
Leon mengetuk pintu ruangan milik Hisyam, setelah mendapat izin masuk, pria itu membukanya dan mempersilahkan Siska mengikuti langkahnya.
"Oh, kalian sudah datang?" Hisyam menyambut dengan senyuman. Pria paruh baya itu melirik ke arah Siska dan memperhatikan gadis itu hingga membuat Siska sedikit salah tingkah.
"Dia Siska," ujar Leon memperkenalkan.
"Ya, ya, ya." Hisyam bergumam sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalian duduk saja di sofa, kita tunggu kedatangan yang lain, baru kita lanjutkan." Hisyam menunjuk sofa dengan mengedikan dagunya.
"Memangnya kita nunggu siapa?" bisik Siska pada Leon yang duduk di sampingnya. Entahlah, rasa gembira Siska karena diajak Leon ke tempat kerjanya ini mulai menghilang sejak dia menatap lukisan tadi. Siska merasa seperti ada sesuatu yang akan terjadi, namun gadis itu tetap berusaha berpikir positif pada Leon.
"Nunggu anak Bos, sama asistennya," jawab Leon sembari berbisik juga. Leon kemudian melihat ke arah Hisyam yang tengah berbalik membelakangi mereka. Leon yakin, Hisyam sedang berusaha keras menahan amarahnya. Andai saja Siska adalah pria, mungkin Hisyam sudah menghajarnya sejak memasuki pintu ruangan ini.
Selang beberapa menit, pintu ruangan kembali dibuka. Siska reflek mendekat ke arah Leon dan memegang kemeja sekolah milik pria itu saat beberapa pria masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Leon!" cicit Siska sedikit takut.
__ADS_1
Leon hanya meliriknya saja sebentar, kemudian mengalihkan tatapan pada semua orang yang baru saja datang. Siska semakin ketakutan, dia merasa di sini ada yang salah. Wajah Leon bahkan berubah datar, seolah tak mau menjawab bahkan menolong Siska di situasi menakutkan ini. Bagaimana tidak, di sini hanya dia sendiri yang perempuan. Semua yang ada di ruangan tersebut laki-laki, dan mereka tak memasang senyum sama sekali. Terlebih ada satu pria yang lebih jangkung dari pria lainnya, dia menatap Siska dengan tatapan tajam sejak tadi, membuat nyali gadis itu semakin menciut.
Hisyam membalik kursinya kembali menghadap depan. "Kalian sudah datang?" tanya pria itu yang tentu saja hanya sekedar basa-basi.
Hisyam mengulurkan tangannya pada Sapto, dan asisten pribadinya itu langsung memberikan berkas yang ada di tangannya pada sang bos.
Siska menarik kemeja Leon yang berdiri dari posisinya, namun pria itu melepaskan tangan Siska dan memilih mendekat pada tiga pria yang sejak tadi memasang wajah datar itu. Siska yang ditinggal sendirian di sofa, merasakan tubuhnya gemetar. Pasalnya, mereka semua menatapnya penuh intimidasi. Gadis itu sibuk bertanya dalam pikirannya sendiri, sebenarnya ada apa? Kenapa orang-orang ini begitu menakutkan? Dan kenapa Leon ikut menjelma menjadi orang yang menakutkan seperti ini? Banyak pertanyaan yang bersautan di pikirannya, membuat Siska semakin khawatir akan keselamatan dirinya sendiri. Siska bersumpah, dia menyesal mengikuti ajakan Leon ke sini.
"Siska Maharani Januar! Benar?" Siska seketika melihat ke arah pria yang dikatakan Leon sebagai bosnya itu saat mendengar nama lengkapnya disebut.
"Anak dari Ratno Januar dan Afifah Risandi, anak dari pemilik PT Janu Corp yang sebentar lagi akan bangkrut karena tertipu klien dalam jumlah milyaran rupiah. Menarik!"
"Kalian--kalian sebenarnya siapa?" tanya Siska lemah.
Semua memilih diam, hanya Hisyam yang menanggapi pertanyaan tersebut. "Tenang, Nak! Kita tidak akan sampai m3mutil4si tubuhmu. Tapi walau begitu, kamu harus tetap bertanggung jawab sama perbuatan mu. Kami bahkan tidak akan menyakiti kalau kamu bekerja sama."
__ADS_1
Wajah Siska berubah pucat. Dia melirik Leon dengan tatapan permohonan, berharap pria itu menyelamatkannya. Namun, hanya balasan tatapan datar yang Siska dapatkan. Seketika ia ingat, Leonlah yang membawanya ke situasi ini. Lalu, apa yang bisa ia harapkan dari pria itu?
"KALIAN MAU APA? AKU--AKU BISA TERIAK KALAU KALIAN MACAM-MACAM!" Di tengah rasa frustasi dan ketakutannya, Siska berteriak kencang. Dia berharap segera keluar dari situasi ini. Dia tak tahu apapun, lalu kenapa mereka menakutinya seperti ini?
"Percuma kamu berteriak, ini wilayah saya. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kamu, kecuali dirimu sendiri. Maka dari ini, bekerja samalah kalau kamu ingin keluar dari sini dengan tubuh yang utuh!"
Siska yang mendengarnya semakin ketakutan. Gadis itu sudah meringkuk di atas sofa dengan tangisan.
"A--apa salah saya?" tanya Siska frustasi.
"Ah, iya. Saya lupa, menjelaskan ke kamu. Pantas saja kamu ketakutan. Kamu nggak tahu kesalahan kamu ternyata." Hisyam kemudian melirik Leon. "Leon," panggilnya sembari mengisyaratkan mata ke arah Siska. Leon yang mengerti mengambil ponsel yang ada di sakunya, mengutak-atik ponsel tersebut sampai dia menemukan sesuatu yang ia cari. Pria itu mendekat kembali ke arah Siska, dan menyodorkan ponsel itu. "Tonton baik-baik. Dan bekerja samalah kalau masih ingin selamat. Om Hisyam nggak pernah main-main sama ucapannya."
Siska memperhatikan layar yang memutar rekaman CCTV itu. Seketika wajahnya menegang, dan buru-buru menyodorkan ponsel tersebut pada Leon. "Nggak, itu bukan aku! Kalian salah, itu bukan aku. Aku dijebak! Kalian salah! Aku mohon, lepasin aku dari sini." Siska meracau dalam rasa kalutnya.
"Kamu tidak akan ketakutan kalau itu memang bukan kamu. Iya, kan?" Siska langsung terdiam mendengar ucapan Hisyam. Dia mengangkat kepalanya, menatap Hisyam dengan penuh kebencian. "KALIAN MAU APA SEBENARNYA?" teriaknya lantang.
__ADS_1
"Kita hanya mau kamu bekerja sama. Itu saja. Lalu, kamu mempertanggung jawabkan perbuatan jahat kamu itu. Hanya itu!"
"KALIAN BENAR-BENAR ORANG LICIK!" Siska kemudian beralih menatap Leon. "Aku nggak nyangka kamu sejahat ini sama aku, Leon! Aku--ARRGGHHH!"