
Nathan dan Sukma kini tengah berdiri di depan jajaran snack. Memilih-milih, yang mana untuk diambil.
Memang sudah kebiasaan keduanya menyetok Snack sebanyak mungkin di rumah. Sebab waktu belajar Sukma selalu ditemani oleh aneka camilan yang mereka beli. Jika stoknya habis, kadang Nathan yang baru pulang dari kampus akan langsung berbelanja. Dia sangat tahu kebiasaan sang adik.
"Ice Cream mau beli, nggak?" tanya Nathan. Sukma menoleh sembari memasukkan Snack ke keranjang belanjaan.
"Iya, dong, Bang!" ujar gadis itu sembari tersenyum. Nathan yang gemas melihatnya, lantas mencubit kedua pipi sang adik. Sukma meringis, berpura-pura kesakitan.
"Abang jahat, ih! Nanti pipi aku jadi lebar, gimana?"
"Ya bagus, dong. Jadi makin cabi. Eh, kamu pasti nambah cantik deh, kalau pipinya cabi." Sukma mendengus. "Apaan, ih! Entar Abang malah sering nyubitin pipiku, lagi!"
Nathan tertawa menanggapinya. Pria itu kemudian mengajak Sukma ke tempat ice cream. Ponsel milik Nathan tiba-tiba berbunyi. Pria itu mengambilnya dari saku celana. matanya membesar saat melihat nama si pemanggil. Sudah lama juga orang itu tidak menghubunginya.
"Kamu pilih ice cream sendiri, bisa nggak, Dek? Abang mau angkat telpon dulu."
Sukma menganggukkan kepala. "Iya. Tenang aja!"
"Abang nggak akan lama, jangan ke mana-mana dulu habis itu. Nunggu Abang untuk bayar nanti," ujar Nathan memperingatkan.
"Iya, Abang, iya! Udah ah, sana, angkat telponnya."
Nathan berjalan menjauh dari Sukma. "Halo!"
"Saya tidak akan basa-basi. Bawa saya bertemu dengan Sukma."
Nathan melongo. Dia kemudian kembali mengecek layar ponselnya, memastikan kalau benar nama itu yang tertera di sana.
"maksud kamu apa?" tanya Nathan bingung.
"Saya mau, kamu mengatur pertemuan kami."
Nathan menggelengkan kepalanya. "Enggak. Saya takut kamu malah berbuat sesuatu pada Sukma."
"Saya sudah membantu kamu sejauh ini. Tapi kamu masih meragukan saya sampai sekarang? Jangan lupa, saya yang bergerak memberikan kalian segala bukti untuk membuat orang itu tertangkap."
Nathan menghembuskan napas kasar. "Saya hanya tidak ingin Sukma disakiti. Dia adalah permata di keluarga kami. Apa saya salah, melindunginya?" balas Nathan.
"Ya, ya, ya! Saya tahu. Saya sudah mengatakan sebelumnya, saya tidak akan pernah menyakiti Sukma. Kalau saya benar-benar menyakiti dia, untuk apa saya membantu kalian?"
__ADS_1
Nathan terdiam. "Sukma punya trauma. Dia takut bertemu orang baru."
"Hahahaha! Astaga!" Tawa dari orang di seberang sana terdengar, membuat Nathan menautkan alis bingung.
"Bodoh! Kamu berpikir saya orang baru di hidup Sukma? Kalau saya orang baru, mana mungkin saya bisa tahu nyaris semua tentang dia? Hah?"
Nathan langsung menegang. Menebak ada hubungan apa Sukma dengan orang ini. "Saya akan membantu kamu menemui Sukma. Tapi beritahu saya, ada hubungan apa kamu dengan Sukma."
"Saya sudah bilang ke kamu sebelumnya. Kamu hanya punya pilihan, dan tidak diberi kesempatan untuk mengajukan syarat ke saya. Tapi, saya akan menjawab sedikit saja pertanyaan kamu." Nathan menunggu ucapan Mr. Black selanjutnya.
"Saya orang penting bagi Sukma. Tidak perlu spesifik. Yang jelas, banyak peran saya di dalam hidup dia. Banyak kenangan saya yang saya ukir di lembar kehidupan dia. Jadi, segera pertemukan kami."
Setelah itu, sambungan telepon diputus sepihak. Nathan mencerna ucapan pria itu. Penting bagi Sukma? Kenangan? Cih! Nathan mengepalkan tangannya sebab kesal. Siapa pria itu sampai berani mengatakan seperti itu tentang Sukmanya?
***
Sukma melirik Nathan yang tengah menyetir dalam diam. Sejak tadi, pria itu malah jadi jarang berbicara. Wajahnya terlihat sangat masam, tak enak dipandang. Ingin bertanya, Sukma malah takut membuat abangnya risih.
Sementara Nathan, masih kesal akan perkataan Mr. Black tadi. Akhirnya dia malah cosplay jadi pendiam. Nathan tahu beberapa kali Sukma melirik ke arahnya. Pasti gadis itu penasaran, kenapa dia didiamkan.
Saat sudah di garasi, Nathan tak langsung turun untuk membuka pintu. Sukma pun juga. Siapa tahu saja Nathan ingin curhat dengannya. Jangan-jangan pria itu habis berantem sama pacarnya. Oh ya, tapi...abangnya itu punya pacar nggak, sih?
Sukma tersadar. "Eh, enggak, kok!" Gadis itu memberikan cengiran lebarnya.
"Jangan bohong!"
"Iya, iya! Aku cuma penasaran. Abang kenapa dari tadi jadi pendiam. Yang telpon Abang tadi, pacar Abang, ya?"
Nathan mendengus pelan. Pria itu tetap diam, tak menjawab pertanyaan Sukma. "Kalian marahan?" tanya Sukma lagi.
"Harusnya Abang yang tanya. Dia itu siapa kamu, sih?"
"Hah?" Sukma melongo. Tak mengerti dengan ucapan Nathan. "Abang ngomong apa, sih? Kok malah jadi aku?"
Nathan tersadar. Sukma mana tahu siapa yang menelponnya. Nathan menatap Sukma serius. "Abang penting nggak, bagi kamu?"
Ekspresi Sukma malah semakin bingung karena pertanyaan aneh Nathan. Mana tatapannya sangat serius, lagi.
"Ya penting, lah, Abang!"
__ADS_1
Nathan mengangguk pelan. "Selama ini, banyak nggak kenangan Sukma sama Abang. Kenangan manis, gitu!"
Sukma mengangguk, meskipun masih merasa Nathan aneh. "Banyak kok. Di danau, di pantai, di tempat belanja. Eh, di rumah juga, deh! Abang itu selalu memperlakukan aku dengan manis di mana aja. Kenapa emang, tanya begitu?"
Senyum Nathan mengembang mendengar ucapan Sukma. Hatinya seketika berbunga. Nathan yakin, kenangan manisnya lebih banyak di hidup Sukma di banding si Mr. Black itu.
"Tanya aja. Ya udah, ayo kita turun!" Wajah Nathan yang sejak tadi masam itu, kini berganti dengan wajah ceria seperti biasa.
"Aneh," gumam Sukma.
Gadis itu ikut turun dari mobil. membiarkan Nathan berjalan duluan membawa barang belanjaan mereka. Sukma diam-diam menatap punggung lebar Nathan. "Abang kenapa sih? Jadi aneh, begitu. Siapa ya, yang telpon tadi?"
Senyum Nathan luntur begitu saja saat memasuki rumah. Tiga orang yang selalu suka adu mulut dengannya itu ada di sana. Baru saja dia kesal dengan Mr. Balck perihal Sukma. Kini sudah ada mereka lagi, di sana. Nathan yakin, mereka akan terus-terusan menggoda Sukma.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Nathan sinis. Neo, Daniel, dan Leon yang sedang duduk di sofa sembari menikmati minuman dingin dan setoples kacang telur seketika menoleh bersama.
"Eh, udah pulang." Itu sambutan dari Neo.
"Astaga, Nat! Kamu mau buat warung apa gimana? Tuh snack kenapa banyak amat?" tanya Daniel.
Nathan mendengus. "Nggak usah sok-sokan kaget. Kalian juga sering kaya gini, kan, kalau datang ke sini biasanya."
Memang Daniel dan Neo kadang ke rumah Nathan dengan membawa Snack yang banyak untuk Sukma. Si Daniel itu cuma lagi akting, melebay-lebaykan suasana. Padahal dia tahu, kalau semua Snack itu milik Sukma.
Daniel hanya tertawa melihat wajah masam Nathan. "Eh, ada Adek Sukma. Makin cantik aja, Dek!" Pria itu turun dari Sifa, dan bermaksud mendekati Sukma. Sayangnya, Nathan langsung menghalangi. "Nggak usah genit, ya, Niel!" ujar Nathan tajam. Dia kemudian berbalik ke arah Sukma. "Kamu atur ini aja di kulkas. Jangan kelamaan di sini. Banyak biawaknya."
Sukma tertawa mendengar ucapan Abangnya. Meski begitu, gadis itu tetap menurut.
"Pelit amat, Bang! Padahal kita ke sini itu untuk main sama Sukma." Leon yang sejak tadi memperhatikan Daniel dan Nathan berujar.
"Sukma-Sukma! Panggil dia Kak, atau Mbak! Dia itu lebih tua dari kamu."
Leon mendengus. "Tua setahun doang. Ngapain manggil Kakak, atau Mbak. Masa calon pacar manggilnya gitu." Leon tahu Nathan pasti akan terpancing.
"Sukma nggak suka berondong." Tuh, Nathan pasti akan mengatakan itu. Nathan kalau sudah cemburu, malah berubah kaya anak kecil.
"Kan belum dicoba. Minggu depan aku bakal coba nembak Sukma, ah!"
"Nggak usah macam-macam Leon!" desis Nathan tajam.
__ADS_1