Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Sulit Mengontrol Emosi


__ADS_3

"Kamu datang juga, ternyata!" Hisyam menyambut seorang pria remaja yang baru saja diantarkan oleh sekretarisnya.


Pria itu menatap Hisyam bingung. "Anda mengenal saya?"


Hisyam mengangguk. "Tentu saja saya kenal. Seno Arganta. Anak dari Hanif Arganta, dan keponakan dari Hans Arganta yang saat ini menjabat sebagai kepala sekolah di SMA Hilton. Tapi murid di sana, lebih mengenal kamu sebagai anak dari kepala sekolah. Apa info ini masih kurang? Atau masih ada lagi?"


Seno menatap pria di depannya dengan wajah pucat. Dia jelas tahu siapa pria itu. Rajendra Damar Al-Hisyam, pengusaha kaya raya yang wajahnya sering terpampang di majalah bisnis. Seno memang berminat di bidang bisnis. Sejak SMP, sang ayah sering mengajaknya ikut pertemuan dengan rekan kerjanya. Wajah Hisyam sudah sering Seno lihat, karena pria paruh baya itu sering jadi target pengusaha lain untuk menjalin kerja sama--termasuk ayah Seno sendiri.


"Sebenarnya apa yang anda inginkan, sampai-sampai memancing saya datang ke sini? Setahu saya, saya tidak pernah berurusan dengan anda sebelum ini."


Hisyam mengangguk pelan. "Kamu memang tidak pernah berurusan dengan saya sebelum ini, tapi ada seseorang yang sangat penting di hidup saya, yang pernah kamu sakiti."


Seno terdiam sembari berpikir. Apa jangan-jangan salah satu siswa yang ia bully adalah anak Hisyam? Tapi seingatnya, Hisyam hanya memiliki satu anak laki-laki dan itu lebih tua beberapa tahun darinya.


"Saya tidak mengerti maksud anda," sanggah Seno.

__ADS_1


"Kamu mengerti. Saya memancing kamu dengan nama Siska, jelas bisa membuat kamu mengerti masalah sebenarnya."


Seno seketika diam. Pikirannya langsung tertuju pada masalah yang akhir-akhir ini memang mengganggu kehidupan tenangnya.


"Nggak mungkin," gumam Seno pelan. Sayangnya, hal tersebut malah tertangkap di telinga tajam Hisyam.


"Semua hal bisa menjadi mungkin di dunia ini. Kamu nggak lupa, kan, hal itu?" Hisyam tersenyum miring menatap remaja di depannya yang kini terlihat sangat kentara sedang ketakutan.


"Sukma, kamu pasti kenal nama itu, kan?"


"Saya cuma ingin kamu bekerja sama dan bertanggung jawab atas semua perbuatan kamu ke dia."


Seno tertunduk. Sekian lama, akhirnya ada yang berani menyebut nama gadis itu di depannya. Sukma, gadis yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali. Rasa yang membuat masa remajanya terasa begitu berwarna. Sayang, gadis itu sangat sulit untuk digapai. Sampai akhirnya Seno berbuat bodoh. Mengikuti permintaan orang lain demi untuk dapat membuat Sukma menyukainya. Dia salah. Setelah semuanya, Sukma malah menghilang entah ke mana. Namun Seno tau, hilangnya Sukma pasti orang itu yang sudah merangkai jalan ceritanya.


Tanpa sadar, air mata Seno sudah mengalir. Penyesalannya menyakiti Sukma dua tahun lalu, langsung menyeruak. Membuat isakan pria itu mulai terdengar. Seno terduduk di atas lantai yang dingin. Sejak kejadian itu, dia memang tak masuk sekolah selama tiga hari. Seno merancang rencana di rumahnya, berniat meminta maaf pada Sukma dan akan bertanggung jawab jika Sukma mau menuntutnya. Namu, saat ia masuk sekolah, Sukma sudah tidak di sana. Pria tua itu juga mengancamnya dengan berbagai macam ancaman, hingga Seno akhirnya memilih diam. Hanya saja, akhir-akhir ini si pria tua mulai terlihat gelisah, meskipun Seno sudah tak peduli akan semua ancamannya. Ternyata, dia ketakutan sebab berhadapan dengan seorang Rajendra Damar Al-Hisyam.

__ADS_1


"Bangun! Kenapa kamu menangis? Ah, saya lupa! Kamu, kan, memang laki-laki pengecut. Jadi, saat ketahuan seperti ini sudah tidak heran kalau kamu menangis."


Seno tahu, Hisyam tengah menghinanya. Tapi benar, dia memang laki-laki pengecut. Jika dia laki-laki gentle, dia akan berusaha membuat Sukma menyukainya. Bukan malah menodai gadis itu.


"Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya. Tapi saya mohon, izinkan saya mengetahui kabar Sukma." Seno berujar lirih. Dia tahu, Hisyam pasti akan menolak permintaannya itu. Tapi dia tetap berusaha, sekalipun Hisyam memintanya bersujud nanti.


Suara tawa Hisyam terdengar, membuat Seno semakin tertunduk. Ya, dia patut ditertawakan memang. Dia yang menyakiti Sukma, itu tandanya dia ikut andil akan menghilangnya Sukma. Lalu, dia ingin tahu kabar Sukma sekarang? Bukannya itu lucu?


"Katakan pada saya, kamu siapa? Yang harus mendengarkan kabar tentang Sukma?" tanya Hisyam mengejek.


"Kamu nggak berhak tahu. Kamu itu cuma penj4h4t k3l4m1n yang nggak tahu diri. Nggak pantas tahu apapun tentang Sukma, sekalipun itu hanya kabar."


Seno memejamkan matanya mendengar hinaan Hisyam. Tapi, melihat pembelaan Hisyam pada Sukma sampai sebegitunya, Seno berharap Sukma sekarang sudah bahagia dengan kehidupannya.


"Kamu cuma punya pilihan, bicara sendiri atau saya akan membuatmu bicara secara paksa. Ingat, kamu cuma punya pilihan, dan tidak berhak memberikan opsi pilihan." Bayangan akan Sukma yang ketakutan, serta bagaimana pria itu menyentuh sang anak tanpa memedulikan tangisannya, membuat Hisyam sulit mengontrol emosinya. Untung saja, Hisyam bukanlah orang yang suka main hakim sendiri. Terlebih pria di hadapannya ini masih remaja.

__ADS_1


__ADS_2