Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Kasir Cafe


__ADS_3

Nathan bergegas memasuki mobil, memberi kode pada Sapto yang kini duduk di depan kemudi. Hisyam dan Sapto tak banyak bertanya, mereka paham mungkin ada sesuatu yang tak bisa dibicarakan di tempat ini.


Setelah keluar dari gerbang sekolah, Nathan meminta Sapto menepikan mobil sejenak.


"Berhenti dulu, Om!" pinta Nathan.


"Ada apa, Nat?" tanya Hisyam.


"Nathan udah ke dalam, entahlah. Nathan malah curiga ke kepala sekolah. Dia kaya nggak suka gitu Nathan bahas Sukma. Nathan nggak tahu dia kaya gitu karena nggak terima Sukma yang salah satu murid di sana menderita depresi, atau memang dia nggak mau ketahuan depresi Sukma berasal dari sana. Apapun itu, kita harus mencurigai hal kecil, kan?"


Hisyam dan Sapto mengangguk. Benar, di dunia ini, manusia hidup memang harus penuh waspada. Layaknya hewan yang hidup di hutan belantara, harus selalu memasang insting kepekaan agar tak dijadikan mangsa. Sebab, manusia sama hew4n mungkin punya kesamaan. Sama-sama memiliki naluri memangsa yang lemah.


"Aku udah berusaha tanya ke beberapa siswi di sana, dan yang seangkatan sama Sukma, hanya sedikit yang mengenalnya. Apalagi aku tadi lagi buru-buru, takut kepala sekolah nyusul dan malah ngusir aku. Jadi, nggak sempat keliling untuk tanya juga. Cuma sekedar murid yang aku temui sepanjang koridor aja."


"Terus, gimana hasilnya, pas kamu nanya-nanya tentang Sukma ke mereka?" tanya Sapto.


"Mereka hanya menyebutkan seperti yang terlihat di diri Sukma. Pendiam, pintar, dan aneh. Hanya itu."

__ADS_1


Sapto dan Hisyam menghembuskan napas kasar. "Kita patut mencurigai kepala sekolah. Tapi, pasti akan sulit masuk kembali ke sana," ujar Hisyam.


"Apa perlu kita menyewa salah satu anak murid di sana buat jadi mata-mata?" saran Sapto.


Nathan langsung menggeleng. "Kita nggak boleh gegabah, Om. Kecuali itu memang orang yang udah om tahu latar belakangnya," ujar Nathan. Kemudian dia teringat kertas yang ia dapat tadi, "oh ya, aku tadi dapat ini, Pa. Ini kertas kayanya memang sengaja dikasih ke Nathan, sama seseorang yang misterius dan menyebut dirinya MR. Black." Nathan menyodorkan kertas tersebut pada Hisyam dan Sapto untuk dua paruh baya itu lihat.


"Kamu yakin, ini bukan orang iseng?" tanya Hisyam sembari mengangkat sebelah alisnya.


Nathan mengangkat bahu, "enggak tahu. Tadi ada seseorang yang nabrak aku kencang banget, dan jatuhin kertas itu. Entahlah, ini benaran orang ini tahu atau hanya sekedar iseng. Menurut Papa sama Om Sapto, kita harus ngikutin permintaan dia atau gimana?"


"Iya. Kita coba saja, tapi tetap harus berhati-hati." Hisyam pun setuju.


Setelah itu, Nathan meminta Sapto untuk membelokkan mobil di Cafe yang memang terletak di depan sekolah tersebut.


Nathan menuIiskan nomor ponselnya di selembar kertas, dan turun dari sana. Nathan memasuki Cafe yang bertema hijau tersebut. Tanaman rambat tumbuh di sudut dinding, setiap meja terdapat vas berukuran mini yang berisi bunga segar, dan pemandangan di luar jendela yang memanjakan mata. Sebelah kanan Cafe, jendelanya langsung menghadap jalan, orang yang duduk di sana bisa melihat kesibukan lalulintas. Sementara di sebelah kiri, jendelanya menghadap ke kebun belakang Cafe yang isinya banyak bunga-bunga. Di dinding kanan, ada mural pohon berdaun lebat berwarna hijau cerah. Sementara di dinding kanan, terdapat gambar mural lautan dengan ombak yang menggulung indah. Bahkan sampai percikan air yang berasal dari ombak dengan detail tergambar di sana.


Nathan yang sedari tadi mengagumi tampilan Cafe tersebut akhirnya tersadar. Nanti, suatu saat dia akan membawa Sukma ke sini. Sepertinya Cafe yang cantik dan penuh ketenangan seperti ini akan cocok dengan Sukma.

__ADS_1


Nathan berjalan untuk memesan tiga minuman untuk dibawa pulang dan dipersilahkan menunggu di salah satu meja.


Saat namanya dipanggil, Nathan menuju kasir untuk melakukan transaksi.


"Kenal Mr. Black?" tanya Nathan saat kasir tersebut sudah mengembalikan kartunya.


"Hah?"


"Mr. Black!" ujar Nathan lagi. "Ini untuk dia."


Kasir itu mengangguk pelan. "Oke." Hanya itu jawabannya.


Nathan menghembuskan napas pelan, paham bahwa si kasir perempuan itu tak ingin mengatakan apapun soal Mr. Black.


"Oke, katakan saja ke dia untuk segera menghubungi saya." Gadis itu kembali mengangguk, dan Nathan segera berpamitan pergi dari sana.


Sementara tatapan si Kasir mengikuti kepergian Nathan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mr. Black? Setelah dua tahun, akhirnya aku dengar orang menyebutnya lagi. Meskipun dari orang yang berbeda." Ia bergumam sembari tersenyum kecil. "Apa gadis aneh itu akan kembali?"

__ADS_1


__ADS_2