
🌟🌟🌟
Tiara pergi dari kamar Nunik menuju ruang makan disana sudah ada Bram.
"Riko nggak makan bareng kita?" tanya Tiara.
"Dia mau makan dikamar aja, katanya dia lelah".
"Apa makanannya sudah diantar?" Tanya tiara balik.
"Belum mah, nanti diantar oleh pelayan".
Tiara dan Bram sudah selesai makan tapi Tiara memperhatikan belum ada satu pelayan pun yang datang mengambil nasi untuk dibawa kekamar Riko.
"Papa duluan kekamar ya aku mau mengantar nasi untuk Riko, kasian pasti dia juga sudah lapar" ucap Tiara sambil mengambil nasi dan lauk kedalam piring.
"Yaudah Papa duluan ya Mah" Bram meninggalkan Tiara yang sedang sibuk dengan aktivitasnya.
Tiara berjalan keatas menuju kamar Riko dan Mala.
Tok... Tok... Tok...
Sebelum masuk Tiara mengetuk pintu dahulu.
Klek...
Mala membuka pintu dan melihat sang mertua membawa piring berisi nasi.
"Ini untuk siapa Ma" Tanya Mala saat Tiara menyerahkan makanan itu kepada Mala.
"Riko belum makankan? suruh dia makan ya jangan sampai nasinya dingin, mama mau turun dulu" ucap Tiara.
"Terimakasih Ma"
Riko datang dari kamar mandi, setelah selesai dengan ritual mandinya Riko langsung menghampiri sang istri yang saat ini duduk diatas sofa.
Mala memberikan piring itu kepada Riko, Riko segera menghabiskan makanan itu dengan lahap.
"Lapar ya sayang kok lahap banget?".
"Iya sayang, hari ini aku tidak bersera makan karena kamu tidak ada disampingku" goda riko satu tangannya memegang pipi Mala yang sudah mulai berisi.
"Nggak ada alasan lain ya selain menggombal gitu?" Tanya Mala.
"Nggak ada sayang, memang itulah alasan yang paling tepat"
__ADS_1
*****
Hari ini Riko beserta Bram menghadiri sidang untuk Jeni, Riko dan Bram memasuki ruangan sidang dan melihat muka Jeni yang pucat.
Tapi saat Jeni melihat kedatangan Riko amarah pada dirinya kembali datang, Riko dapat melihat kemaran dimata Jeni tapi dia berpura-pura tidak tau.
"Kasian kamu Jen, aku tau kamu orang baik tapi akal sehatmu hilang saat orang yang kamu sayangi pergi dari hidup mu" batin Riko.
Riko dan Bram duduk dikursi dengan tenang menyaksikan tahap demi tahap dari sidang tersebut sampai sidang itu selesai dan hakim memutuskan hukuman untuk Jeni.
"Sidangnya sudah selesai kita pulang sekarang pah" ajak Riko tidak mau lama-lama diruangan itu.
Bram hanya mengikut ucapan Riko dan mengikuti langkah kaki Riko.
Didalam mobil Nunik menunggu Riko dan Bram dan sampai saat ini Nunik masih setia menjadi supir pribadi untuk Riko.
"Nik kita pergi sekarang" ucap Riko setelah duduk dikursi penumpang.
"Sebentar lagi ya, saya ingin melihat Jeni walau hanya dari jauh" jawab Nunik dengan raut wajah yang sedih.
10 menit kemudian Jeni keluar dari ruangan sidang dengan dikawal oleh polisi 2 tangan Jeni diborgol, saat Nunik melihatnya tanpa terasa air matanya jatuh melihat sahabatnya masuk kedalam penjara.
"Jika kamu ingin menjumpainya, jumpailah bagaimana pun dia butuh pelukan" ucap Riko mengerti dengan isi hati Nunik.
"Tidak usahlah aku tau bagaimana sifatnya dia, dia pasti masih marah padaku, kita pergi saja" Nunik menjalankan mobilnya dan mulai menjelajahi jalan kota.
Nunik menjalankan mobil itu sesuai dengan ucapan Riko, kini mobil itu sudah memasuki perkarangan rumah Riko, Bram langsung turun dan memasuki rumah.
Riko turun dari mobil untuk menjemput Mala dari rumah, kebetulan Mala sedang menunggunya diruang tamu.
"Sayang kamu jadi ikut kekantor kan?" tanya Riko.
"Iya aku ikut, tapi tunggu disini dulu ya aku mau ambil tas dan hp ku dari kamar dulu" ucap Mala lalu berlari kearah tangga menuju kamarnya.
"Sayang jangan lari" teriak Riko panik saat melihat Mala berlari walau sudah diatas tangga dan tidak memperhatikan jalannya.
"Iya aku nggak lari kok" jawab Mala berteriak dari lantai atas kini bumil itu sudah sampai dilantai 2 dengan cepat.
"Mulai besok kita akan pindah kamar kelantai satu" ucap Riko saat Mala sudah kembali dari kamarnya sambil menenteng tas kecilnya yang hanya muat dompet beserta HP.
"Kenapa pindah yank?" Tanya Mala tidak mengerti dengan ucapan Riko.
"Lihatlah cara jalan mu bagaimana? aku lihat aja kamu berani berlari menaiki tangga, apalagi nggak ada aku lihat" omel Riko sambil membuka pintu mobil untuk Mala.
"Baru kali ini aku berlari sayang dari kemaren-kamaren aku nggak pernah berlari" jawab Mala saat Riko sudah memasuki mobil.
__ADS_1
"Kita langsung kekantor ya Nik".
"Karena baru pertama aku lihat kan, pokonya mulai malam ini kita pindah kekamar tamu aja, aku nggak mau ambil resiko" ucap Riko tetap pada keputusannya lalu menyenderkan punggungnya kebadan kursi.
"Terserah kamu ajalah yank, aku ngomong juga kamu nggak percaya" ucap Mala pasrah.
Mobil itu sudah memasuki kawasan kantor MM Riko dan Mala turun, sedangkan nunik pergi menemui orang tuanya.
"Kalau mau pulang telfon aku ya, aku ada urusan sebentar" ucap Nunik lalu menjalankan mobilnya membelah jalan Raya hingga Nunik sampai disebuah rumah berlantai 3 yang sangat megah.
Saat penjaga rumah melihat Nunik datang, penjaga rumah itu langsung membuka gerbang untuk Nunik.
Nunik langsung masuk menemui papanya diruang keluarga.
"Ada apa Papa menyuruhku datang?" Tanya Nunik to the point.
"Papa mau hari ini kamu temani Papa menghadiri rapat para pemegang saham di perusaan MM" ucap Rio tegas.
"Tapi aku nggak mau pah, aku nggak mau disuruh-suruh terus, aku mau hidup bebas" Nunik Mencoba melawan.
"Tidak ada tapi-tapian sekarang kamu ganti baju kita berangkat" ucap Rio, mau tidak mau nunik harus mengikuti ucapan papanya.
10 menit Nunik sudah siap dengan stelan kantornya, Rio membawa Nunik untuk rapat karena Rio menanam saham diperusaan MM atas nama Nunik.
*****
Kini Nunik sudah stay kembali kekantor MM untuk menjemput Riko dan Mala.
"Lama amat sih keluarnya dua bocah itu" gerutu Nunik saat melihat Jam sudah menunjukkan pukul 5.30 tapi dua sejoli itu belum ada tanda-tanda mau muncul.
Tidak sabar menunggu akhirnya Nunik ketiduran sampai Riko dan Mala datang mengetok kaca mobil.
"Kalian lama amat sih, udah Jam 6 ini kok baru pulang" omel Nunik.
"Aku yang jadi bos disini, kok kamu yang marah?" Tanya riko.
"Nggak ada bos-bos disini kita itu sama saja" begitulah setiap hari Nunik berbicara kepada Riko.
"Istrimu saja sudah jadi teman ku nggak mungkin kamu jadi bos ku" ucap Nunik lagi.
"Kalau Mala teman mu besok temani kami belanja perlengkapan bayi kamu yang jadi asistennya".
"Kalau masalah itu gampang, serahkan padaku saja" ucap Nunik lagi.
"Cepat jalankan mobilnya banyak cerita mu" ucap Riko, Mala hanya tertawa mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
...Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Ya...