Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Rekaman


__ADS_3

Semua wajah di ruangan itu mengetat keras, berusaha menahan emosi saat menyaksikan rekaman CCTV yang tengah diputar di layar berukuran 50 inci itu. Rekaman di mana seorang dua orang siswi di dalam sebuah bilik toilet. Satunya bersandar di dinding dengan wajah ketakutan, sementara satunya lagi menatap penuh intimidasi.


Awalnya semua terlihat tak ada yang aneh, sebab salah satu siswi di dalam rekaman itu terlihat berbicara biasa. Selang beberapa menit, si siswi yang berbicara tadi tengah menunjuk-nunjuk wajah lawan bicaranya, bahkan m3nd0r0ngnya keras hingga si lawan bicara m3n4br4k dinding toilet dengan keras. Setelah itu, dia menepuk-nepuk kedua tangannya seolah ada debu yang menempel di sana, gadis itu juga berbalik sejenak seolah memastikan perbuatannya aman. Dan di sana, akhirnya wajah si gadis pembully itu terungkap.


"Aku kenal si pembully itu." Leon menunjuk ke arah layar.


Neo menatap adik sepupunya dengan alis terangkat. "Siapa?"


"Dia kakak kelasku. Berarti, dia seangkatan Sukma. Namanya Siska, salah satu siswi yang aku targetkan. Ternyata feelingku benar, dia mengetahui sesuatu tentang kasus ini," ujar Leon berapi-api.


"Siska?!" Hisyam menggumam pelan. "Sapto, cari info tentang anak itu dan keluarganya. Saya ingin datanya segera," titah Hisyam pada asisten pribadinya itu.

__ADS_1


"Baik, Pak!" Sapto menurut.


Selanjutnya, mereka kembali fokus pada layar datar tersebut. Terlihat Siska sudah mulai berbuat kasar pada gadis yang sudah terpojok di dinding tersebut, yang tak lain adalah Sukma. Siska m3nc3ngkr4m dagu Sukma dengan kuat, membuat Sukma yang tadinya menunduk jadi tertengadah. Bahkan dengan tega, Siska m3mb3nturk4n kepala Sukma berkali-kali ke dinding toilet.


Nathan yang menyaksikan video tersebut benar-benar menahan emosi. Apa salah gadis malang itu? Kenapa selain takdir yang selalu merenggut orang tersayangnya, orang-orang malah memperlakukan dia juga dengan begitu jahat? Mata Nathan bahkan sudah berkaca-kaca. Kenapa mereka begitu terlambat bertemu Sukma? Andai mereka bertemu di awal, mungkin kesengsaraan gadis itu akan berkurang sedikit.


Sukma terlihat lemas setelah beberapa kali terbentur dinding. Sampai akhirnya pintu toilet terbuka. Seorang pria masuk ke dalamnya, dan berbicara sejenak dengan Siska. Mereka jadi yakin, kalau keduanya memang sudah bekerja sama.


Hal yang terjadi selanjutnya membuat mereka was-was. Pasalnya, Siska meninggalkan Sukma yang sudah lemas dengan pria itu. Hisyam menghentikan rekaman sejenak, menzoom wajah si pria dan bertanya pada Leon. "Kamu kenal juga?" tanya Hisyam.


Hisyam mengangguk pelan. Kemudian melanjutkan pemutaran video tersebut.

__ADS_1


Si pria perlahan mendekati Sukma yang terlihat semakin ketakutan. Bahkan gadis itu sudah terduduk lemah di lantai toilet. Pria itu berjongkok, membelai rambut Sukma perlahan. Nathan yang melihatnya mengepalkan tangan, dia berjanji akan membuat tangan pria itu patah karena sudah berani menyentuh Sukma.


Sukma beringsut ketakutan, namun pria itu seolah tak peduli, dan malah semakin mendekat. Diraihnya baju Sukma, dan ditariknya paksa membuat baju itu sobek. Dia mendekatkan wajahnya ke arah leher Sukma, mengendus di sana, sementara Sukma sudah tidak terlihat bergerak. Mungkin gadis itu sudah pingsan akibat ketakutan yang melanda. Apalagi sebelum itu kepalanya dib3nturk4n berkali-kali ke dinding oleh Siska.


Hisyam menatap lurus-lurus layar tersebut dengan wajah datarnya. Namun, di dalam hati pria itu berkecamuk. Ingin menghabisi siapa saja yang berbuat hal menjijikkan itu pada sang puteri. Sementara Nathan, sudah membalikkan wajahnya ke arah lain. Tak ingin menyaksikan betapa tersiksanya sang adik angkat kala itu.


Sampai pada saat pria itu mengangkat wajah Sukma yang kini mata gadis itu sudah terpejam, dia mendekatkan wajahnya ke wajah lemah itu. Semakin dekat, semakin dekat, dan layar tersebut langsung menghitam. Pertanda rekaman itu hanya sampai di sana saja atau mungkin sudah ada yang menghapus kelanjutannya.


Sapto mendekat dengan cepat, mengutak-atik remot namun tetap tak menemukan lanjutan.


"Rekamannya hanya sampai di situ. Pasti masih ada lanjutan yang sengaja dipotong." Mendengar ucapan Sapto, Nathan baru menatap ke arah layar yang kini sudah menampilkan warna hitam.

__ADS_1


"Kita tidak tahu apa yang dilakukan pria itu pada Nona Sukma. Pasti ada potongan rekaman selanjutnya, tapi yang lebih utama, kita harus menangkap dua pelaku itu terlebih dahulu. Kita bisa meminta keterangan dari mereka." Sapto tahu, di sini tinggal dia yang bisa berpikir jernih. Semuanya tengah emosi dengan apa yang mereka saksikan, terlebih Nathan dan Hisyam. Oleh sebab itu, dia harus berhati-hati memberikan saran.


"Bawa anak perempuan itu ke hadapan saya besok, kita interogasi dia untuk mencari petunjuk selanjutnya. Saya tidak peduli bagaimana cara kalian membawa dia, entah dengan cara baik-baik atau dengan cara menghilangkan kedua kakinya. Yang jelas, saya menginginkan dia besok di sini!"


__ADS_2