
Nathan mengangkat panggilan dari Mr. Black dengan buru-buru. Leon meminta meloudspeaker dan mendapat balasan gelengan dari Nathan. Leon memberi kode agar Nathan mengikuti permintaannya, "angkat aja. Dia juga kenal aku, kok!" ujar Leon.
Nathan akhirnya menurut. "Halo!" sapa Nathan.
"Dua bukti sudah saya kantongi, saya akan memberikannya dengan syarat beritahu saya tentang Sukma."
Nathan menghembuskan napas pelan. "Sukma berada di bawah perlindungan kami. Dia gadis yatim piatu yang tidak memiliki keluarga, jadi kami mengambil alih hak asuh dan mengurusnya."
"Hahahaha, kalian pikir saya sebodoh itu? Ayolah! Saya tahu kalian bukan dari dinas sosial."
Nathan menatap Leon yang kini memasang senyum miring. "Sudah aku bilang, dia tahu tentang kita. Termasuk aku," ujar Leon pelan.
"Oke, aku akan kasih informasi tentang Sukma dengan syarat kamu harus jelaskan kenapa membantu pihak kami."
Nathan mendengar Mr. Black berdecak di seberang sana. "Saya tidak suka tawar menawar. Hubungan saya dengan Sukma itu rahasia kami, dan tidak ada hubungannya dengan kalian."
"Kalau begitu, aku nggak akan ngasih tahu apapun tentang Sukma ke kamu."
__ADS_1
"Hahaha, yakin? Bukti sama saya ini sangat kamu perlukan, loh! Lagipula, saya tidak akan mencelakakan Sukma. Kamu hanya perlu tahu, kalau Sukma adalah salah satu orang yang berarti di hidup saya."
Nathan terdiam mempertimbangkan. "Oke, tapi aku butuh waktu untuk mendiskusikan dengan beberapa orang sebelum mengiyakan permintaan kamu."
"Bagus. Saya kasih kamu waktu satu malam, karena jika lebih dari itu, bukti ini bisa lenyap."
"J...jangan. Itu satu-satunya harapan kami, jadi tolong. Aku akan segera bicarain ini ke mereka, tapi aku mohon, bukti itu tolong jaga baik-baik." Nathan berujar terbata, khawatir jika Mr. Black memang nekat menghilangkan bukti itu.
"Saya tunggu info dari kamu besok pagi." Setelahnya, sambungan telepon diputus sepihak oleh Mr. Black.
Leon mengangkat bahunya sembari tersenyum kecil. "Pertimbangin baik-baik. Tapi kayanya, dia nggak akan macam-macam."
"Kamu sudah tahu siapa dia?" tanya Nathan curiga. Leon kembali memasang senyum di bibirnya. "Hmm. Tapi aku nggak akan ngasih tahu identitasnya ke kalian. Karena rahasia identitasnya akan berguna untuk mengancam dia suatu saat jika kubutuhkan."
"Menurutmu, apa dia berbahaya?" tanya Nathan lagi. Leon mengedikan bahunya, "entahlah. Sepertinya enggak. Tapi, apa kepentingannya di balik ini semua, aku nggak tahu."
Nathan mengangguk pelan. "Aku akan bicarain ini dengan Bokap sama asistennya juga. Takutnya malah salah langkah, dan bahayain Sukma."
__ADS_1
Leon mengangguk pelan. "Itu keputusan kalian. Aku akan ikut aja, gimana nanti." Leon menyadari dia bukan siapa-siapa di sana, dia hanya bisa membantu apa yang ia bisa saja. Itupun dengan imbalan.
"Aku rasa, bukti yang dia maksud bisa jadi bisa melengkapi yang aku temukan tadi. Kalau kita dapat bukti itu, kayanya titik terangnya makin kelihatan. Soalnya Mr. Black tadi sempat bilang, selangkah lagi kita akan berhasil. Dan aku percaya gitu aja sama kata-katanya."
Nathan mengerutkan alisnya. "Dia bilang gitu?"
Leon mengangguk. "Hmm. Dia kelihatan sangat optimis. Selain ada hubungan dengan Sukma, aku rasa dia ada dendam tersendiri dengan kepala sekolah. Anehnya, dia seperti sangat mengenal kepala sekolah. Bahkan dia tahu, kalau aku berada dalam pengawasan pria tua itu."
"Berarti, dia juga lagi ngamatin pergerakan kepala sekolah, kan?"
Leon menganggukkan kepalanya. "Benar. Mungkin dia udah lama ngawasin kepala sekolah, dari sebelum kita."
Nathan menatap Leon Lamat-lamat. "Kamu benaran nggak mau ngasih tahu siapa dia? Bayarannya bisa aku tambah, loh!"
"Nggak. Aku nggak tergoda besarnya bayaran yang kamu tawarkan. Nanti juga pasti kalian bakal tahu sendiri, kan?"
Nathan menghela napas kasar. Itu pilihan Leon, dan dia hanya bisa pasrah saja. Lagi pula, benar kata Leon. Pasti seiring berjalannya waktu mereka pasti bisa tahu siapa Mr. Black sebenarnya.
__ADS_1