Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Laras


__ADS_3

"Nat, kemarin aku nelpon kamu kenapa nggak diangkat-angkat, sih?" Nathan langsung terperanjat saat seseorang menepuk meja di depannya saat tengah menunggu pesanan makanan di Kantin.


Nathan melirik tajam ke arah Laras yang menampilkan wajah cemberut padanya. Nathan jadi heran, kenapa coba dulu dia bisa menggilai cewek kaya Laras ini? Apa benar ucapan Daniel dan Neo, kalau dia kena guna-guna Laras?


Nathan tak memungkiri, Laras itu cantik. Sangat cantik, malah. Hanya saja, sifatnya itu loh, bikin ngelus dada. Dulu juga Nathan sadar kalau dia malah diperbudak Laras, tapi malah tetap kekeh mengejar gadis itu. Syukurnya, sekarang dia malah sudah sadar. Tidak terjebak lagi dengan kecantikan Laras yang merupakan senjata jitu gadis itu.


"NATHAN! KAMU KENAPA SIH?" Laras berteriak kesal karena Nathan tak menjawab pertanyaannya.


"Heh, ondel-ondel! Si Nathan tuh udah sadar, udah lepas dari sihir kamu. Jadi jangan tanya kenapa dia berubah!" Daniel langsung menjawab, karena pria itu tak melihat tanda-tanda Nathan akan menjawab pertanyaan Laras.


"Heh, Kudaniel. Nggak usah b4cot! Siapa yang pake sihir, orang aku emang cantik gini." Laras tak terima mendapat ejekan, akhirnya malah meladeni Daniel.


"Percuma cantik, kalau otaknya kosong, sifatnya buruk, doyan klubing, kepedean, manja, dan lain-lain!" Kali ini, Neo yang menimpali. Sudahlah, pria itu memang bermulut pedas. Dia mana peduli jika Laras tersinggung.

__ADS_1


"Kamu...!" Laras geram. Mau marah tapi semua sebutan Neo benar. Dia kemudian beralih pada Nathan. Mengambil kursi kosong di samping pria itu dan semakin mendekatkannya ke tempat Nathan duduk. "Nat, lihat teman-teman kamu. Mereka itu nggak suka ke aku, makanya dulu aku malas nerima kamu. Tapi sekarang aku nggak peduli biar mereka nggak suka, aku bakal tetap berjuang sama kamu, kok!" Laras mengeluarkan kata-kata manisnya yang ia yakin dapat meluluhkan Nathan. Sementara Daniel dan Neo nyaris muntah karena mendengar omongan lebay Laras tersebut.


Nathan menepis tangan Laras yang melingkar di lengannya. "Ras, berhenti, deh! Malu diliatin anak-anak."


Laras langsung membeku mendengar ucapan datar Nathan. Enggak, ini bukan Nathannya. Ini bukan Nathan yang ia kenal. Nathan akan selalu menyambut kehadirannya dengan senang. Sekalipun dia menyuruh pria itu apapun, Nathan akan menuruti. Nathan akan membelanya ketika dia menerima ucapan menyakitkan dari Daniel dan Neo. Pertanyaan Laras adalah, kenapa Nathan tiba-tiba berubah?


"Nath, kamu kenapa sih?" tanya Laras pelan.


"Kamu yang kenapa? Udahlah, Ras. Berhenti bertingkah kaya gini. Nggak semua hal akan berpusat ke kamu selamanya. Apa lagi hal itu nggak pernah kamu hargai keberadaannya sebelumnya. Jadi berhenti bertingkah seolah kamu tersakiti." Nathan langsung berdiri, mengucapkan semua kata-kata itu dengan menatap tajam ke arah Laras. Pria itu kemudian pergi dari sana, padahal makanan mereka belum sampai. Rasanya Nathan begitu malas berdekatan dengan Laras. Ke mana dia saat Nathan mengejarnya dulu? Giliran Nathan menjauh, dia malah bertingkah menjadi orang yang paling tersakiti.


Laras mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia geram dengan dua orang di hadapannya ini. Dia sudah terlalu capek dengan semua perubahan Nathan, dan malah dihadapkan dengan dua mahluk aneh yang selalu mengekori Nathan ini.


"Bukan urusan kalian," balas Laras datar.

__ADS_1


"Oh, kayanya dia takut sihirnya udah nggak berfungsi, Yo. Bayangin aja, dia akan kehilangan semua perhatian para lelaki karena sihirnya hilang. Makanya dia mulai ngejar Nathan."


Laras memejamkan matanya sejenak. Dia sejujurnya begitu geram saat ini, namun berusaha ia tahan. Bayangkan saja, sejak tadi dia merendahkan harga dirinya merayu Nathan dan malah mendapatkan penolakan dari pria itu, disaksikan satu kantin pula. Dengan kasar, dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kantin diiringi tawa Nathan dan Neo.


"Si Nathan benaran sadar apa gimana, ya, Yo?" tanya Daniel tiba-tiba.


Neo menggeleng pelan. "Semoga aja benaran sadar. Tapi, kayanya Nathan kayak orang banyak pikiran gitu akhir-akhir ini. Sadar nggak sih, Dan?"


Daniel mengangguk pelan. "Iya, semenjak punya Ade baru dia jadi aneh."


Sementara Nathan, di dalam kelasnya dia malah tengah memperhatikan layar ponselnya. Di sana, ada potretnya bersama seorang gadis berdiri membelakangi danau. ada sedikit jarak di antara mereka, karena saat fotonya diambil, keduanya merasa keberatan.


Ya, itu fotonya bersama Sukma saat mereka piknik kemarin. Foto itu diambil oleh Papanya, berkat paksaan sang Mama tentu saja. Bahkan, wajah Sukma terlihat jelas di sana. Sebab, sang Mama malah berpura-pura sedih kalau Sukma tak mau mengangkat wajah. Sudahlah, wanita paruh baya itu memang penuh taktik.

__ADS_1


Nathan menghembuskan napas pelan. Semakin lama, rasa kasihan semakin tumbuh di hati Nathan untuk adik angkatnya itu. Entah kenapa, Nathan merasa Sukma seperti itu bukan hanya karena Ibunya. Pasti ada sesuatu yang membuat Sukma malah ketakutan ketika bertemu orang lain. Apalagi saat menjalani terapi, gadis itu akan berteriak keras. Nathan menggaruk kepalanya, dia terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini. Mungkin ini balasan karena dulu dia malah nggak pernah memusingkan apapun. Yang ada, teman ada, orang tua ada, dan semuanya begitu menyayanginya. Tapi sekarang, semenjak kedatangan Sukma, Nathan malah dibuat mikir setiap waktu.


__ADS_2