
Nathan melihat Sukma yang turun dari tangga. Pria itu sejak tadi pandangannya memang fokus ke sana. Suasana cafe begitu tak menarik di matanya. Dia lebih memilih menanti Sukma menuruni anak tangga tersebut.
Nathan langsung berdiri mendekati Sukma. Ada yang berbeda. Gadis itu menunduk seolah berusaha menyembunyikan wajahnya. Nathan sangat khawatir.
"Dek, kenapa?" tanya Nathan. Sukma tetap menunduk.
"Kita pulang, Bang!" Suara Sukma terdengar serak. Nathan paham, Sukma baru saja menangis.
Nathan merangkul bahu Sukma. Dia tahu, Sukma pasti tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.
Nathan membukakan pintu mobil untuk Sukma. Memastikan gadis itu sudah duduk dengan baik. Setelahnya, baru dia memutar, menuju pintu yang satu lagi, lalu duduk di kursi kemudi.
"Mau langsung pulang? Atau kita jalan-jalan dulu?" tanya Nathan. Keadaan Sukma tidak baik-baik saja. Nathan begitu khawatir dengan gadis itu.
"Jangan pulang dulu." Sukma terdengar menjawab dengan pelan.
Nathan menurut. Pria itu mengeluarkan mobil dari parkiran. Nathan mengendarai mobilnya dengan pelan, agar Sukma bisa sekalian menenangkan diri.
Nathan tiba-tiba kepikiran satu tempat. Di sana, Sukma pasti bisa melepas tangisannya.
__ADS_1
Sukma yang asik sendiri dengan pikirannya, menatap Nathan bingung saat mereka berhenti di satu tempat.
"Pantai?"
Nathan mengangguk. "Iya. Di sini lumayan sunyi. Kamu bisa nangis sesuka kamu." Pria itu mengelus lembut rambut sang adik. "Ayo, turun!" ajaknya.
Sukma mengangguk. Pantai itu bersih, dan benar kata Nathan. Di tempat tersebut sunyi.
"Di sini ramainya pas malam aja." Nathan menjelaskan, dia tahu Sukma pasti bertanya-tanya.
Nathan membawa Sukma mendekat ke arah pantai. Membiarkan kaki keduanya tergerus ombak yang tenang.
"Saat SMA pun, aku masih tetap dibully, tanpa aku tahu kesalahanku apa. Padahal, aku udah berusaha untuk tidak bersinggungan dengan orang lain. Tapi, aku tetap menguatkan diri. Mengingat Ayah yang juga pasti akan kepikiran kalau aku menceritakan semuanya. Mungkin Ayah juga sudah tahu, tapi memilih diam menunggu aku sendiri yang bercerita."
Nathan setia mendengarkan. Ada segaris senyum yang terbit di bibir Sukma. Namun, Nathan tahu itu hanya senyuman miris.
"Kemudian Ayah meninggal. Rasanya aku ingin gila. Satu-satunya keluargaku, tumpuanku untuk menjalani hidup, malah diambil sama Tuhan. Aku sulit menerima takdir." Air mata Sukma menetes, mengingat bagaimana kesedihannya saat ditinggal oleh satu-satunya yang paling berharga di hidupnya.
"Tapi mengingat pengorbanan Ayah selama ini yang nyekolahin aku, perlahan aku mulai bangkit. Aku ingat kata Ayah. "Jangan putus sekolah, ya, Nak. Putus sekolah itu susah, buktinya Ayah gini. Nyari kerja susah, mana keperluan makin hari makin naik." Itu yang selalu Ayah katakan ke aku.
__ADS_1
"Ucapan itu yang sejak dulu selalu membuat aku semangat ke sekolah meskipun dibully. Aku ingin suatu saat Ayah merasakan hal yang pernah ia rasakan dulu. Mampu membeli apa yang ia inginkan, tak perlu memikirkan uangnya cukup atau tidak. Aku ingin Ayah tak merasakan gelisah memikirkan esok akan makan apa. Aku ingin, suatu saat bisa memenuhi kebutuhan Ayah apapun yang dia minta. Tapi ternyata Ayah nggak nungguin masa itu.
"Meski Ayah sudah pergi, aku tetap berniat melanjutkan sekolahku biar pengorbanan Ayah nggak sia-sia. Tapi ternyata, malah makin parah. Aku selalu mendapat ancaman, selalu dibully, dan puncaknya aku nyaris diperk0s4. Aku menyerah di titik itu. Aku ketakutan, sebab tak ada lagi yang bisa aku percaya. Aku sendirian. Semua orang punya kemungkinan menyakitiku, karena itu aku menjauhi mereka. Ketakutan itu selalu muncul saat ada yang mendekati aku. Rasa jijik juga selalu aku rasakan, saat seseorang tak sengaja menyentuh kulitku. Aku sendirian dalam kegelapan. Menjalani trauma yang ke dua kalinya, dan lebih parah dari yang pertama."
Sukma menatap Nathan. "Abang tahu apa yang membuatku marah sekarang?" Nathan hanya diam. Dia tahu, Mr. Black pasti sudah mengatakan semuanya pada Sukma.
"Penyebab traumaku baik yang pertama ataupun yang kedua, adalah orang yang sama. Ibu kandungku sendiri."
Nathan merangkul bahu gadis itu, kemudian membawanya ke dalam pelukan. "Apa aku seburuk itu, ya? Jalan hidupku gini amat!" Suara Sukma sudah terdengar serak. Gadis itu terlalu banyak menangis, membuat Nathan sangat iba.
"Ada hal yang lebih gila dari itu lagi. Abang mau tahu?"
Nathan mengangguk pelan. Meksi Sukma tak melihat--karena memandang ke depan, Nathan tahu Sukma merasakan responnya.
"Orang yang aku cintai, ternyata malah saudara aku sendiri. Ayahnya juga yang jadi dalang semuanya. Lucu kan, Bang, hidup aku?"
Nathan langsung menegang mendengar ucapan Sukma. Cintai? Kenapa rasanya hati Nathan sangat sakit mendengar kenyataan yang terucap dari bibir Sukma? Ayolah Nathan, kalian itu saudara. Nathan berusaha menguatkan dirinya.
"Sakit, Bang! Aku sulit nerima kenyataan ini."
__ADS_1
Nathan tetap diam. Pria itu sibuk mengontrol diri. Sukma tengah bersedih, seharusnya Nathan menguatkan gadis itu.