
Nathan turun dari mobil saat sampai di gerbang sekolah yang pernah Sukma tempati untuk menimbah ilmu tersebut. Seorang Satpam mendekat, membuka gerbang dan bertanya tujuan Nathan.
“Saya Nathan, emm...utusan salah satu kantor dinas sosial yang ada di daerah sini. Ada sedikit yang ahrus saya bicarakan dengan Kepala Sekolah.”
“Oh, begitu, Mas! Ayo, mobilnya dibawa masuk saja kalau begitu,” ujar Pak Satpam. Dia membuka lebar pintu gerbang, dan mempersilahkan mobil milik Nathan melintas.
Nathan memarkirkan mobilnya, dan turun dari sana. Sebelum itu, ia melirik Sapto dan Hisyam yang sedari tadi berdiam diri di dalam mobil. Ya, dua paruh baya itu memang turun mendampingi Nathan. Tetapi, mereka hanya akan menunggu di dalam mobil saja, biar Nathan yang masuk ke dalam sana.
Hisyam dan Sapto serempak memberi anggukan pada Nathan sebagai kode kalau pria itu sudah bisa menjalankan misinya.
“Hati-hati, jangan sampai kamu salah bicara dan membuat Kepala Sekolah curiga,” peringat Hisyam.
“Siap, Pak!” balas Nathan. Pria itu kemudian turun, dan beralih menatap Satpam yang kini sudah kembali duduk di posnya. Nathan memberikan anggukan serta senyuman, yang dibalas Satpam tersebut dengan hal yang sama.
Nathan memasuki pelataran sekolah tersebut. Sekolah itu memang tergolong sekolah yang bergengsi, Nathan jadi penasaran sepintar apa Sukma hingga bisa membawa gadis itu sekolah di tempat ini dengan bantuan beasiswa.
Jam belajar mengajar tengah berlangsung, sehingga sekolah tersebut tampak sangat sepi. Nathan langsung mencari ruangan milik kepala sekolah, tujuannya adalah ingin meminta izin agar diperkenankan melakukan pelengkapan data salah satu pasien yang dulunya sekolah di sini dan sekarang sudah berada di dalam perlindungan dinas sosial sebab tak memiliki keluarga lagi.
“Permisi!” Nathan mengetuk pelan pintu ruangan tersebut saat dia mendapatkannya. Terdengar suara menyahut dari dalam, “silahkan masuk!”
Nathan menghembuskan napas kasar, sebelum mendorong pintu berwarna cokelat tersebut.
“Permisi, Pak!” ujar Nathan saat mendapati seorang pria paruh baya namun badannya masih tegap. Sebelas dua belas dengan papanya, namun pria ini sepertinya berumur lebih tua dari Hisyam. Terbukti dari beberapa helai rambutnya yang terlihat memutih.
“Siapa ya?” Pria paruh baya itu memberi pertanyaan.
“Sebelumnya, saya minta maaf karena mengganggu waktu Bapak. Perkenalkan, saya Nathan, utusan dari dinas sosial.”
“Oh, begitu. Baik, silahkan duduk! Saya Hans, menjabat sebagai Kepala Sekolah di sini.”
Nathan mengangguk pelan, dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Pak Hans. Ternyata sambutan pria itu lumayan hangat juga.
“Pihak kantor sudah mengabarkan kedatangan saya sejak dua hari yang lalu ke pihak sekolah. Bapak sudah tahu?” tanya Nathan.
Sapto memang sudah mengirimkan surat pemberitahuan ke email sekolah dengan mengatas namakan dinas sosial.
“Oh, belum. Makanya saya sedikit kaget, tadi. Mungkin pihak tata usaha lupa mengatakan pada saya.”
Nathan mengangguk mengerti. “Oh ya, kenapa tiba-tiba dinas sosial mengutus kamu untuk berkunjung ke sini?” tanya Hans.
“Sekolah kami akan mendapatkan bantuan, ya?” Belum sempat Nathan menjawab, Hans sudah kembali melemparkan pertanyaan.
“Oh, bukan—bukan! Ini bukan masalah bantuan.”
Hans manggut-manggut, “lalu, soal apa?”
“Kami saat ini sedang menangani salah satu gadis remaja yang mengalami depresi, karena ditinggal oleh ayahnya sejak dua tahun lalu. Karena tak memiliki keluarga, jadi dinas sosial mengambil alih tanggung jawab tersebut.”
__ADS_1
Nathan melihat keterkejutan di wajah Pak Hans, namun berhasil kembali disamarkan oleh pria tersebut.
“Lalu, hubungannya anda datang ke sini, apa?”
Nathan mulai membaca gelagat kepala sekolah tersebut. Dia tadi menyebut Nathan dengan panggilan ‘kamu’ dan sekarang menyebutnya ‘anda’, dia tidak konsisten. Setiap hal harus patut dicurigai di sini. Termasuk kepala sekolah ini tentu saja.
“Gadis remaja itu kabarnya, sebelumnya tengah menempuh pendidikan di sini. Jadi, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan terkait gadis itu untuk kepentingan kelengkapan data kami.” Nathan menjelaskan tujuannya, sembari memperhatikan perubahan ekspresi si kepala sekolah.
“Mohon maaf, tapi saya merasa kalau tidak ada murid di sini yang mengalami gangguan jiwa. Mungkin kamu salah alamat!” Pak Hans terlihat seperti tak suka saat Nathan mengatakan gadis yang menderita depresi tersebut berasal dari sekolahnya. Entahlah, entah memang dia tak suka hal itu atau ada hal yang lain membuatnya seperti itu.
“Pihak kami tidak salah mencatat alamat, Pak! Dan, gadis itu bukan gangguan jiwa. Dia Cuma depresi karena berbagai guncangan yang ia alami di usianya yang masih sangat muda.” Nathan berusaha menahan emosinya, dia tak suka jika orang menganggap Sukma gangguan jiwa, meski di awal dulu dia juga mengatakan hal tersebut. Namun, Nathan sudah menyesalinya, dan dia tak akan membiarkan siapapun mengatakan hal menyakitkan itu lagi tentang Sukma.
“Depresi? Itu hanya kata lain dari gangguan jiwa, dan gila, kan? Dan murid saya, tidak pernah ada yang jadi seperti itu.” Tegas Pak Hans.
Nathan menghembuskan napas kasar. Dia membuka tas yang ada di gendongannya. Mengambil kertas yang memang sudah dipersiapkan di sana.
“Ini catatan tentang pasien dari data yang kami kumpulkan melalui beberapa berkas yang ada di rumahnya, dan info dari para tetangganya. Semua mengatakan kalau dia bersekolah di sini.” Nathan menyodorkan kertas tersebut pada Pak Hans.
Pria paruh baya itu membaca sejenak tulisan-tulisan yang ada di dalam kertas tersebut sebelum mendengus. “Oh, dia. Dia hanya anak pendiam di sini, dan tidak ada yang harus dicari tahu lagi. Bahkan dia nggak cukup setahun di sini. Jadi, tidak ada yang bisa kamu cari tahu lagi selain itu.”
Nathan menangkap wajah meremehkan dari Pak Hans. Nathan jadi semakin yakin, kalau Sukma jadi seperti itu pasti karena ada campur tangan sekolah. Kalau tidak, mungkin Pak Hans akan menampakkan wajah prihatin, bukan seperti ini.
“Dia anak yang pintar, dan masuk ke sini karena beasiswa. Bukannya sekolah seharusnya merasa rugi kehilangan murid seperti dia?” pancing Nathan.
“Ckk! Anak di sini bukan hanya dia yang pandai. Lagipula, apa yang diharapkan dari gadis yang terlalu pendiam seperti dia? Kehilangan murid seperti dia, nggak ada apa-apanya.”
Nathan menautkan alisnya. “Bapak tidak sadar lagi bicara sama siapa?” tanya Nathan.
Nathan mendengus kesal. Tangannya mengepal erat. Nathan yakin, memang terjadi sesuatu dengan Sukma di tempat ini dan diketahui oleh pihak sekolah namun tak ditangani.
“Baiklah kalau seperti itu. Tapi, saya meskipun masih karyawan baru, akan berjanji akan semakin mencari tahu tentang anak itu. Dan...Bapak akan tahu di akhir bagaimana ketika saya tahu jika Bapak atau salah satu pihak sekolah terlibat di dalamnya,” ujar Nathan sebelum pergi dari sana. Dia bahkan tak perlu berpamitan pada Pak Hans.
Tepat saat Nathan keluar dari ruangan Kepala Sekolah, bel istirahat berbunyi. Nathan ingin sekedar mencoba keberuntungan dengan mencari salah satu anak kelas dua belas untuk ia berikan pertanyaan mengenai Sukma. Siapa tahu saja mereka kenal.
“Kamu kelas berapa?” tanya Nathan pada seorang siswi di sana.
Siswi tersebut terdiam sembari memperhatikan wajah Nathan. “Hei! Kamu dengar pertanyaan saya?” ulang Nathan.
“Eh, ma—maaf, kak! Hehe. Saya kelas sebelas.”
Nathan mengangguk pelan, “oh, oke.” Pria itu kemudian meninggalkan si gadis tadi begitu saja.
“Kak!” Siswi itu meneriaki Nathan, namun tak ia hiraukan.
“Kalian kelas berapa?” tanya Nathan pada tiga orang siswi yang bertemu dengannya di koridor.
“Kelas sepuluh, Kak. Eh, Bapak guru baru?” Nathan langsung berjalan, tak menghiraukan pertanyaan salah satu gadis itu, membuat ketiganya memekik kesal.
__ADS_1
Sepanjang koridor, Nathan bertanya pada beberapa siswi yang ia temui. Kenapa tak bertanya pada siswa? Nathan tahu bagaimana penampilan Sukma. Para lelaki jelas tak akan sibuk memperhatikannya.
“Kalian kelas berapa?” Nathan kembali bertanya pada segerombolan siswi yang berdiri di depan kelas sembari asik bergosip. “Kelas dua belas.”
Nathan langsung menghembuskan napas kasar. Akhirnya dia bertemu dengan salah satu anak kelas dua belas. Dia harus buru-buru, takutnya kepala sekolah tersebut malah menyusulnya dan langsung mengusirnya dari sini.
“Kalian kenal Sukma enggak?”
“Sukma? Emm—Sukma di sini banyak, Kak.”
Nathan menyebutkan nama lengkap Sukma. “Dia sekolah di sini dua tahun lalu yang berarti seangkatan kalian. Kalian kenal?”
Beberapa di antara mereka menggeleng. Nathan langsung berbinar saat dua di antara mereka mengangguk. “Oh, Sukma yang pendiam itu, kan? Yang rambutnya selalu diurai itu? Dia sekelas sama aku dulu!”
“Oh, yang setiap tugas sama ulangan semester pertama dia dapat nilai sempurna itu, kan?”
Nathan langsung mengangguk. “Iya, yang itu. Aku boleh tanya-tanya ke kalian?”
Dua gadis itu mengangguk antusias. Kapan lagi ngobrol sama cogan kaya gini?
“Dia gimana dulu?”
“Ah, dia selalu diam. Ngomong kecuali pas disuruh guru, itupun jarang.”
“Duduknya juga di pojok.”
“Ah, dia juga aneh.”
“Kadang seram.”
Nathan mendengarkan dengan baik. “Terus, kalian tahu kenapa dia berhenti sekolah?”
Dua gadis itu mengangguk. “Kata guru karena dia mau pindah. Anehnya, kita sebelumnya nggak pernah lihat orang tua Sukma datang untuk ngurus surat pindah. Atau Sukma yang mendatangi ruangan tata usaha untuk minta surat pindah.”
“Kenapa bisa kalian yakin Sukma tidak pernah datang meminta surat pindah?” tanya Nathan memancing.
“Karena kan ruangan tata usaha di lantai tiga, sementara kelas kita dulu di lantai dua. Kita sering papasan sama dia kalau pulang. Dia nggak pernah naik ke lantai tiga.”
Nathan mengangguk. “Terima kasih, kalau begitu. Kalau begitu, saya permisi dulu ya.”
“Eh, kak! Boleh minta nomor ponselnya?” salah satu gadis itu menahan kepergian Nathan.
Nathan berbalik, “saya nggak punya ponsel,” ujarnya berbohong. Setelahnya, Nathan berjalan dengan cekat dari sana. Tak lagi memedulikan bagaimana reaksi gadis tadi atas jawabannya.
BRUK!!
Saat tengah berjalan, tiba-tiba Nathan ditabrak seseorang dari arah depan. Untung saja dia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Orang tersebut terlihat buru-buru, bahkan tak mengucapkan kata maaf sekalipun pada Nathan. Nathan berbalik ingin meneriaki si penabrak tadi, namun tak dihiraukan. Saat berbalik dan bermaksud melanjutkan langkah, Nathan melihat sebuah kertas yang seperti sehabis diremas ada di bawah kakinya. Seingat Nathan tadi tidak ada. Nathan mengambilnya, dan membukanya. Mungkin kertas ini milik orang tadi dan tak sengaja terjatuh.
__ADS_1
Nathan membuka kertas tersebut sembari berjalan.
AKU TAHU BANYAK HAL TENTANG DIA. TINGGALKAN NOMOR PONSELMU DI KASIR YANG ADA DI CAFE DEPAN SEKOLAH. KATAKAN UNTUK MR. BLACK!!