
Triple update dong!!😁
Jangan lupa dukungannya, ya☺️
"Ada yang mau Nathan omongin ke kalian." Nathan membuka suara saat mereka tengah menikmati sarapan.
Tiga pasang mata di sana memusatkan perhatian pada Nathan. Nathan menghela napas berat sebelum berbicara. "Selesai semester ini, aku kan lagi masa sibuk-sibuknya di kampus, aku mau tinggal di apartemen."
Hisyam menautkan alis. "Bukannya kata kamu lebih nyaman di rumah?"
"Setelah dipikir-pikir, kayanya lebih efisien kalau tinggal di apartemen."
Fifi memperhatikan wajah Nathan. Dia yakin, ini keputusan yang Nathan ambil untuk menghilangkan perasaannya pada sang adik. Fifi memang berat melepas Nathan menjauh. tapi, bukankah begitu lebih baik?
"Berarti, Abang bakal jarang ke sini? Terus, aku gimana?" Sukma bertanya.
Nathan menelan ludahnya kasar. Sebenarnya, menjauhi sang adik tanpa menyinggungnya itu sangat berat. Nathan tahu, Sukma pasti akan sangat berat melepas dia pergi. karena bagaimana pun, temannya di rumah ini hanya Nathan.
"Kan kamu bakal sibuk belajar juga. Bentar lagi, kamu akan masuk universitas, kan? Jadi kamu harus sibuk belajar. Abang juga sama, bakal sibuk. Mulai dari ngurus skripsi, penelitian, magang juga."
"Tapi nanti Sukma bakal kangen Abang. Sukma akan sering kesepian di sini." Wajah Sukma cemberut.
"Gini aja. Sesekali, kita akan berkunjung ke apartemen Abang kamu. Main ke sana, nengok Abang. Gimana?" Fifi menengahi. Hisyam menatap bingung sang istri. Padahal, selama ini Fifi tidak suka jika Nathan mengatakan ingin pindah ke apartemen. Bahkan, syarat dikasih apartemen ke Nathan juga, tidak boleh sering menginap di sana dan melupakan rumah. Lalu sekarang, kenapa wanita itu malah mendukung?
Hisyam paham alasan Nathan. Namun, menurut Hisyam itu hanya sekadar alasan saja. Masalah kesibukan dan sebagainya, Nathan kan punya kendaraan. Kalau untuk magang, orang Nathan magang hanya di kantornya nanti. Sepertinya, ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
__ADS_1
Fifi mengelus bahu Sukma. Membujuk gadis itu agar tidak marah pada keputusan Nathan. "Abang juga pasti bakal sering berkunjung ke sini. Iya, kan, Bang?" Fifi menatap Nathan, meminta pria itu untuk mengangguk.
"Iya. Abang akan sering berkunjung, kok. Jadi tenang aja. Kamu nggak bakal kesepian."
Sukma menghela napas berat. Gadis itu perlahan mengangguk, membuat senyum Nathan dan Fifi terbit karenanya.
Hisyam meminta Nathan untuk pergi dengannya. ini hari libur. pria itu mengajak Nathan untuk main bad minton di lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah mereka.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin pindah?" tanya Hisyam.
Nathan menipiskan bibirnya. "Nathan, kan, tadi udah bilang tadi alasannya."
Hisyam tertawa kecil. "Kamu pikir, Papa percaya? Ayolah, Boy! Kamu itu duplikat Papa. Jadi, seberusaha apapun kamu menyembunyikan sesuatu, Papa pasti tahu."
Nathan mendengus pelan. Hisyam menoleh sejenak pada anaknya, lalu kembali menyetir. "Ngomong jujur, atau Papa harus main tebak-tebakan?"
Hisyam tersenyum tipis. "Sukma. Itu alasan kamu. Benar, kan?"
Nathan langsung menoleh dengan cepat. Dari mana Papanya tahu?
"Papa udah bilang, nggak usah main rahasia-rahasiaan sama Papa." Hisyam merasa lucu dengan wajah terkejut anaknya.
"Sejak awal, Papa sudah peka sama semua sikap kamu ke dia. Papa memilih diam saja, karena takut akan respon Mama kamu gimana. Mama kamu itu, cuma takut anaknya suatu saat akan bermasalah. Dia akan kebingungan, mau membela siapa. Sukma anaknya, kamu juga anaknya.
"Sukma bagi Papa sama Mama kan sudah dianggap anak kandung sendiri. Bayangkan kalau dia anaknya berseteru karena percintaan. Kan suasana rumah akan terasa aneh. Itu yang dia khawatirkan. Padahal, sejak awal Papa sudah memikirkan akan konsekuensi seperti ini. Membawa anak gadis ke rumah, sementara di sana ada seorang pria, bisa jadi malah tumbuh benih cinta. Apalagi anaknya secantik dan semanis Sukma. Iya, kan?" Hisyam lantas tertawa. Apalagi melihat wajah Nathan yang memerah.
__ADS_1
"Papa nggak marah?" tanya Nathan setelah berhasil mengontrol rasa malunya.
Hisyam menggeleng. "Nggak ada yang marah. Mamamu pun juga gitu. Perasaan itu murni dari hati, memangnya siapa yang bisa mengendalikan? Lagi pula, kalian kan bukan kakak adik kandung. Jadi sah-sah saja."
"Aku juga takut kalau Sukma tahu perasaan aku ke dia, Pa. Selama ini, dia nganggap aku kakaknya. Kalau dia tahu aku mencintai dia, dia pasti akan menjauh." Nathan menunduk sedih.
"Itu juga ketakutan mamamu. Respon Sukma akan perasaan kamu."
Nathan tiba-tiba melirik pada Papanya. "Papa kok bisa menebak pikiran Mama?"
"Feeling seorang suami, mungkin?" jawab Hisyam seadanya.
Nathan mendengus pelan. Pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. "Menurut Papa, aku harus gimana?" tanya Nathan.
"Jalan kalian masih panjang. Adik kamu bahkan baru mau masuk universitas. Umur kalian juga masih terlalu muda. Nggak ada salahnya, kisah hidup orang tua Sukma yang menikah muda dan mengalami kegagalan itu dijadikan pelajaran." Hisyam melirik sejenak ke arah Nathan.
"Kamu fokus pada karir kamu dulu, biarkan juga Sukma fokus menggapai cita-citanya dia. Kali ini, Papa akan ngomong sebagai Papanya Sukma. Selami perasaan kamu. Jarak yang kamu jadikan solusi pasti akan membantu kamu mengetahui. Apakah itu hanya perasaan sementara, atau akan bertahan selamanya. Papa akan dukung kamu juga dalam meraih yang terbaik di hidup kamu. Ingat, Nak. Jodoh nggak akan kemana."
Nathan mengangguk pelan. "Berarti, Papa nggak bakal marah jika suatu saat nanti aku akan melamar Sukma?" tanya Nathan memastikan.
Hisyam tertawa. "Marah, sih, enggak! Tapi ya, sudah pasti kamu harus melewati uji kecocokan dari Papa. Tapi bukan sebagai Papa kamu. melainkan sebagai calon mertua kamu."
Nathan perlahan mulai rileks. Pria itu bersyukur memiliki orang tua sebaik Hisyam dan Fifi. Nathan paham dengan pemikiran mamanya. Sama dengan Hisyam yang memahami istrinya itu. Nathan akan membuktikan pada Fifi, suatu saat nanti, dia akan bis bersanding dengan Sukma. Tanpa membuat gadis itu sakit hati seperti yang Fifi khawatirkan. Nathan tidak akan membiarkan orang tuanya kebingungan memilih. Kalau pun nanti dia dan Sukma bermasalah. Nathan akan sangat rela jika mereka lebih memilih berada di sisi Sukma. karena dengan begitu, kasih sayang mereka pada Sukma jelas terbukti sangat tulus.
"Sekarang, pikirkan. Langkah apa yang akan kamu ambil untuk menjamin kebahagiaan anak gadis Papa di masa depan. Papa akan melakukan penilaian objektif terhadap setiap pria yang mendekati Sukma. Karena Papa paham, saat di universitas, Sukma dengan karakter baru seperti itu akan sangat menarik di mata lawan jenis. Tidak peduli kamu anak Papa, Papa akan tetap memilihkan pria yang paling baik untuk Sukma. Jadi, nggak bakal ada sistem orang dalam."
__ADS_1
Nathan mendengus pelan, namun pria itu tetap tertawa mendengar ucapan Papanya.
"Kalau kamu menang lawan Papa hari ini, Papa akan berusaha membujuk Mama kamu untuk ngilangin ketakutan ya dia perlahan. Gimana? Tawaran yang bagus, kan?"