
Jangan gegabah, dan jangan berpikir berdasarkan data seadanya!!
Pesan itu Nathan dapatkan saat dia tengah berada di kampus. Pesan yang berasal dari nomor Mr. Black setelah kemarin nomor itu mengirimkannya satu nama untuk diselidiki.
Nathan menatap pesan tersebut lama. Berusaha mencari tahu maksud yang terkandung di dalamnya.
"Kenapa, Nat?" Tepukan Daniel di bahunya membuat Nathan tersentak.
"Mr. Black!" Nathan memperlihatkan pesan tersebut pada Daniel. Neo yang penasaran ikut mengintip ke layar ponsel Nathan.
"Riana Kusuma? Itu nama siapa?" tanya Daniel saat menggeser isi chat tersebut.
"Itu nama yang dikirim sama si Mr. Black. Dia nyuruh nyelidikin nama itu. Entah apa hubungannya dengan Sukma," jawab Nathan.
"Terus gimana?"
"Papa tadi baru nelpon, katanya Om Sapto udah ada info tentang nama ini. Terus ada sesuatu yang sedikit gawat gitu, entah apa."
__ADS_1
Daniel dan Neo mengangguk pelan. "Terus pesan ini? Jangan-jangan info yang didapat sama Om Sapto salah? Sampai-sampai si Mr. Black ngasih peringatan gini?"
Tanya Neo dengan bisikan pelan. Nathan menatap Neo, dan menghembuskan napas kasar. "Entahlah. Pulang dari sini, aku rencana mau nyamperin bokap di kantor."
"Kita ikut! Siapa tau kita bisa bantu," ujar Neo. Daniel mengangguk, "iya. Kita juga mau bantu."
Seperti yang direncanakan, sepulang dari kampus, tiga pemuda tersebut langsung meluncur menuju perusahaan Hisyam.
"Ada apa, Nat?" tanya Hisyam langsung. Nathan kemudian memperlihatkan isi chat dari Mr. Black tadi pada sang Ayah.
"Info yang didapat Om Sapto aku rasa nggak sepenuhnya valid, Pa. Pasti ada sesuatu, sampai Mr. Black bilang kaya gini."
Nathan menggeleng. "Aku, tahu, Pa!" ujarnya. "Memangnya, info dari Om Sapto bagaimana?" tanya Nathan.
Hisyam seketika teringat masalah Riana tersebut dan menghembuskan napas kasar. "Riana mengonsumsi nark0b4, makanya dikeluarkan dari sekolah. Sekarang dia disekolahkan ayahnya ke luar negeri. Lebih tepatnya di Singapura, sebab di sana ada neneknya. Dan sebagai hukumannya juga, Riana dilarang berkomunikasi dengan teman-temannya di Indonesia sini juga." Hisyam menjelaskan seperti yang dikatakan Sapto dan yang tertulis di dalam map yang dibawah asistennya itu tadi.
"Dan yang lebih mengejutkannya, Riana berteman dengan adik kamu. Itu sebabnya, Sapto meminta kita untuk melakukan tes pada Sukma, bisa saja semua yang ia alami karena pernah mengonsumsi obat terlarang itu."
__ADS_1
Nathan dan dua sahabatnya terkejut seketika. Nathan menggeleng, "Pa, astaga! Pemikiran dari mana itu?" tanya Nathan tak terima.
"Enggak, bukan. Enggak ada yang nuduh adik kamu. Tapi, bisa aja kan, Riana ini membuat Sukma mengonsumsi obat tersebut diam-diam?"
Nathan tetap menggeleng. "Pa, melakukan tes nggak akan berpengaruh apa-apa. Papa lupa, Sukma itu mengonsumsi obat penenang dari dokter? Jadi, kemungkinan besar hasilnya akan positif."
Hisyam terdiam. Benar juga yang dikatakan Nathan. "Aku yakin, pesan dari Mr. Black ini adalah untuk kita nggak melangkah gegabah."
"Nat, Om, aku punya saran. Aku kenal salah satu anak spesial yang kayanya kita bisa minta bantuan dia akan kasus ini." Semua mata langsung tertuju pada Neo.
"Anak spesial? Indigo?" tanya Daniel. Neo mendengus, "bukan. Dia bukan seperti anak biasa. Dia bisa dijadikan mata-mata. Anaknya licik, pintar memanipulasi keadaan dan pandai bela diri. Gimana?"
Nathan dan Hisyam saling pandang. "Siapa?" tanya Nathan.
"Leon, anak Om Harris. Anak dari saudara mamaku. Ayahnya tentara, dan sejak kecil dia sudah dilatih ayahnya berbagai macam bela diri dan kepekaan terhadap keberadaan musuh. Sekarang dia duduk di kelas 2 SMA, aku akan berusaha bujuk dia untuk ikut dalam misi kita."
"Kamu yakin dia mau?" tanya Hisyam ragu.
__ADS_1
"Dia pasti mau. Soalnya kemarin aku dengar dia lagi butuh duit buat beli kursi game," ujar Neo diikuti tawa kecilnya.
Hisyam mengangguk. "Oke, itu masalah gampang. Kamu hubungin dia aja kalau gitu. Masalah bayaran, Om jelas akan membayarnya dengan jumlah besar jika dia berhasil mendapatkan informasi penting dari sekolah itu."