Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Bukti


__ADS_3

"Hai, Sukma!" Leon menyapa gadis yang berdiri di ambang pintu itu dengan wajah ceria.


Sukma mengerutkan dahinya bingung, wajah di depannya ini seperti tak asing, namun Sukma lupa dia siapa.


"Leon, ingat?" Leon yang menyadari kebingungan gadis itu akhirnya kembali menyebutkan namanya.


"Oh, iya, iya! Aku ingat. Ayo masuk!" Sukma membuka pintu dengan lebar, kemudian mempersilahkan Leon masuk. Pria itu menganggukkan kepalanya pelan sebagai respon.


"Bang Nathan ada?" tanya Leon sembari menoleh pada Sukma yang berjalan di sampingnya.


"Ada kok, kamu tunggu sini dulu. Nanti aku panggilin." Sukma kemudian mempersilahkan Leon untuk duduk menunggu di sofa ruang tamu.


"Aku tinggal bentar, ya!" pamit Sukma, gadis itu kemudian menaiki anak tangga untuk menuju kamar Nathan. Abangnya itu belum terlalu lama pulang dari kampus.


"Bang!" Sukma mengetuk pintu kamar Nathan.


"Iya? Masuk!"


Sukma membuka pintu tersebut, dan masuk ke dalam. Ia menggelengkan kepalanya pelan melihat Nathan yang tengah berbaring di atas kasur dengan sepatu yang masih terpasang di kakinya. Kalau Fifi yang melihatnya, mungkin saja wanita itu sudah berteriak kesal karena tingkah sang anak.


"Bang, ada tamu di bawah. Mau ketemu Abang!"


"Siapa? Cewek apa cowok?" tanya Nathan. Pria itu bangun dari posisinya, menatap sang adik penuh tanya.


"Cowok. Yang waktu itu, loh. Siapa yah, namanya tadi? Aku lupa. Lion? Leo? Oh, iya. Leo namanya."

__ADS_1


Nathan terkekeh pelan, saat menyadari Sukma salah menyebutkan nama. "Leon, Dek! Bukan Leo apalagi Lion."


Sukma menjentikkan jarinya, "nah, itu! Dia datang, nyari Abang."


Nathan mengangguk pelan. Pria itu melepas sepatu dan kaus kakinya, dan meletakkannya begitu saja di bawah ranjang.


"Bang, ih! Taruh di rak sepatu, jangan taruh sembarang. Kalau Mama lihat, dia pasti marahin Abang!" peringat Sukma.


Nathan tertawa pelan, dan mengelus rambut gadis itu dengan lembut. "Iya, iya! Nggak mau banget ya, dengar Abang diomelin Mama?" goda Nathan.


Sukma mendengus pelan, "bukan! Tapi kasian Mama, ngomel terus gara-gara Abang!"


Nathan langsung mengerucutkan bibirnya. "Bilang iya, kek, biar Abang senang."


Sukma menggelengkan kepalanya pelan, "ayo! Kasian Leo kelamaan nunggu Abang!"


"Iya, itu maksud aku." Keduanya kemudian keluar dari sana.


"Ayo, kita bicara di ruang kerja bokap!" ujar Nathan saat sudah sampai di depan Leon.


"Dek, ke dapur sana! Minta Bibi buatin Abang sama Leon minuman." Nathan sengaja menyuruh Sukma menjauh, agar gadis itu tak mendengar percakapan mereka.


"Iya. Nanti dianterin ke ruang kerja Papa?" tanya Sukma.


Nathan menggeleng. "Taruh di sini saja nanti. Kita ngobrolnya nggak akan lama, kok!"

__ADS_1


Sesampainya di ruang kerja Hisyam, Nathan langsung menatap Leon dengan wajah serius. "Ada kemajuan?" tanya Nathan.


Leon mengangguk pelan. "Aku nemuin ini di ruangan Kepala Sekolah!" Leon meletakkan map berwarna biru yang ia ambil di ruangan kepala sekolah itu di atas meja.


Nathan membuka map tersebut, dan menautkan alisnya. "Data milik Sukma?"


Leon mengangguk pelan. "Terus, apa yang patut dicurigai dari ini? Bukannya wajar, ada data siswa di ruangan Kepala Sekolah?" tanya Nathan dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Nggak akan mencurigakan jika di sana bukan hanya data Sukma saja."


"Maksudnya di ruangan itu hanya ada berkas tentang Sukma saja? Yang lainnya nggak ada?"


Leon mengangguk. "Iya. Dan Abang buka di halaman terakhir. Di sana, ada foto milik Sukma dan Ayahnya terselip di sana. Setahuku, kalau data siswa biasa, nggak akan ada foto pribadi kaya gitu di sana."


Nathan membukanya, dan benar. Di sana ada foto seorang pria yang tengah menggendong anak kecil perempuan yang Nathan perkirakan berumur 2 tahunan. Di belakang foto tersebut tertulis 'Me and My Hero' dengan tinta berwarna biru. Tulisannya pun sudah sedikit pudar.


"Mencurigakan. Tapi, kita bukannya nggak bisa menjatuhkan tuduhan hanya dengan berkas ini, kan? Selain ini, kamu nemuin apalagi?" tanya Nathan penasaran.


Leon menggeleng pelan. "Sayangnya enggak ada apa-apa lagi yang aku temuin."


Nathan menghela napas berat. Keduanya sama-sama terdiam, memikirkan segala asumsi yang mulai timbul di dalam benak.


TING!


Ponsel milik Nathan berdenting, pertanda ada pesan masuk. Nathan melirik ponselnya, dan matanya membulat saat melihat siapa yang mengiriminya pesan.

__ADS_1


Mr. Black


'Bukti yang ada padaku lebih berguna daripada yang didapatkan orang utusanmu itu'


__ADS_2