Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Kasus Riana


__ADS_3

Tak terasa, sudah sebulan Leon berada di sekolah tersebut. Namun penyelidikannya belum membuahkan hasil. Masalahnya, CCTV yang dia letakkan di ruang guru tak ada yang mencurigakan. Padahal Leon yakin, hak yang tak mungkin jika guru-guru di sana tak terlibat baik dengan kasus Riana ataupun kasus Sukma. Pasti salah satu dari mereka ada yang tahu rahasia gelap yang ada di sekolah ini.


Leon juga semakin hari semakin dekat dengan Siska. Namun, Leon masih berusaha menahan diri untuk bertanya menyangkut Sukma ataupun Riana, sebab takut Siska malah curiga.


"Leon!" Leon yang tengah mengisi alat tulisnya ke dalam tas, mendengar panggilan Siska yang kini tengah berada di depan pintu kelasnya. Gadis itu sengaja menyambangi Leon, untuk mengajaknya makan bersama di kantin.


"Oh, hai. Kenapa? Kok malah nyamperin ke sini?" tanya Leon saat mendekat. Biasanya, mereka berdua malah bertemu di kantin. Tidak ada acara saling mengunjungi ke jelas masing-masing.


"Iya. Sengaja, hehe." Siska terkekeh pelan, gadis itu menunduk sembari menyelipkan rambutnya ke telinga.


"Ya udah, ayo!" Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju kantin. Sepanjang jalan, Leon dan Siska sesekali mendengar bisik-bisik dari anak-anak yang mereka lewati. Kedekatan mereka memang sudah menjadi buah bibir anak-anak di sana, namun keduanya seolah tak peduli bahkan mengkonfirmasi apa hubungan mereka. Jadi, anak-anak di sana sudah menyimpulkan kalau mereka telah berpacaran.


"Oh ya, aku sering lupa nanya sama kamu."


Siska yang saat ini tengah mengaduk baksonya mendongak, menatap bingung ke arah Leon.


"Tanya apa?" balas Siska.


"Aku punya sepupu jauh gitu, udah lama nggak kontekan sama aku. Terakhir, pas aku SMP. Kabar terakhir aku dengar, dia katanya masuk sekolah sini. Tapi selama aku di sini, malah nggak pernah lihat dia." Leon sudah lama mengarang cerita ini, dan sekarang ia rasa waktu yang tepat untuk memancing Siska.


"Oh ya? Namanya siapa? Siapa tahu aja aku kenal." Siska terlihat antusias mendengarkan.


"Riana. Dia setahun lebih tua dari aku. Oh iya, berarti seangkatan sama kamu kayanya."


Siska langsung terdiam. Matanya menatap awas ke sekeliling, kepalanya mendekat ke arah Leon. "Riana siapa?" tanyanya berbisik.


Leon yang melihat tingkah Siska, jadi semakin yakin pasti ada sesuatu dibalik kasus Riana.


"Riana Kusuma. Kamu kenal?" tanya Leon pelan.


"Ssstt! Jangan kuat-kuat sebut namanya. Bahaya." Siska menatap awas ke sana ke mari, kemudian menatap Leon kembali.


"Nanti aku cerita, tapi nggak di sini. Kita bisa kena masalah kalau ada yang dengar kita sebut nama dia."


Leon terhenyak mendengar jawaban Siska. Segitunya? Sebenarnya, ada apa dengan sekolah ini? Kenapa semakin lama malah semakin banyak hal yang mencurigakan?

__ADS_1


"Kamu janji, bakal ngasih tahu aku?"


Siska mengangguk. "Iya. Sebentar aja, di Cafe depan Sekolah. Kita ketemu di sana pas pulang sekolah. Aku rasa, di sana kayanya aman."


Leon mengangguk setuju. Semoga saja sekarang ada titik terangnya.


Seperti kesepakatan keduanya tadi, kini Leon tengah duduk di meja nomor 9 di Cafe yang terletak di depan sekolah tersebut. Siska tadi mengirimkannya pesan, mengatakan gadis itu akan datang sedikit lambat karena harus bertugas membersihkan kelas terlebih dahulu.


Selang dua puluh menit kemudian, barulah Siska muncul. Leon melambaikan tangannya, memberi kode pada Siska.


"Pesan dulu. Kamu mau pesan apa?" tanya Leon saat Siska sudah mengambil tempat duduk berhadapan dengannya.


"Samain aja sama kamu."


Leon mengangguk, dan beranjak memesan makanan untuk mereka.


"Jadi, kita langsung bahas aja nggak apa-apa? Sambil nunggu makanan datang." Leon tak ingin membuang waktu, meski begitu dia berusaha agar Siska tak menaruh curiga padanya.


"Riana Kusuma, dia dikeluarkan dari sekolah setahun yang lalu." Siska mulai bercerita.


"Dia ketahuan membawa obat-obatan terlarang ke sekolah. Tesnya juga positif. Dan sehari setelah itu, ada yang menyebar beberapa foto bug1l dirinya."


Mata Leon seketika membuat sempurna. Dia baru tahu kasus itu. Setahunya, yang dikatakan Om Hisyam dan Nathan hanya sekedar tersandung kasus n4rk0b4, hal ini nggak disebutkan.


"Terus?"


"Dia dikeluarkan dari sekolah, dan kabarnya papanya memindahkan dia ke luar negeri. Terus juga papanya memutus segala kontak Riana dengan teman-temannya yang di sini. Dia kaya diasingkan gitu," ujar Siska menerangkan.


Leon terdiam. "Memangnya dia terbukti bersalah?"


Siska mendengus kesal. "Ya iyalah, kan aku bilang tadi, dia sempat tes dan hasil tesnya dia positif menggunakan n4rk0b4."


Leon mengangguk pelan. "Terus, kenapa namanya nggak boleh disebut di sana?" tanya Leon.


"Kepala sekolah benci sama Riana. Karena selama ia menjabat, kasus terbesar itu ya kasus Riana itu. Selama ini, sekolah kita itu terkenal dengan prestasinya. Sekolah kita sekolah bergengsi. Dan Riana, malah mencoreng nama sekolah. N4rk0b4, foto tak senonoh, bukannya itu memang bikin nama sekolah kita ikut terseret?

__ADS_1


"Riana itu bagi kepala sekolah adalah aib terbesar sekolah. Makanya dia sangat membenci nama itu. Dan sejak dikeluarkannya Riana, Kepala Sekolah mengumumkan agar tak ada yang menyebutkan namanya lagi di sana. Biar adik kelas kami nggak akan tahu juga, hal yang menimpa sekolah kita. Dan nama sekolah akan bersih di luaran sana."


Leon menggelengkan kepalanya pelan, mengapa kepala sekolah sampai segitunya? Maksudnya, meski itu adalah kesalahan fatal, bukannya malah mencurigakan kalau sampai namanya saja tak boleh disebut?


"Selama di sini, Riana berteman sama siapa aja?" tanya Leon.


"Nggak tahu, Riana itu terlalu misterius menurut aku. Setahuku, dia nggak berteman dengan siapapun. Oh salah, waktu kelas X dulu, kayanya dia pernah punya teman. Temannya juga sama anehnya sih dengan dia. Nggak heran kalau mereka bisa dekat."


Leon menautkan alisnya, semakin merasa penasaran. "Teman? Kamu kenal temannya itu?"


"Kenapa kamu malah nanyain itu? Aku kan sudah cerita soal Riana. Lagian, temannya itu aku nggak tahu udah pergi ke mana. Orang aneh kaya gitu nggak akan kelihatan kalau hilang soalnya."


Dalam hati, Leon merutuki mulut sembarangan Siska. Dia tak terima Siska menghina Sukma. Namun, jika dia mengeluarkan ucapan pedas membela Sukma, malah Siska akan curiga.


"Leon? Hei? Malah melamun."


Leon meringis pelan. "Enggak. Aku benar-benar kaget sama apa yang menimpa Riana. Nggak nyangka aja, dia terlibat kasus kaya gitu."


"Ya begitulah. Dia juga anaknya agak sombong. Makanya aku malas juga sama dia. Apalagi sama teman anehnya itu. Ckk!"


"Teman anehnya itu, siapa namanya?" tanya Leon.


"Kenapa kamu malah nanyain dia lagi, sih?" Rajuk Siska, yang membuat Leon mengumpat dalam hati.


"Ya aku cuma mau tau. Kan dia berhubungan sama sepupu aku. Kalau kamu nggak mau bicarain dia juga nggak apa-apa." Leon memberikan senyumannya pada Siska.


Padahal dalam hatinya dia berujar, 'ayo, cerita. Ayo!'


"Ya udah, deh. Meskipun aku malas, karena kamu yang nanya bakal aku jawab. Namanya Sukma, anaknya aneh gitu. Wajahnya selalu ketutup sama rambut, nggak pernah ngomong sama anak sekelas. Ngomongnya ketika disuruh guru aja, itupun jarang. Herannya, bisa-bisanya si Seno dulu suka sama dia. Itu sebabnya aku benci sama dia. Seno itu padahal udah dijodohin sama salah satu sahabat aku, bisa-bisanya dia malah suka ke si anak aneh itu."


"Seno?" tanya Leon.


"Iya, Seno. Kamu mungkin nggak kenal dia. Soalnya, dia kelas XII juga sama kaya aku. Mana jarang masuk kelas lagi. Untung aja anak kepala sekolah. Jadinya masih bisa dipertahankan di sekolah ini."


Leon mengangguk pelan. Seno, anak kepala sekolah? Apa dia perlu mendekati Seno juga?

__ADS_1


__ADS_2