
Dewi menatap serius pada orang yang ia sewa tempo hari untuk memata-matai Sukma. "Maaf, Bu Dewi! Saya sudah berusaha, tapi ternyata sulit menembus dinding perlindungan keluarga Hisyam. Berhari-hari saya mengamati di depan rumah, tidak ada seorang gadis pun yang keluar dari sana."
Dewi menghela napas kecewa. Apa jangan-jangan Sukma sulit untuk keluar rumah dan tidak bisa berinteraksi dengan orang? Dewi tiba-tiba berubah khawatir.
Selepas kepergian mata-mata itu, Dewi menyandarkan tubuhnya di sofa. Berpikir kenapa Sukma tidak pernah keluar rumah. Atau mata-mata itu yang tidak becus bekerja?
"Ma!" Dewi tersentak kaget saat tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
Sementara Ayas, dia tadi mendapati Dewi melamun di sofa. Hal seperti itu sudah biasa, sejak papanya dipenjara.
"Ma, kita keluar yuk! Jalan-jalan gitu. Ayas lihat, Mama sering melamun di rumah. Kita jalan-jalan biar pikiran jadi segar." Ayas begitu menyayangi Dewi. Gadis itu tak tega jika Dewi terus-terusan dirundung kesedihan. Meskipun berkali-kali Dewi menyembunyikan kesedihannya.
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Dewi.
"Ke mana aja. Emm, gimana kalau kita makan di luar!" ajak Ayas.
Dewi mengangguk pelan. "Ya udah, Mama bersiap dulu kalau gitu." Dewi beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar. Ayas lun sama. Gadis itu ke kamarnya untuk bersiap.
Saat di kamar, mata Dewi tak sengaja menatap foto pernikahannya dengan Hans yang diletakkan di atas meja di samping ranjang. Wanita itu mendekati foto tersebut, kemudian menghela napas kasar. Air matanya tanpa sadar menetes. Dewi masih sulit menerima, betapa Hans sangat jahat padanya. Pria yang ia tahu mencintainya itu, ternyata mah nyaris membunuh darah dagingnya. Dewi membalikkan foto tersebut, dia tak sanggup menatapnya berlama-lama. Seandainya ini bukan rumah Hans, mungkin Dewi sudah menyingkirkan segala hal tentang suaminya itu.
Dewi tak bisa berbuat banyak. Hanya mampu membenci dalam hatinya saja. Dia masih tahu diri, Hans pernah menyelamatkan hidupnya dulu. Juga ada dua anak yang sejak kecil bersamanya, dan Dewi begitu menyayangi mereka. Memang sakit rasanya terjebak bersama orang yang selalu mengingatkan kita akan luka yang ia beri. Namun, Dewi tidak mungkin meninggalkan Atas dan juga Apin begitu saja. Sebab, tak akan lagi yang bisa mereka jadikan tumpuan. Hanif Arganta memang ada dan siap membantu dua ponakannya. Namun, Dewi yakin kalau dua anak itu tidak akan mau. Mengingat anak Hanif Arganta ikut masuk penjara akibat perbuatan Hans.
Selesai mempersiapkan diri, Dewi dan Ayas pergi dari sana. Apin masih di sekolah, sementara Ayas, gadis itu untuk kesekian kalinya tidak masuk kuliah.
"Kamu kenapa nggak masuk kuliah lagi, Nak?" tanya Dewi saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ayas yang menyetir, sementara Dewi sedang memperhatikan anak gadisnya itu. Ayas terlihat makin kurus. Sejak dulu, Ayas memang memiliki badan yang kalau dikatakan anak jaman sekarang adalah tubuh ideal. Dengan berat badan 48 kg dengan tinggi 170 cm. Meski menurut orang tua itu terlalu kurus, namun untuk anak muda itu malah tubuh idaman kaya mereka. Namun, sekarang Ayas malah terlihat lebih kurus dari itu. Pipinya yang sebelumnya terlihat lumayan berisi--taksebanding dengan tubuhnya--kini malah menirus. Dewi baru sadar, sekedar perhatiannya untuk Ayas tak cukup. Gadis itu mungkin tengah menyembunyikan kesedihannya pula. Entah karena memang tak ingin Dewi tahu, atau karena tak mau mengeluh sebab kelakuan sang ayah yang melukai ibu sambungnya itu.
"Ayas belum mau kuliah, Ma. Ayas bahkan berencana mau cuti dulu," ujar gadis itu.
Dewi terperanjat. "Loh, kenapa? Kamu kan bentar lagi mau masuk semester tujuh."
Ayas menghela napas berat. "Nggak tahu, Ma. Rasanya kok Ayas malas ya, berangkat ke kampus."
__ADS_1
"Kamu malu?" tanya Dewi.
Ayas tak menjawab. Gadis itu menipiskan bibirnya, seolah enggan mengeluarkan kata-kata. Ayas sebenarnya tidak malu, karena teman-temannya hanya tahu dia anak orang kaya. Tidak ada yang tahu keluarganya, sebab dia tidak memakai marga.
Dewi pun memilih tidak membahasnya lagi. Wanita itu menatap ke luar jendela, melihat pemandangan di luaran sana. sebenarnya tidak ada yang spesial. Sebab, ini siang hari dan mataharinya sangat terik.
Ayas menghentikan mobilnya di sebuah Restoran Jepang. Keduanya kemudian keluar dari sana. Saat akan menuju meja, seseorang tak sengaja bertabrakan dengan Ayas.
"Eh, maaf, Mbak! Saya nggak sengaja!" ujar gadis yang menabraknya itu.
***
"Dek, makan di luar, yuk!" Nathan yang baru pulang dari kampus, langsung mengajak Sukma yang tengah bermalas-malasan di sofa untuk makan siang di luar.
Fifi lagi tidak berada di rumah. Wanita itu lagi berkunjung ke kantor Hisyam untuk membawakan bekal makan siang.
"Tapi Mama udah masak, Bang!" ujar Sukma. Dia sebenarnya mau, tapi Fifi tadi sudah memasak untuk makan siangnya bersama Nathan nanti. Sebab hari ini, Nathan hanya masuk kuliah pagi saja.
"Ya udah, aku siap-siap dulu kalau gitu."
Sepanjang jalan, keduanya banyak bercerita. Terlebih Nathan, yang dengan senang hati menceritakan bagaimana kehidupan kampus pada Sukma. Sukma juga terlihat antusias mendengarkan. Dia tak sabar untuk bisa sekampus dengan Nathan.
"Kita makan di sini aja, gimana?" Nathan menunjukkan gambar salah satu Restoran Jepang yang ada di ponselnya.
"Terserah Abang aja. Kan, Sukma cuma ngikut."
Nathan memarkirkan mobilnya di parkiran yang telah disediakan. Pria itu kemudian turun, dan beralih ke pintu satunya untuk membukakan pintu. Hal kecil yang selalu Nathan lakukan pada Sukma sebagai bentuk perhatiannya.
Sukma mengucapkan terima kasih. Nathan mengangguk, lalu menggandeng tangan gadis itu ke dalam Restoran.
Saat menunggu pesanan datang, Sukma tiba-tiba merasa ingin buang air kecil.
__ADS_1
"Bang, aku mau ke Toilet bentar."
"Ayo!" ajak Nathan. Sukma langsung menggeleng. "Ya nggak perlu diantar juga, kan, Bang? Sukma udah gede, ini!" protes gadis itu.
Nathan mendengus pelan. "Kalau kamu tersesat gimana?" tanya Nathan khawatir.
"Ya enggaklah! Kan banyak orang yang bisa Sukma tanyain." Sukma paham Nathan tidak ingin melepaskannya pergi sendirian. Pria itu pasti takut, kalau traumanya bisa kambuh. Padahal, Sukma sudah merasa dirinya sehat. Dia tidak lagi merasa ketakutan ketika bertemu orang baru.
"Tapi tetap aja, Abang khawatir. Abang antar, ya, Dek? Kan Abang nunggu di luar!"
Sukma tetap bersikeras menggeleng. "Enggak. Kalau kaya gitu, kapan Sukma bisa mandiri? Masa ke toilet aja harus diantar?"
Nathan menghela napas kasar. Pria itu mengalah. Mungkin Sukma risih kalau ke toilet harus ditemani. "Ya udah. Bawa ponselnya. kalau ada apa-apa, langsung telfon Abang."
Sukma mengangguk. Gadis itu tersenyum geli, karena perlakuan Nathan padanya.
Selesai dari Toilet, Sukma bermaksud mendekati Nathan. Gadis itu tak sengaja melihat bajunya terciprat air kran saat dia mencuci tangan tadi. Sukma menunduk melap dengan tangannya, tidak memperhatikan jalan. Tubuhnya terhuyung ke belakang saat tak sengaja menabrak seseorang. Sukma langsung tersadar, dan seketika merasa bersalah.
"Eh, maaf, Mbak! Saya nggak sengaja." Sukma meringis. Berkali-kali mengangguk meminta maaf. Gadis itu menatap takut-takut ke arah orang yang ia tabrak.
Seorang gadis dan seorang perempuan paruh baya. Mungkin ibu dan anak.
"Maaf, Mbak. Saya nggak merhatiin jalan, tadi. Mbak nggak apa-apa?" Sukma kembali mengucapkan kata maaf.
"Eh, nggak apa-apa, kok. Saya juga nggak merhatiin jalan tadi." Gadis itu menjawab perkataan Sukma dengan senyuman. Ketiga orang tersebut menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.
Nathan yang menyadari kalau gadis yang berkali-kali mengangguk meminta maaf itu adalah Sukma, dengan cepat mendekat.
"Dek, kenapa?" Nathan menggandeng bahu Sukma. Matanya menatap ke arah dua orang yang berhadapan dengan Sukma. Nathan melotot saat menyadari siapa yang di depannya, gadis itu pun juga sama.
"Laras?"
__ADS_1
"Nathan?"