipanggilin nggak nyahut. Kenapa? Kamu sakit kepala apa gimana?"
Nathan meringis pelan. "Enggak kok, Tante. Oh ya, Tante bilang apa tadi?"
"Itu, teman kamu. Sering-sering ajakin ke sini, biar Sukma mulai terbiasa dengan kehadiran orang baru."
"Iy...ya, Tante. Nanti kalau mereka nggak sibuk, Nathan ajak ke sini."
__ADS_1
"Oke, ya? Ini semua demi kebaikan Sukma juga." Nathan menghembuskan napas pelan. Tidak ada pilihan lain, kan?